::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Khadijah binti Khuwailid, Sang Penyejuk Hati Nabi

Senin, 28 Mei 2018 15:00 Hikmah

Bagikan

Khadijah binti Khuwailid, Sang Penyejuk Hati Nabi
Saat Jibril turun membawa wahyu pertama, Nabi sangat gemetar dan khawatir. Beliau bergegas pulang menuju kediamannya dengan rasa takut. Nabi meminta istrinya, Khadijah binti Khuwailid untuk membawakan selimut. Khadijah menenangkan, menyelimuti suaminya. Setelah mulai tenang, Nabi menceritakan apa yang dialaminya di gua Hira kepada Khadijah.

Nabi khawatir apa yang dialaminya dari setan. Khadijah kembali menenangkan dan menyanggah kekhawatiran suaminya, ia bilang kepada Nabi:

كَلاَّ  أَبْشِرْ فَوَ اللهِ  لَا يُخْزِيْكَ اللهُ إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَصْدُقُ الْحَدِيثَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ

“Tidak mungkin. Demi Allah, Allah tidak akan merendahkanmu. Sesungguhnya engkau menyambung persaudaraan, jujur dalam berucap, menanggung orang lemah, menjamu tamu dan membantu kesulitan-kesulitan hak orang lain.”

Untuk kembali meyakinkan suaminya, Khadijah mengajak Nabi menemui saudara sepupu Khadijah, Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza. Waraqah dikenal sebagai orang beragama Nasrani yang menguasai isi kitab Injil, tentunya Injil yang masih orisinal. Waraqah menulis ulang Injil dengan bahasa Ibrani. Saat ditemui Nabi dan Khadijah, Waraqah sudah tua dan buta.

Baca juga: Non-Muslim yang Berjasa kepada Rasulullah
“Wahai anak pamanku, dengarkan apa yang dikatakan saudaramu (Muhammad),” tutur Khadijah membuka obrolan dengan Waraqah. Kemudian Nabi menceritakan apa yang beliau alami kepada Waraqah. Setelah mendengar pengaduan Nabi, Waraqah menimpali:

إِنَّهُ النَّامُوْسُ الَّذِيْ كَانَ يَنْزِلُ عَلَى مُوْسَى، وَيَا لَيْتَنِيْ أَكُوْنُ حَيًّا إِذْ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ

“Sesungguhnya yang mendatangimu adalah sosok malaikat yang turun atas Nabi Musa. Semoga saya masih hidup saat engkau diusir kaummu.”

Nabi bertanya menegaskan:

أَوَ مُخْرِجِيَّ هُمْ ؟

“Apakah mereka akan mengusirku?”.

Waraqah melanjutkan penjelasannya:

نَعَمْ لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمِثْلِ مَا جِئْتَ بِهِ إِلَّا عُوْدِيَ، وَإِنْ يُدْرِكْنِيْ يَوْمُكَ أَنْصُرْكَ نَصْرًا مُؤَزَّرًا، 

“Iya benar. Tidak ada seorang pun laki-laki yang membawa risalah sepertimu kecuali dimusuhi. Jika aku menemui hari pengusiranmu kelak, aku akan menolongmu dengan sungguh-sungguh”.

Cita-cita luhur Waraqah untuk menolong suami sepupunya tidak terealisasi. Tak lama kemudian, Waraqah meninggal dunia.

Khadijah sangat yakin dan cermat membaca kerasulan Nabi. Saat Nabi masih bimbang dan cemas, Khadijah memantapkannya. Dari itu, Khadijah disebut sebagai mujtahid pertama perempuan dalam sejarah Islam, sebab Khadijah berijtihad dan menggali tanda-tanda kerasulan suaminya sebelum diangkat menjadi Rasul sebagai tanda-tanda atas kebenaran risalahnya.

Baca juga: Kesaksian Pendeta Buhaira atas Kenabian Muhammad
Khadijah sangat tenang dan menyejukan. Ia seperti layaknya ibu bagi Nabi di saat Nabi merasakan kebimbangan yang maha dahsyat. Para ulama ‘ârifin (tajam mata batinnya, red) menegaskan, “Khadijah adalah ibu orang-orang beriman, termasuk bagi Rasulullah”, sebab pada saat itu Nabi sangat membutuhkan sosok ibu dibandingkan istri. Khadijah benar-benar mengambil peranannya sebagai ibu bagi Nabi, ia merawat, menenangkan, dan setia berada di samping Nabi saat situasi yang betul-betul sulit. (M. Mubasysyarum Bih)


Disarikan dari Syekh Mutawalli al-Sya’rawi, Qashash al-Shahabat wa al-Shalihin, Kairo, al-Maktabah al-Taufiqiyyah, halaman 148).