::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Dari Thailand, Membumikan Aswaja di Asean (3-habis)

Ahad, 27 Mei 2018 20:30 Daerah

Bagikan

Dari Thailand, Membumikan Aswaja di Asean (3-habis)
Jember, NU Online
Indonesia termasuk Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara  atau lebih populer dengan sebutan Association of Southeast Asian Nations (Asean). Dan pertukaran pelajar antara santri Nurul Islam (Nuris), Antirogo, Jember, Jawa Timur dengan sejumlah lembaga keagamaan di Asean ternyata  mempunyai tujuan yang cukup mulia. Yaitu demi penetrasi ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) di negara tetangga tersebut. 

Sebagaimana diketahui, sejak tiga tahun lalu, Nuris aktif  menggelar pertukaran pelajar  dengan lembaga keagamaan di Malaysia, Thailand dan Singapore.  Program tersebut dikemas dalam Nuris Student Exchange Programe (NSEP).

Sejumlah pelajar Nuris dikirim ke tiga negara tersebut untuk belajar budaya sekaligus memberikan pencerahan tentang Aswaja. Begitu pun sebaliknya, lembaga keagamaan di sejumlah negara tersebut mengirimkan wakilnya ke Nuris untuk belajar kebudayaan dan sebagainya. Waktunya hanya sebulan. Dan di antara  tiga negara tersebut, yang paling aktif  adalah Thailand.

Selain pertukaran pelajar yang selama sebulan, Nuris juga memberikan beasiswa kepada puluhan pelajar Thailand untuk belajar agama di pesantren ini. Diharapkan, kelak mereka dapat menjadi penyebar Aswaja yang tangguh di negaranya.

“Sebab, di Thailand kitab-kitab dibumihanguskan, dan minim sekali guru-guru agama yang mumpuni,” kata Imam Sainusi, Sabtu (26/5). 

Sehingga kehadiran Nuris adalah demi mencetak sumber daya manusia. “Agar para santri dari tiga negara, khususnya Thailand tersebut bisa membumikan Aswaja di negaranya kelak,” tutur Direktur Nuris International Office ini kepada NU Online di kompleks Nuris.

Saat ini di Nuris setidaknya terdapat 16 santri asal Thailand. Mereka nyantri dan masuk di Madrasah Aliyah Unggulan Nuris. Selama berada di pesantren seluruh biaya pendidikannya dibebaskan, termasuk asrama dan biaya hidup 

Menurut Imam Sainusi, Islam yang diajarkan di pesantren-pesantren Indonesia umumnya, termasuk di Nuris adalah  toleran dan moderat. Dan itu cocok diterapkan di negara manapun.  

Sehingga pemerintah Thailand atau siapapun tak perlu berpikir para santri akan jadi Muslim radikal, apalagi teroris. “Sebab yang kami ajarkan adalah Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah, Islam Nusantara, Islam yang rahmatal lil ‘alamin. Bukan Islam yang membawa kerusakan dan memusuhi orang yang tidak sepaham,” tegasnya.

Imam Sainusi menambahkan, tahun ini direncanakan sekitar 10 pelajar Thailand akan segera nyantri di pesantren yang diasuh KH Muhyidin Abdusshomad yang juga Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Jember tersebut. Dan setiap tahun, Nuris merencanakan mendatangkan pelajar Asean untuk didiik Islam ala Aswaja (Aryudi Abdul Razaq/Ibnu Nawawi)