::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Kisah Ali Sastroamijoyo, Sukiman dan Bung Hatta Terkait Al-Qur'an

Ahad, 03 Juni 2018 23:15 Hikmah

Bagikan

Kisah Ali Sastroamijoyo, Sukiman dan Bung Hatta Terkait Al-Qur'an
Kisah masa kecilnya dengan Al-Qur'an menjadi inspirasi bagi seorang Perdana Menteri Indonesia kedelapan Ali Sastroamijoyo. Saban sore selepas sekolah, ibunya mewajibkan Ali mengaji Al-Qur'an. Masa kecilnya yang mbeling itu membuatnya pernah mendapatkan teguran keras daro sang ibu sebab kesukaannya bermain ketimbang mengaji.

"Jangan bikin malu akan priyayi tidak bisa membaca Al-Qur'an!" kata ibunya kepada Ali kecil sebagaimana ditulis oleh KH Saifuddin Zuhri dalam Kaleidoskop Politik di Indonesia Jilid 1.

Hal itu, kata Kiai Saifuddin, begitu membekas di hati tokoh kelahiran Magelang, 1903 itu sehingga berpengaruh besar terhadap kehidupannya menjadi seorang yang duduk di pucuk pimpinan pemerintahan.

Beda halnya dengan pendahulunya, yakni Sukiman Wiryosanjoyo, perdana menteri keenam. Bersama kakaknya, Satiman Wiryosanjoyo, ia diwajibkan oleh sang ayah untuk mengaji Al-Qur'an di waktu sore.

Meskipun sudah hampir tamat Hollandsch-Inlandsche School (HIS), ia belum juga khatam mengaji Al-Qur'an. Namun, ayahnya mengingatkan agar tak perlu malu. "Tidak boleh merasa malu belajar membaca Al-Qur'an meskipun sudah hampir menamatkan Sekolah Dasar (HIS)," tulis Kiai Saifuddin di buku yang sama.

Keberhasilan keduanya menghafal surat Al-Fatihah diganjar langsung oleh sang ayah dengan memberinya sepeda baru.

Sementara itu, lantunan Al-Qur'an menjadi suara yang disenangi Bung Hatta. Hal itu diungkapkan oleh sekretarisnya, Wangsawijaya, saat ditanya oleh KH Saifuddin Zuhri. Pasalnya, saat itu Wakil Presiden pertama Indonesia itu sudah tak lagi memiliki minat membaca dan mendengarkan musik di tengah kesehariannya yang hanya berbaring saja. Ia, kata Wangsawijaya, maunya hendak sembahyang saja, saat ditanya Kiai Saifuddin perihal minat membacanya.

Mendengar hal itu, Kiai Saifuddin pun punya itikad untuk mencarikan kaset lantunan ayat suci Al-Qur'an yang beruara lembut dan tenang. Ia pun memilih mencarikan kaset Syeikh Musthafa Ismail. Suaranya yang empuk, tulis Kiai Saifuddin dalam bukunya Kaleidoskop Politik di Indonesia Jilid 2, lebih sesuai membentuk ketenangan. Sementara suara Syeikh Abdul Basith Abdul Somad yang tinggi dirasa tidak cocok didengarkan oleh orang sakit.

Namun, sebelum berhasil menemukan kasetnya, apalagi memperdengarkannya ke Bung Hatta, tokoh asal Minang itu lebih dulu mengembuskan napas terakhirnya. Kiai Saifuddin merasa berhutang kepadanya.

"Tiba-tiba melalui layar TC-RI diumumkan bahwa Bung Hatta telah pulang ke rahmatullah. Saya merasa mempunyai hutang kepada Bung Hatta sebuah cassette Al-Qur'an," catat Kiai Saifuddin di buku yang sama (sebelumnya, tulisan tersebut terbit di Kompas edisi 10 Mei 1980).

Mendengar kabar tersebut, ia akhirnya mengajak seluruh penghuni rumahnya untuk membaca surat Yasin sebagai hadiah dan doa untuknya. Sebab kaset atau benda apapun tak lagi diperlukan oleh sang Pemimpin Besar Bangsa Indonesia, Kiai Saifuddin menyebutnya demikian, itu.

Dalam otobiografinya, pria yang bernama asli Muhammad Athar itu mengaji Al-Qur'an di Surau Inyik Djambek selepas Maghrib. Pengajaran Al-Qur'an di tempatnya menggunakan lagu. Susah payah gurunya mengajarkan, Hatta kecil tak juga mampu melakukannya. Sampai akhirnya, ia dibolehkan untuk membaca Al-Qur'an tanpa lagu meski ia harus menanggung risiko ditertawakan rekan-rekannya.

Pengajian Al-Qur'an yang belum ia khatamkan menjadi penghambatnya menuju rencana panjang perjalanan pendidikannya, yakni ke Mekkah dan diteruskan ke Kairo. Ia berencana demikian saat kakeknya hendak berangkat haji ke Mekkah. Tetapi hal itu pupus sebab ibu dan pamannya menganggapnya terlalu muda dan pengajian Al-Qur'annya yang belum tamat sehingga ia digantikan oleh Idris, pamannya. Ia diminta untuk menamatkan sekolah, Al-Qur'an, dan pengajian nahwu dan bahasa Arabnya.

"Aku dianggap terlalu muda untuk pergi ke Mekkah, sedangkan pengajian Al Quran belum tamat. Menurut pamanku, lebih baik aku tamat sekolah dulu. Sesudah khatam Quran dan mulai mengaji Nahu dengan mengerti sedikit-sedikit bahasa Arab, barulah pergi ke Mekkah dan kemudian ke Kairo," tulis Hatta pada buku otobiografinya, Bukittinggi-Rotterdam Lewat Betawi untuk Negeriku 1. (Syakir NF)