::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ayyuha al-Walad, Nasihat Penting Imam Al-Ghazali kepada Murid

Ahad, 27 Mei 2018 16:00 Pustaka

Bagikan

Ayyuha al-Walad, Nasihat Penting Imam Al-Ghazali kepada Murid
Tugas seorang pencari ilmu adalah menuntut ilmu, bukan menunggu ilmu karena ilmu tidak datang tapi didatangi. Namun siapa yang tahu ilmu mana yang akan bermanfaat kelak. Andaikata ia tahu kelak akan menjadi apa, tentu ia akan mempersiapkan bekal mulai dari sekarang.Apakah salah jika kita mempelajari ilmu yang kelak tidak kita pergunakan? Apakah hidup kita akan sia-sia dalam mencari ilmuyang tak sesuai dengan profesi kita kelak? 

Pemikiran dan kegelisahan semacam ini pernah dirasakan oleh salah seorang murid Imam Al-Ghazālī. “Saya telah membaca bermacam-macam ilmu pengetahuan. Lalu, manakah ilmu yang bermanfaat bagiku esok? Dan menghiburku di alam kubur? Dan manakah yang tidak bermanfaat bagiku sehingga aku dapat meninggalkannya. Sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selalu berdoa :ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat ”

Kegelisahan inilah yang melatar belakangi seorang murid Al-Ghazālī untuk memberanikan diri menulis surat pada guru sekaligus murabbī-nya (pendidik) dan mengutarakan seluruh kegelisahannya untuk meminta nasihat dan doa dari gurunya dengan permintaan khusus agar gurunya tersebut senantiasa berkenan menuliskan jawaban suratnya meski karangan-karangan Imam Al-Ghazālī seperti ihyā‘ulumiddīn telah mengandung jawaban pertanyaannya. Akhirnya Imam Al-Ghazālī memenuhi permintaan muridnya tersebut dalam kitab mungil ini.

Nama lengkap pengarang kitab ini adalah Muhammad ibn Muhammad Abu Hamid Aṭ-Ṭūsī seorang ahli fikih, ahli tasawuf, filosof sehingga beliau mendapat gelarhujjah al-Islām (Argumentasi Islam). Nama beliau dinisbatkan pada ghazalah sebuah nama desa di kota Ṭūs oleh karenanya beliau lebih dikenal dengan sebutan Al-Ghazālī.

Ayyuhā al-Walad, “Hai anakku”. Nama kitab yang sederhana nan unik ini, mengajak muridnya laksana anak sendiri. Mengindikasikan bahwa hubungan mereka bukan sekadar antara guru dan murid tapi lebih pada kasih sayang bapak pada buah hatinya agar relasi antara keduanya layaknya hubungan kausalitas yang tak mungkin terpisahkan sehingga tak ada alasan untuk menolak petuah-petuah yang mengalir dari lisan agung gurunya. Kitab ini memang ditujukan khusus atas permintaan murid Imam Al-Ghazālī, namun isi kandungan nasihat-nasihatnya bersifat umum pada setiap insan yang sedang menempuh jalan Allah. Kitab ini sangat cocok untuk dijadikan rujukan khususnya bagi para pencari ilmu.

Kitab mungil ini merupakan limpahan kasih sayang seorang guru pada muridnya. Kita bisa mengatakan bahwa Imam Al-Ghazālī tidak hanya mengajarkan ilmu pada muridnya melainkan disertai dengan pendidikan moral, akhlak dan spiritualnya. Bagaimana cara menyampaikan nasihat-nasihatnya beliau sangat bijak tidak hanya memaparkan inti-inti nasihatanya tapi juga disertai dengan contoh-contoh dan pengalaman-pengalaman orang terdahulu yang dapat dijadikan teladan atau 'ibrah dan dikuatkan dengan dalil-dalil dari al-Qur’an dan al-Hadist.

