::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Merombak Kejahiliyahan Menuju Kehidupan yang Lebih Bermartabat

Sabtu, 02 Juni 2018 19:33 Opini

Bagikan

Merombak Kejahiliyahan Menuju Kehidupan yang Lebih Bermartabat
Oleh KH Ahmad Ishomuddin

Beliau adalah Sayyiduna (penghulu kita) Muhammad bin Abdullah yang sebelum diutus menjadi Rasulullah (utusan Allah) untuk semua umat manusia hanyalah seorang anak yatim. Sejak kecil, jika tidak salah sejak usia 8 tahun, hingga usia 40 tahun, yakni selama 32 tahun berprofesi sebagai pedagang.

Beliau lahir dan hidup di lingkungan sosial Arab yang jahiliyah, masyarakat yang kehilangan jati diri kemanusiawiannya. Kehidupan sosial Arab yang berkabilah-kabilah membuat fanatisme kesukuan menjadi berlebihan, sehingga untuk memertahankan eksistensinya antar kabilah saling berkompetisi secara tidak sehat, saling merendahkan dan tidak jarang terlibat konflik berdarah-darah yang menelan korban harta benda, kehormatan dan jiwa.

Setiap suku membangga-banggakan kesukuannya untuk merendahkan dan menghinakan yang lainnya. Watak mereka yang keras kepala dan sulit disatukan, mungkin karena mereka hidup di lingkungan pegunungan bebatuan keras dan di padang pasir tandus, seperti bulir-bulir pasir yang senantiasa bercerai berai, sulit dipersatukan karena tidak ada semen perekat yang memersatukannya.

Sebelum menjadi Rasulullah, beliau sebagai pedagang bukan saja berniaga di negerinya sendiri, namun perjalanan niaganya memasuki pasar kaum Nasrani di Syiria dan kaum Majusi di Persia. Dalam dunia perniagaan itu beliau bermitra dan berinteraksi langsung dengan non Muslim yang kondisinya juga seperti masyarakat Arab jahiliyah, masyarakat yang kehilangan jati dirinya.

Tempat beliau lahir dan tempat-tempat yang dikunjunginya merupakan lingkungan padang pasir tandus dan gersang dengan iklim panas yang membakar kulit dan iklim dingin yang menusuk tulang, telah membentuk watak keras dan kejam para suku di sana, jauh dari saling menyayangi dan tidak pula bisa saling menghormati. Mereka yang kuat bukan melindungi yang lemah, tetapi menindas dan mendiskriminasinya.

Kekuatan pada masa itu didominasi oleh kaum laki-laki, sedangkan perempuan tidak lebih hanyalah komoditas yang bisa dipertukarkan, dilacurkan, tidak dihormati dan bahkan para bapak saat itu sangat malu atau marah bila mendapat kabar bahwa istrinya melahirkan bayi perempuan. Entah karena dosa apa sehingga bayi-bayi perempuan pun saat itu mereka bunuh dan mereka binasakan. Barangkali karena bagi mereka para perempuan hanyalah pemuas nafsu saja atau dipandang menjadi beban berat dalam setiap usaha yang memerlukan keperkasaan kaum laki-laki. Kehidupan jahiliyah itu adalah kehidupan bebas tanpa batas antara laki-laki dan perempuan, tidak berlaku aturan penghormatan dan penghargaan laki-laki terhadap kaum perempuan.

Saya bayangkan sesuai isyarat ayat-ayat Al-Qur'an, bahwa saat itu dominasi yang kuat atas yang lemah sudah sangat berlebihan, sehingga yang ada di tengah masyarakat adalah bahwa yang kuat itu menzalimi pihak yang lemah dan tentu keadilan pun tidak ditegakkan. Orang-orang fakir, miskin, para janda, dan anak-anak yatim tidak mereka pedulikan. Sementara itu penyair menjadi pujaan, sebagaimana para penyanyi selebritis saat ini, dan dukun tukang sihir menjadi panutan mereka seperti paranormal masa kini, sedangkan minuman keras dan makanan haram biasa menjadi jamuan kehidupan sehari-hari mereka.

Pendek kata pada masa jahiliyah itu paganisme hidup subur, perolehan materi adalah tujuan hidup manusia, sedangkan hawa nafsu telah menjadi tuhan mereka (kita juga?).

Pada suasana seperti itulah Sayyiduna Muhammad diutus menjadi Rasulullah yang kepadanya wahyu berupa ayat-ayat Al-Qur'an diturunkan oleh Allah melalui perantaraan Malaikat Jibril yang sangat bisa dipercaya. Beliau pun menjelaskan maksudnya sebagai cahaya terang yang menyinari hati dan akal pikiran masyarakat Arab yang saat itu diliputi oleh tabir kegelapan hidup.

Rasulullah SAW membangkitkan kesadaran akan pentingnya melakukan perubahan secara bertahap ke arah yang lebih bermanfaat dan bermartabat atas segala nilai lama yang penuh kepalsuan, kezaliman, kerja sama dalam perbuatan dosa dan saling permusuhan dan sebagainya dari tradisi-tradisi primitif yang destruktif dan tak beradab.

Beliau membangkitkan kesadaran bahwa setiap orang adalah pemimpin yang wajib bertanggung jawab atas kepemimpinannya itu di hadapan Allah. Beliau mengajarkan akan pentingnya menegakkan keadilan tanpa tebang pilih dan tanpa pandang bulu, yang andai kata Fatimah putri beliau sendiri mencuri pasti beliau sendiri yang akan memotong tangannya.

Beliau juga membangkitkan kesadaran bahwa manusia itu sama saja, makhluk yang setara, dan tidak boleh saling merendahkan atau mendiskriminasi satu orang terhadap lainnya. Kemuliaan manusia tidak lagi diukur berdasarkan perbedaan jenis kelamin, asal usul kesukuan, warna kulit, bahasa, kekayaan harta benda, melainkan berdasarkan ukuran yang jelas, yakni yang paling bertakwa kepada Allah, sedangkan hanya Allah saja yang Maha Mengetahui siapa yang paling bertakwa kepada-Nya.

Beliau mengajarkan agar setiap manusia saling menghormati, saling berdamai, saling menyayangi, saling nasehat menasehati untuk melaksanakan kebenaran, bersabar dan berkasih sayang.

Sungguh, beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia dan beliau adalah manusia yang berhasil dan menjadi suri teladan untuk penerapan ajaran Islam yang benar-benar menjadi rahmat bagi semesta alam. Ajaran Islam yang beliau bawa dipenuhi oleh segala kemuliaan agar umat manusia yang berkenan melaksanakannya dengan benar bisa menjadi mulia dan berbahagia baik di dunia maupun di akhirat nanti.


Penulis adalah Rais Syuriyah PBNU