::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Terorisme, Mencerabut Iman dari Akarnya

Senin, 04 Juni 2018 10:30 Opini

Bagikan

Terorisme, Mencerabut Iman dari Akarnya
Oleh Rohmatul Izad

Bagi kita semua, terorisme lebih mirip dengan sebuah keadaan di mana subjek pelakunya telah mengalami iman yang tercerabut atau terasing dari lingkungannya. Teroris berkedok agama, dalam banyak hal mengalami semacam keterasingan dan untuk itu ia mencoba melakukan aksi-aksi yang menurutnya signifikan untuk memberikan kesadaran bahwa cara-cara umat Islam menghayati agama adalah sebuah kesalahan.

Kita bahkan tak dapat memungkiri bahwa mereka menggunakan ide-ide agama untuk melakukan aksi-aksi brutal dan berdarah hanya karena ingin menunjukkan sebuah cara pandang tentang begitulah Islam seharusnya ditampilkan. Penerapan hukum-hukum Tuhan tak boleh ditawar-tawar, apalagi malah mengantinya dengan hukum manusia. Jika yang ditampilkan adalah hukum manusia maka ini tampak menghianati eksistensi ketuhanan dan sebuah kekeliruan yang tak dapat dimaafkan.

Para pelaku teror, yang akhir-akhir ini begitu mencekam bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, merasa bahwa institusi negara benar-benar tidak sejalan dengan hukum Al-Qur’an, para pemimpin politik dianggap kejam dan eksploitatif. Penerapan konstitusi negara saat ini juga dianggap menghina dan tidak religius, mereka merasakan bahwa imannya dalam tujuan tertinggi sedang dalam ancaman yang nyata.

Kelompok teroris ini juga meyakini bahwa politik pada prinsipnya lebih merupakan arena di mana mereka dapat mengalami Tuhan dan menghadirkan yang Ilahi berfungsi secara efektif di dunia ini. Karenanya mereka tak pernah merasa bersalah jika hanya sekedar membunuh sebagian orang yang bagi mereka tampak merupakan tindakan jihadisme dan perjuangan atas nama agama. Pelaku teror ini, betapapun destruktifnya, justru menganggap membunuh adalah bagian penting dari memperjuangkan agama dan tak segan-segan melakukan aksi yang lebih besar lagi.

Jika kita yang waras ini menganggap pencarian spiritual adalah sebuah pergolakan dan perjalanan batin beserta penghayatan-penghayatannya, yang sekaligus bersifat psikologis, maka tidak bagi kelompok teroris itu. Mereka menganggap pencarian spiritual lebih identik dengan perjalanan batin yang sudah menjadi satu paket dengan politik. Dalam arti antara agama dan negara harus benar-benar sejalan dan tak boleh hanya sekedar nilai-nilai saja yang dikedepankan. Ide mereka sangat mirip dengan kelompok Islam politis semacam HTI yang baru saja bubar, tapi kelompok ini dianggap lembek dan kurang radikal dalam melakukan perubahan.

Padahal, dalam pandangan kita secara kolektif sebagai sebuah kesepakatan bersama, konstitusi negara sudah sangat searah dengan ide-ide Islam. Lebih daripada itu, ideologi negara juga sudah sejalan dengan nilai-nilai ideal Al-Qur’an. Itulah sebabnya para founding father (pendiri bangsa) dan umat Islam sepakat bahwa Pancasila dijadikan sebagai ideologi yang dapat menghantarkan kita semua pada cita-cita ideal. Tidaklah cocok jika Islam dijadikan konstitusi tunggal di tengah keragaman dan perbedaan yang begitu plural.

Pandangan semacam ini hampir tak dapat dimengerti oleh kelompok teroris penghianat bangsa. Sebab sedari awal mereka tak pernah mampu memahami hakikat demokrasi dan bagaimana penerapan hukum positif di Indonesia. Bagi mereka, apa-apa yang berasal dari Dunia Barat dan hukum yang dibuat manusia sudah sepatutnya ditolak dan tidak ada kompromi untuk itu.

Sejarah eksternal perkembangan doktrin agama memang tampak tak mengalami banyak perubahan, tetapi secara normatif dalam penghayatan dan penerapannya melalui hal-ihwal peribadatan dan amaliah, selalu mengalami perkembangan yang bahkan bisa berbeda sama sekali dengan ketika doktrin itu lahir. Khususnya terkait dengan kontekstualisasi ajaran dan relevansinya dengan perkembangan zaman. Inilah cara pandang yang historis dan kontekstual dalam memahami agama.

Kelompok teroris berkedok agama ini hampir-hampir tak bisa memahaminya. Bahkan sikap keagamaan mereka sangat a-historis dalam arti menganggap ajaran Islam sejak dulu hingga sekarang, sama saja dan tidak mengalami perubahan sama sekali. Oleh karenanya hukum agama yang berasal dari teks suci harus benar-benar bisa diterapkan tanpa harus melihat situasi konteks dan keadaan spesifik dalam kehidupan nyata.

Makin ditumpas mereka akan semakin menjadi-jadi. Satu aktor teroris ditangkap dan diadili, akan semakin membuat kelompok mereka merasa sangat yakin bahwa perjuangannya, atas nama agama, sedang dalam rintangan yang amat besar dan makin mengukuhkan keyakinannya bahwa rezim ini adalah kumpulan orang-orang yang anti Tuhan. Jiwa militansi mereka pasti lebih berapi-api dan semangat Ilahiatnya dianggap telah menemukan momentum yang paling tepat untuk menumpas kekafiran.

Tetapi, dalam banyak bentuknya, tindakan bunuh diri dan membunuh tak pernah bisa dibenarkan. Islam mengizinkan membunuh hanya ketika umatnya mendapat ancaman dari luar. Itu pun hanya dalam situasi perang dan tetap mengedepankan etika peperangan yang baik di mana kaum wanita, anak-anak dan para tawanan tak boleh dibunuh.

Bahkan hampir semua agama tak pernah mengajarkan tindakan-tindakan destruktif dan menyimpang. Para pelaku teror yang seringkali menggunakan agama, sebenarnya telah mencerabut iman dari akarnya. Mereka banyak mengalami kehilangan orientasi, sehingga terjebak dalam ekstremisme yang berlebih-lebihan dan menganggap apa-apa yang tidak datang dari agama selalu salah dan sudah sepatutnya ditumpas.

Padahal kehidupan kita ini lebih banyak berasal dan diisi oleh unsur-unsur keduniawian. Tugas agama yang sebenarnya adalah untuk menetapkan garis batas dan menyesuaikan diri dengan realitas kehidupan kita. Agama seharusnya menjadikan hidup kita lebih mudah, lebih bermakna, masuk akal dan selalu menjadi pegangan bagi harapan-harapan di masa mendatang. Bukan merusak dan menciderai kehidupan itu sendiri.

Penulis adalah Ketua Pusat Penelitian Studi Islam dan Ilmu-Ilmu Sosial di Pesantren Baitul Hikmah Krapyak Yogyakarta.