::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Bismillah, Tuhan Tidak Galak

Selasa, 05 Juni 2018 09:00 Opini

Bagikan

Bismillah, Tuhan Tidak Galak
Oleh Rio F. Rachman

Bismillahirahmanirrahim (dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang), begitulah seharusnya seorang muslim memulai hari, juga memulai segenap pekerjaan. Ada hadits yang menguatkan anjuran tentang itu. Bukan main-main, redaksinya menyebutkan, pekerjaan yang dilaksanakan tanpa basmalah, akan membuat laku tersebut sia-sia (baca: HR Ibnu Hiban, Al-Khatib dalam Al Jami’ dan sejumlah riwayat lain). 

Ya, mungkin ada hasilnya. Namun akan jauh lebih banyak hasilnya bila disertai basmalah. Karena penyertaan basmalah ini akan membuatnya berkah di dunia dan di akhirat, Sementara seperti kalam dalam salah satu ayat di surah Adh-Dhuha (ayat 4) dan Al-A’la (ayat 17), akhirat selalu lebih baik dan lebih kekal dari apapun kebaikan atau hasil yang diperoleh di dunia fana ini.

Di lain sisi, apakah seorang muslim tidak boleh mengucapkan, lafadz lain, misalnya, Bismillahiljabbarulmutakabbir (dengan menyebut nama Allah Yang Maha Agung dan Maha Perkasa) atau Bismillahilqohharulmudzil (dengan menyebut nama Allah Yang Maha Memaksa dan Maha Menghinakan)? 

Tentu boleh. Karena, lafaz-lafaz tersebut juga menyebutkan asma ul husna. Dan berdoa dengan menyebutkan asma ul husna adalah pekerjaan yang baik dan dianjurkan (QS, Al A’raf: 180). Namun Allahu ta a’la, tidak secara khusus menganjurkan seorang muslim mengucapkan lafaz-lafaz tadi, melainkan mengajarkan semua orang beriman, melalui Nabi Muhammad, untuk senantiasa memulai tindakan dengan Bismillahirahmanirahim.

HAMKA melalui Tafsir Al-Azhar yang monumental itu menjelaskan, sifat rahman dan rahim berpangkal pada satu makna: rahmat. Yang artinya, adalah cinta, kasih, kesantunan, keramahtamahan, dan nilai-nilai positif yang menebarkan esensi persaudaraan atau perdamaian lainnya.

Bila ditarik lebih jauh, sudah barang tentu, Allahu ta a'la ingin mengedepankan sifat rahmat tersebut, di antara asma ul husna yang lain. Dalam Qur’an mushaf utsmani yang ada di tangan kaum muslimin saat ini, bismillahirahmanirahim setidaknya termaktub sebanyak 114 kali. Tepatnya, di awal setiap surat selain surat At-Taubah, dan terdapat di Surat An-Naml ayat 30.

Sifat yang penuh rahmat tersebut kemudian ditancapkan pula dalam kehidupan makhluk kesayangan-Nya, Nabi Muhammad. Yang karena kelemahlembutannya dalam berdakwah, mengajak orang berakhlak mulia, sampailah Islam ke zaman paling modern seperti sekarang ini. 

Berdasarkan data dari Pusat Riset PEW, institusi yang memiliki ketertarikan untuk mengamati ragam keberagamaan umat manusia, Islam tergolong agama yang memiliki percepatan perkembangan yang konsisten terus meningkat. Padahal, sentimen anti-Islam dan Islamofobia masih marak di sejumlah belahan dunia, isu perpecahan mulai yang sifatnya khilafiah, hingga yang sifatnya ideologis, membuncah di internal Islam sendiri.

Artinya, Islam yang penuh rahmat itu, telah sukses menembus zaman. Rasa aman yang disampaikan Nabi Muhammad pada masyarakat luas, meskipun berbeda agama atau keyakinan, telah menjadikan publik kepincut dan belajar tentang Islam. Hingga pada gilirannya, masuk Islam. 

Sikap Nabi Muhammad yang murah senyum, hidup sederhana dan suka berbagi atau bersedekah, adalah fitrah naluriah yang kompatibel pada semua manusia. Sehingga, orang-orang pada zaman tersebut yakin, Nabi Muhammad bukan manusia yang membawa agama demi kepentingan diri sendiri atau golongan. Melainkan membawa ajaran rahmat bagi semesta alam. 

Nabi Muhammad yang meskipun sudah berkuasa pada fathu makkah (penaklukan kota Makkah), tetap bertindak selayaknya sosok arif dan penuh welas asih. Dia dengan senang hati mengubur dendam serta memaafkan, membebaskan tawanan atau musuh-musuhnya di masa silam (baca: HR. Thabari, Baihaqi, dan lain-lain). 

