NU: IDUL FITHRI 1439 H MENUNGGU HASIL RUKYAH KAMIS 14 JUNI 2018::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Jelang Lebaran, Permintaan Tahu Tuna Produk Santri Tremas Meningkat

Rabu, 30 Mei 2018 19:00 Pemberdayaan

Bagikan

Jelang Lebaran, Permintaan Tahu Tuna Produk Santri Tremas Meningkat
Tahu Tuna produksi santri Tremas Pacitan
Pacitan, NU Online
Sejak tahun 2016, pesantren Tremas Pacitan Jawa Timur menggeluti usaha produk olahan hasil tangkap laut, tahu tuna. Menjelang lebaran, permintaan tahu tuna produksi para santri ini meningkat pesat.

Pesanan tahu tuna berlabel Voka ini mengalami peningkatan beberapa kali lipat bahkan melebihi bulan-bulan sebelumnya. Konsumen tahu tuna tidak hanya masyarakat lokal Pacitan, namun juga dari luar daerah.

"Alhamdulillah, berkah bulan Ramadhan ini, pesanan tahu tuna meningkat pesat," kata Handoko Budi Utomo, penanggungjawab produksi tahu tuna saat ditemui NU Online di pesantren Tremas, Rabu (30/5).

Dia mengatakan, makanan berbahan dasar tahu yang diisi adonan ikan tuna segar ini banyak diburu konsumen. Bentuk produk olahan makanan beku ini sangat digemari masyarakat, selain kandungan proteinnya tinggi, juga harga yang ditawarkan relatif murah.
 
"Tahu tuna menjadi idola karena dapat dijadikan sebagai makanan yang dapat memenuhi protein keluarga," ucapnya.

Untuk menggenjot produksi tahu tuna, dia mengkaryakan sepuluh orang santri. Dalam sehari dia biasa memproduksi ratusan bungkus tahu tuna.

Untuk bahan baku, dia berbelanja tahu putih dari pabrik tahu yang berada di sekitar pesantren. Tahu putih kemudian dia goreng dan di dalamnya diberi isi adonan tuna. Sementara ikan tuna diambil dari nelayan di Pacitan.
 
Tahu tuna, lanjutnya, dibuat melalui serangkaian proses sehingga makanan dapat bertahan dalam beberapa waktu tanpa mengubah cita rasa makanan tersebut. Tahu tuna yang dikemas dan dibekukan dalam  freezer bersuhu 0° celcius ini dapat bertahan hingga lima bulan.

"Cara menghidangkannya cukup praktis. Tinggal digoreng kembali selama beberapa menit sesudah itu langsung dapat dikonsumsi," jelasnya.

Prospek bisnis tahu tuna, menurutnya, sangat luas. Pasar produk tahu tuna masih terbuka lebar, baik di pasar tradisional hingga pasar swalayan. Dengan semakin berkembangnya teknologi pangan dan minat serta pandangan masyakarat terhadap makanan beku, daya jual makanan ini semakin meningkat. Satu bungkus tahu tuna dijualnya dengan harga Rp8.000.

"Walaupun kami masih dalam tahap perintisan tapi Alhamdulillah produk kami sudah banyak dikenal masyarakat," katanya.

Di Pacitan sendiri saat ini sudah menjamur usaha produksi tahu tuna. Persaingan produksi pangan semakin menambah variasi produk makanan beku di pasaran.

"Untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang semakin beragam. Saat ini kami juga menambah varian produk, seperti bakso ikan dan nugget ikan," imbuhnya.

Peluang untuk membuka usaha pembuatan tahu tuna masih terbuka lebar. Siapapun dapat melakukannya karena bisnis ini dapat dijalankan dengan modal yang tidak terlalu besar.

"Tergantung kemauan kita. Kalau kita bersungguh-sungguh membuka usaha. Insya Allah tuhan akan membukakan jalan," ucapnya.

Selain memproduksi tahu tuna, Pesantren Tremas juga memberikan pelatihan pengolahan makanan atau tata boga kepada para santri. Pelatihan ini digelar untuk memberdayakan para santri agar semakin terampil dalam bidang tata boga, khususnya mengolah hasil laut. (Zaenal Faizin/Muiz)