::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Puasa Melatih Kelembutan

Jumat, 08 Juni 2018 14:30 Opini

Bagikan

Puasa Melatih Kelembutan
foto: illustrasi
Oleh: Mukhamad Zulfa 

Peristiwa teror beruntun dalam beberapa waktu yang lalu menjadi pukulan berat bagi berbagai pihak. Mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam telah mengerjakan dua pertiga ibadah puasa wajib.  

Ramadhan menjadi keberkahan, ampunan sekaligus cara umat Islam untuk melembutkan hatinya. Betapa tidak, tiap hari ditempa untuk menahan diri dari rasa lapar dan dahaga secara pelan-pelan akan menjadikan ruhani menjadi lebih tenang dan lunak hingga mampu memunculkan kasih sayang terhadap sesama.

Mengutip apa yang disampaikan Syaikh Ali Gooma (Mufti Besar Mesir 2003-2013) menyatakan bahwa teroris sejatinya tak mungkin lahir dari agama apapun tetapi adanya dari pikiran yang rusak, hati yang keras dan jiwa yang menang sendiri. 

Pernyataan ini penting untuk menggaris bawahi bahwa terorisme bukan bagian dari agama yang sebenaranya mengedepankan keramahan dan kesantunan. Islam tak mengajarkan kekerasan bahkan memaksakan ajaran terhadap pemeluknya.

Puasa menjadi ibadah berdimensi vertikal langsung pada Tuhan dalam hal agama. Namun, tak bisa dipungkiri ibadah satu ini memberikan dampak besar terhadap lingkungan sekitar. Konsumsi terhadap makanan dan perekonomian yang berkaitan dengan puasa bergeliat bergerak, ditambah berbagai konten media berlatar belakang keagamaan mulai bermunculan memenuhi ruang publik berbagai media.

Secara konsisten publik disuguhi dengan konten-konten yang berhamburan dan penuh dengan kesadaran menikmatinya. Bahkan, hal ini seharusnya sebagai muslim perlu adanya filterisasi terhadap konten-konten tersebut. Sebisa mungkin menyisihkan ruang untuk berkontemplasi bahwa sejatinya puasa merupakan pengendalian terhadap diri. 

Di dalamnya terdapat kedisiplinan yang ditanamkan dari amalan yang dimulai dari saat sahur hingga waktu berbuka. Selain itu, ada hal yang dilarang untuk dikerjakan selama puasa berlangsung.

Kewajiban berpuasa ini tak pandang bulu dan tak ada syarat khusus yang harus terpenuhi. Seluruh muslim menjalankannya baik kaya, miskin, kuat, lemah, laki-laki dan perempuan. Tentu terdapat sedikit perbedaan waktu pelaksanaan dan keadaan sesuai dengan muslim tinggal. 

Namun yang perlu digarisbawahi adalah terdapat pemerataan ibadah semua merasakan yang sama dalam keadaan menahan lapar dan dahaga. Hal inilah yang akan menghaluskan hati seorang muslim untuk terus menuju keridhaan tuhannya.

Bila lebih dalam lagi puasa harusnya mampu menekan amarah, pemaksakan kehendak hingga tindak kekerasan. Pemaksaan kehendak terhadap ajaran tak ada dalam kamus Islam. (baca penjelasan mengenai al-Baqarah ayat 256) Pemaksaan ini menimbulkan dualisme dalam diri manusia. Tekanan internal dan eksternal dengan bertentangan satu dengan yang lain. Logika yang bertentangan inilah tak dibenarkan ajaran Islam.

Memahami Islam sesungguhnya merupakan penyerahan diri terhadap Tuhan. Dengan menjalankan ajarannya berarti memahami dengan cara mengerjakan perbuatan saleh. Hal ini sejalan dengan perdamaian yang juga tujuan Islam itu sendiri. 

Namun untuk mewujudkan perdamaian harus dimulai dengan perdamaian individual terlebih dahulu sebelum menyeluruh terhadap masyarakat dunia. Hal penting yang perlu dicatat bahwa Islam tak hanya mengajarkan ritual-ritual belaka terdapat sistem nilai yang bertransformasi di dalamnya.

Dalam konteks budaya kemasyarakatan puasa merupakan ajang keberkahan menyambut Ramadhan. Tak hanya muslim yang mendapatkan luberan Ramadhan ini, menjelang Lebaran perayaan tahunan bagi warga Indonesia mudik. Walaupun tak memeluk Islam mereka suka cita untuk pulang kampung menengok halaman rumah, semua mendapatkan hari libur dan bisa mengambil cuti.

Secara umum ajaran agama apapun akan merekatkan masyarakat bukan sebaliknya. Nilai-nilai kasih sayang, lemah lembut, tolong-menolong dan berbagai nilai kebaikan lainnya menjadi landasan beragama. 

Keberagaman ritual keagamaan bukan untuk dipertentangkan satu dengan lainnya. Semoga Ramadhan tahun ini semakin mempererat tali persaudaraan sesama muslim, bangsa dan negara. Semoga.
 

* Aktif di jaringan pesantren. Bisa disapa IG @mukhamad.zulfa