Sedangkan di masa sesudah Nabi Muhammad wafat, para penggantinya sibuk menolak tatkala dijadikan calon pengganti. Untuk menjadi pemimpin tertinggi, ternyata tidak dibutuhkan sikap paling merasa benar dan politisasi agama yang licik. Justru kerendahan hati dan kelapangan ilmu yang membuat para khalifah itu terpilih.

Tengoklah keterpilihan Abu Bakar AshShiddiq, Umar ibnu Khaththab, bahkan hingga Umar bin Abdul Aziz, menjadi pemimpin umat. Juga, tentang bagaimana kezuhudan mereka saat menjadi orang nomor satu. Bila berkaca dari sejarah, kaum yang paling merasa benar dan bersemangat ingin mempolitisasi agama, bahkan dengan segenap tindak kekerasan, hanya Khawarij. 

Apa-apa yang terpercik dari sosok Nabi Muhammad dan para Khulafaur Rasyidin adalah cermin mengkilap dari esensi Bismillahirahmanirahim. Orang-orang pilihan itu yakin, Tuhan Tidak Galak. Tuhan memerintahkan menebar kesejukan dan kebermanfaatan di alam semesta. Tuhan tidak pernah menyuruh manusia untuk meraup keuntungan dengan cara barbar yang jauh dari substansi lafaz basmalah tersebut.

Sayyid Qutub dalam fi Zhilalil-Quran menyebutkan, makna bacaan basmalah mengandung unsur ketauhidan dan adab. Serta, merefleksikan hubungan Tuhan dengan manusia sebagai hambaNya. Sehingga, layaklah bila bacaan ini mengilhami manusia untuk selalu mengesakan Tuhan yang penuh rahmat, sekaligus berupaya untuk membawa panji Islam yang rahmatan lil ‘alamin ke lingkungan sekitar. 

Bahkan, dalam menjalankan amar ma’ruf nahi munkar (mengajak pada yang baik dan mencegah pada yang jelek), sikap bermuatan cinta kasih selayaknya tetap dpertahankan. Tanpa itu, mereka yang didakwahi bisa malah beranjak pergi, alih-alih mendapatkan simpati. 

Dalam kondisi kekinian, bisa diambil analogi seperti ini: jika status facebook atau artikel yang dibagikan di grup WhatsApp membuat banyak kawan memutuskan pertemanan atau keluar dari grup, padahal kawan-kawan tadi sebenarnya bukan orang-orang yang lagi berseberang pendapat dengan penulis status atau pembagi konten, dan padahal yang ditulis atau bagikan diniatkan sebagai upaya amar ma’ruf nahi munkar, introspeksilah. Mungkin ada yang salah dari cara penyampaiannya, atau pengungkapannya tidak disertai dengan rasa cinta. Sehingga, bahkan orang-orang yang tidak berseberang pendapat pun merasa “bising”, terganggu, dan malas menanggapi.

Pada bagian lain, para ulama berbeda pendapat tentang apakah basmalah adalah bagian dari surat Al-Fatihah atau bukan. Dengan cukup mendetail, Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan beberapa pandangan ulama sehubungan dengan kedudukan basmalah dalam surat Al-Fatihah. Sebagai misal, Imam Malik dan Imam Abu Hanifah serta murid-muridnya mengatakan bahwa basmalah bukan merupakan salah satu ayat dari surat Al-Fatihah. Sedangkan Imam Syafii menyatakan bahwa basmalah merupakan salah satu ayat dari Al-Fatihah. Kemudian, menjaharkan bacaaan basmalah tatkala menjadi imam shalat maghrib, isya, dan shubuh bagi seorang imam, bergantung pada pandangan terhadap kedudukan tersebut. 

Meski demikian, perbedaan pendapat tersebut, sebagaimana bila berkaca pada semangat rahmat yang terkandung dalam basmalah, tidak boleh malah menjadi pemisah antara muslim. Justru mesti menjadi alasan untuk menumbuhkan rasa menghormati dan toleransi. 

Imam Jalaluddin Al-Mahalli dalam tafsir Jalalain, menerangkan, bagi mereka yang menganggap basmalah adalah bagian dari Al-Fatihah atau yang juga dikenal sebagai As-Sab’ul Matsany (tujuh yang diulang-ulang), ayat ketujuh dimulai dari Sirotholladzina sampai akhir surat. Sedangkan bagi mereka yang berpendapat basmalah bukan bagian dari ummul kitab tersebut, ayat ketujuh dimulai dari Ghairil Maghdlubi dan seterusnya. Yang berarti, kalimat sebelumnya atau yang dimulai dari Shirotholladzina dan seterusnya, adalah ayat keenam. Wallahu ‘alam. 


Penulis adalah dosen Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang, Koordinator Divkominfo Mata Garuda (Komunitas Awardee/alumnus beasiswa LPDP) Jawa Timur