::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Pancasila, Persembahan Indonesia untuk Peradaban Dunia

Sabtu, 02 Juni 2018 05:00 Nasional

Bagikan

Pancasila, Persembahan Indonesia untuk Peradaban Dunia
Jakarta, NU Online
Dewan Pertimbangan Presiden KH Yahya Cholil Staquf atau biasa dipanggil Gus Yahya mengatakan, konflik antar-identitas dan antar-peradaban yang terjadi di berbagai belahan dunia saat ini telah mengarah kepada kegentingan global. Perlu ‘resep yang mujarab’ untuk mengurai kemelut tersebut.

Menurut Gus Yahya, bangsa Indonesia memiliki ‘resep’ itu, yakni Pancasila. Soekarno (Presiden Indonesia pertama) dan KH Abdurrahman Wahid (Presiden Indonesia keempat) senantiasa ‘mempromosikan’ Pancasila di dunia internasional. 

“Soekarno tak kenal lelah menyeru kepada dunia agar menengok kepada Pancasila sebagai persembahan bangsa Indonesia bagi peradaban dunia,” kata Gus Yahya dalam sebuah rilis yang diterima NU Online, Jumat (1/6).

Menurut Katib ‘Aam PBNU ini, para pendiri bangsa (founding parents) Indonesia telah menyusun ‘formula’ untuk mengatasi persoalan multi dimensi yang mendera dunia global seperti saat ini. Mereka memiliki visi dan cita-cita yaitu mewujudkan peradaban mulia bagi seluruh umat manusia sebagaimana yang tertera –baik tersurat atau tersirat- di Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) RI Tahun 1945.

“Ini adalah wawasan yang sangat dibutuhkan oleh dunia,” tegasnya.

Baginya, bangsa Indonesia memiliki modal dan kekuatan untuk membantu seluruh umat manusia keluar dari kemelut yang menderanya dan mewujudkan peradaban dunia yang lebih baik ke depan.

Dia menambahkan, Indonesia juga memiliki kekayaan peradaban yang besar yang diwarisi dari generasi sebelumnya, di samping kekayaan ekonomi. 

“Saya berharap, segera bangkit kesadaran seluruh anak bangsa, terutama para pemimpin, bahwa kita sebagai satu bangsa tidak sedang sekedar mengarungi lautan gejolak dunia untuk mencari keselamatan bagi diri sendiri saja,” terangnya.

“Hanya kita, bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang memiliki warisan visi dan cita-cita agung yang secara gamblang dijabarkan dan secara tegas dikukuhkan sebagai konsensus bangsa seperti itu,” urainya. (Muchlishon)