::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Melihat Bentuk Awal Masjid Nabawi

Sabtu, 26 Mei 2018 16:00 Hikmah

Bagikan

Melihat Bentuk Awal Masjid Nabawi
Masjid Nabawi adalah masjid kedua yang paling dimuliakan umat Islam, setelah Masjid al-Haram. Hal ini berdasarkan sebuah hadist Nabi Muhammad saw. yang berbunyi: Janganlah kalian berkunjung kecuali pada tiga masjid, yakni Masjid al-Haram (Makkah), Masjidku ini (Nabawi di Madinah), dan Masjid al-Aqsha (Palestina). 

Hadist tersebut menunjukkan keutamaan ketiga masjid tersebut, beserta urutan. Bahkan, dalam hadist lainnya Nabi Muhammad saw. menegaskan bahwa siapa saja yang beribadah di Masjid maka pahalanya akan dilipatgandakan hingga seribu kali lipat. Maka tidak mengherankan jika jutaan umat Islam mengunjungi masjid ini untuk mendapatkan keberkahan dan pahala yang berlipat, terutama pada musim haji. 

Namun apakah kita sadar bahwa Masjid Nabawi pada masa-masa awal tidak lah semegah dan seluas seperti saat ini. Pada saat awal dibangun, masjid ini begitu sederhana dan apa adanya. Masjid Nabawi dibangun Nabi Muhammad saw. pada 622 Masehi atau setelah kedatangannya di kota Madinah.   

Masjid Nabawi adalah masjid kedua yang dibangun Nabi Muhammad saw., setelah Masjid Quba. Dalam Sirah Ibnu Hisyam, Nabi Muhammad saw. ikut turun tangan langsung dalam proses pembangunannya. Bukan hanya sekedar memberi komando, beliau juga menggali tanah, mengangkut dan mengaduknya.   

Merujuk buku Arsitektur Masjid, luas masjid saat pertama kali dibangun Nabi Muhammad saw. hanya sekitar 805 meter persegi, bentuk denahnya bujur sangkar, dan kiblatnya mengarah ke Yerusalem. Sehingga dinding kiblat berada pada batas halaman di bagian utara.

Suffah –semacam ruang serbaguna dan biasanya dibuat singgah sahabat yang tidak memiliki rumah- dibangun di sepanjang dinding sebelah selatan. Bilik-bilik tempat tinggal istri Nabi Muhammad saw. didirikan di bagian barat dinding masjid. Sehingga dalam sejarah perkembangannya, perluasan Masjidi Nabawi selalu ke arah timur.

Sementara itu, al-Ghazali dalam Fiqhus Shirah mengemukakan bahwa panjang masjid mencapai 100 dzira’ (hasta), berbentuk bujur sangkar, dan dinding kiblat berasal dari kayu kurma. Disebutkan juga bahwa dinding-dinding bagian lain dibuat dari tanah liat yang dikeringkan. Masing-masing dinding –kecuali dinding kiblat- dilengkapi dengan gerbang sederhana tanpa daun pintu untuk akses keluar dan masuk jamaah.  

Muhammad Husain Haekal dalam Sejarah Hidup Muhammad menambahkan bahwa Masjid Nabawi pada saat itu merupakan ruang terbuka yang luas, atapnya terdiri dari daun dan pelepah kurma  –sebagian lain terbuka, dan temboknya terbuat dari batu bata dan tanah. Di samping itu, pilar-pilarnya terbuat dari kayu batang kurma yang sederhana. Selama masa Nabi Muhammad saw. dan empat khalifah Islam,  tidak ada mihrab pada dinding kiblat Masjid Nabawi.

“Tidak ada penerangan di dalam masjid itu. Bila malam hari tiba, saat dilaksanakan shalat jamaah Isya, para Muslimin hanya membakar jerami. Keadaan seperti ini berlangsung selama sembilan tahun. Baru kemudian dipergunakan lampu-lampu yang dipasang pada batang kurma penopang atap masjid itu,” ungkap Fanani dalam bukunya Arsitektur Masjid. 

Meski begitu sederhana, Masjid Nabawi menjadi pusat segala aktivitas umat Islam pada saat itu. Mulai dari belajar Islam hingga menyusun siasat perang melawan musuh. Bahkan sebagaimana catatan dalam buku Historical Site of Madinah Munawarrah (Tempat-tempat Bersejarah di Madinah), Nabi Muhammad saw. menerima dan menemui para utusan yang datang di Masjid Nabawi ini. (A Muchlishon Rochmat)