::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Kecintaan KH Abdul Wahid Hasyim terhadap Al-Qur'an

Jumat, 08 Juni 2018 05:30 Fragmen

Bagikan

Kecintaan KH Abdul Wahid Hasyim terhadap Al-Qur'an
KH Abdul Wahid Hasyim.
Oleh Syakir NF

KH Abdul Wahid Hasyim merupakan sosok yang begitu mencintai Al-Qur'an. Kegemarannya mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dilagu sedemikian rupa mengalahkan kesukaannya terhadap lagu-lagu Arab yang dinyanyikan dengan musik dan irama yang nikmat didengar, juga keindahan lirik yang disusun para penyair dengan begitu indah.

Setidaknya, Aboebakar dalam buku Sejarah Hidup K.H. A. Wahid Hasjim menuliskan dua alasan Kiai Wahid lebih menikmati lantunan ayat suci Al-Qur'an. Pertama, kesenian falsafah. Kandungan ayat-ayat yang dilantunkan itu begitu diresapi oleh putra Hadlaratussyaikh KH Hasyim Asy'ari itu. Hal ini membuatnya  menyarankan untuk membaca Al-Qur'an saat kita galau. Sebab, biasanya, kita akan menemui ayat yang memberikan harapan.

"Apabila kita pada suatu masa bingung dan kehilangan akal, sebaiknya kita membaca Al-Qur'an dan biasanya selalu kita bertemu dengan ayat-ayat yang memberikan kita harapan lagi untuk mendapat petunjuk, dan balasannya terbuka kembali bagi kita pintu akal dan perjuangan," tulis Aboebakar mengutip pernyataan Kiai Wahid.

Hal ini pun pernah terjadi dalam dirinya. Diceritakan dalam buku yang sama, H M Junaidi Jakarta, bercerita bahwa Kiai Wahid pernah bangkit kembali untuk bekerja membuat nota pembelaan saat pembubaran kabinet. Padahal, saat itu ia sudah hendak istirahat. Bisa demikian karena ayahanda Gus Dur itu mendengar lantunan surat Al-Baqarah ayat 137 dari radio Mesir.

"Jika mereka berkeyakinan seperti keyakinan kamu, sesungguhnya mereka akan mendapat petunjuk, tetapi jika mereka tidak sesuai dengan keyakinanmu, adalah mereka dalam keingkarannya. Maka engkau nanti akan dipeliharakan Allah dan pada kejahatan mereka, dan Allah itu Mendengar lagi Mengetahui."

Mendengar itu, tulis Aboebakar, Wahid Hasjim tidak jadi tidur. Ia bekerja terus sampai subuh dan kedengaran ayam berkokok.

Kedua, karena kesenian suara yang tertinggi. Keindahan suara qari, lagu yang indah, sesuai dengan ayat, dan kesesuaian ayat dengan suasana saling berpadu. Jika demikian sudah terjalin betul, air mata tak lagi dapat dibendung Kiai Wahid.

"Kita lihat Wahid Hasjim menunduk dan menggeleng-gelengkan kepalanya, dan tidak jarang ia meneteskan air mata," kata Aboebakar.

Bahkan, kiai yang pernah menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu mengucapkan terima kasih secara khusus kepada qari yang telah membuatnya seperti itu. Biasanya, penghormatan demikian ia sampaikan kepada Tubagus Mansur (Banten), KH Abdul Karim (Jawa Tengah), dan K Damanhuri (Jawa Timur).

Setelah mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur'an, biasanya, laku dan gaya bicara Kiai Wahid akan berubah.

Mendirikan Jam'iyatul Qurra wal Huffazh

Selain terenyuh sampai membuatnya menangis, bentuk kecintaan Kiai Wahid lainnya adalah mendirikan Jam'iyyatul Qurra wal Huffazh, sebuah organisasi yang menghimpun para qari dan penghafal Al-Qur'an. Hal itu ia lakukan saat menjadi menteri agama.

"Dulu, berdirinya JQH itu tahun 1951, yang mendirikan itu Kiai Wahid Hasyim. Beliau adalah seorang qari, seorang hafidz, seorang mufassir. Pas saat itu (jadi) menteri agama," ujar KH Abdul Muhaimin Zen, ketua umum Pimpinan Pusat Jam'iyyatul Qurra Wal Huffazh Nahdlatul Ulama, sebagaimana dilansir NU Online pada Senin (16/4/2018).

Saat itu, beberapa kota telah memiliki perkumpulan para qari dan penghafal Al-Qur'an. Di antaranya, Jam'iyyatul Huffazh (Kudus, Jawa Tengah), Nahdlatul Qurra (Jombang, Jawa Timur), Wihdatul Qurra (Sulawesi Selatan), Persatuan Pelajar Ilmu Qiraatul Qur'an (Banjarmasin), Madrasatul Qur'an (Palembang), dan Jam'iyyatul Qurra (Medan, Sumatera Utara).

"Semua organisasi kealquranan beliau jadikan satu," katanya.

Pada Nuzulul Qur'an 1370 H, Kiai Wahid mempertemukan semua organisasi itu di kediamannya di Jakarta. Aboebakar Aceh menulis empat tujuan pembentukan organisasi tersebut, yaitu membela kesulitan Al-Qur'an dalam arti kata yang luas, mempelajari sesuatu yang bersangkut paut dengan Kitab Suci Al-Qur'an, memperbaikin nasib Qurra dan Huffadz dalam kehidupan sehari-hari, dan turut menyumbangkan tenaga dalam pembangunan kebudayaan yang bertali dengan ajaran Al-Qur'an.

Penulis adalah pengurus Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan kontributor NU Online.