Imam Al-Ghazālī dalam karya ini juga mengutip perkataan ulama terdahulu seperti As-Syiblī,beliau berkata :”Saya telah berkhidmat kepada empat ratus orang guru, dan saya telah membaca empat ribu hadis nabi, kemudian saya memilih satu buah hadis saja, hadis tersebut saya amalkan sementara yang lainnya saya tinggalkan. Mengapa demikian? Karena setelah saya berfikir, saya menjumpai bahwa keselamatan saya lantaran mengamalkan hadis tersebut. Hadis tersebut adalah sabda nabi sebagai berikut:

اعمل لدنياك بقدر مقامها فيها، واعمل لأخرتك بقدر بقائهك فيها، واعمل لله بقدر حاجتك اليه، واعمل للنار بقدر صبرك عليها

“Beramallah untuk duniamu selama engkau tinggal disitu dan beramallah untuk ahkiratmu sebanyak masa tinggalmu, dan beramallah bagi Allah sekedar kebutuhan pada-Nya, dan beramallah bagi neraka sekedar kesabaranmu menghadapinya.”

Intisari dari penggalan hikayat di atas tidaklah perlu kita mencari ilmu yang banyak tanpa diaplikasikan dalam kehidupan. Yang terpenting adalah apa tujuan kita mencari ilmu, karena yang diperhitungkan adalah niat baik kita. Sementara kita tidak bisa melompati takdir yang telah ditetapkan oleh yang Maha Kuasa.

Dalam kitab ini Imam Al-Ghazālī memaparkan bahwa untuk menempuh jalan Allah haruslah mempunyai pembimbing dan bagaimana ciri-ciri orang yang patut dijadikan sebagai pembimbing dijelaskan secara detil dalam kitab ini. Beliau juga menjelaskan bahwa tasawwuf itu memiliki dua sifat yakni istiqamah dan bersikap tenang menghadapi manusia. Maka, barangsiapa yang beristiqamah dan berbaik budi terhadap orang-orang dan memperlakukan mereka dengan bijaksana, maka ia adalah seorang sufi.

Kewajiban orang yang akan menempuh jalan yang benar adalah melakukan empat hal berikut: Pertama, i’tikad yang benar yang tidak dicampur dengan bid’ah. Kedua, taubat yang sungguh-sungguh dengan mengunci mati semua kemungkinan kemaksiatan. Ketiga. Meminta keridaan dari semua lawan dan musuh, dan keempat, mempelajari ilmu dunia dengan tujuan haknya untuk memperlancar perintah Allah dan mempelajari ilmu ahkirat yang dapat menyelamatkanmu dari semua macam bahaya dan siksa api neraka.

Hakikat ubudiyah, tawakkal dan ikhlas semuanya dijawab Imam Al-Ghazālī dalam kitab ini, dan bagaimana cara kita agar terhindar dari sifat riya, berikut adalah jawabannya: Obat penangkal riya adalah dengan berasumsi bahwa seluruh makhluk itu berada dibawah kekuasaan-Nya. Sepanjang kamu masih mempunyai perasaan dan pengertian bahwa ada zat yang lebih tinggi di atasmu, maka selama itu kamu dapat terhindar dari sifat riya.

Di antara nasihat Imam Al-Ghazālī kepada muridnya adalah janganlah engkau menjadi juru penasihat dan menjadi seorang juru pengamat kecuali bila engkau telah mengamalkan apa yang engkau katakan itu terlebih dahulu. Di dalam kitab ini dijelaskan bagaimana menjadi penasihat yang baik apabila terpaksa harus menjadi penasihat atau muballigh, dan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang muballigh.

Benar apa yang dikatakan Imam Al-Ghazālī bahwa nasihat itu mudah, yang sulit adalah pengamalannya. Sebab nasihat itu akan terasa pahit bagi orang yang memperturutkan kehendak nafsunya.  Namun hidup tanpa nasihat akan hampa karena nasihat akan mengingatkan hati bagi orang yang berpengetahuan.

Kitab ini sangat cocok bagi mereka yang merasa haus akan nasihat, karena kitab ini berisikan nasihat, wejangan, petuah, bimbingan, dan arahan Hujjatul Islām,  Imam Al-Ghazālī untuk membangkitkan jiwa kita dalam meraih keridaan Allah swt dan Rasul-Nya. Selamat Membaca!


Peresensi adalah Nila Mannan, Santriwati Ma’had Aly Sukorejo Situbondo

Identitas Buku
Nama kitab: Ayyuhā al-Walad
Pengarang: Abū Hāmid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazālī
Penerbit: Dār al-Ihyā
Tebal: 24 hal