::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Lailatul Qadar dan Pesan Kemanusiaan

Jumat, 08 Juni 2018 14:15 Opini

Bagikan

Lailatul Qadar dan Pesan Kemanusiaan
Ilustrasi (ist)
Oleh Fathoni Ahmad

Malam kemuliaan, malam yang agung, malam yang lebih baik dari 1.000 bulan, malam diturunkannya Al-Qur’an, malam di mana Malaikat turun ke bumi, serta malam di mana terwujud kesejahteraan dan kedamaian. Demikianlah gambaran malam lailatul qadar yang dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Qadr ayat 1-5. Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.

Momen lailatul qadar menjadi keistimewaan bagi umat Islam pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Namun, tidak ada seorang yang mengetahui terkait datangnya malam lailatul qadar. Malam yang dapat membawa seorang hamba kepada derajat ketakwaan yang hakiki. Dalam hal ini, hendaknya manusia tidak hanya menunggu malam kemuliaan itu tiba, tetapi mengisi sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dengan penuh kekhusyuan dan kebaikan agar mendapatkan lailatul qadar.

Menanti malam yang penuh berkah, kemuliaan, dan kesucian tersebut menuntut seorang hamba juga dalam keadaan baik dan suci hatinya setelah menempa dua puluh hari pertama bulan Ramadhan. Pada hitungan sepuluh malam terakhir bulan ramadhan tersebut, Nabi Muhammad SAW menyambut malam mulia itu dengan mengajarkan kepada umatnya agar melakukan i’tikaf.

Bahkan dalam pandangan Imam Syafi’i, walaupun hanya sesaat selama dibarengi oleh niat yang suci, ia akan mendatangkan malam kemuliaan. Nabi Muhammad selalu melakukan i’tikaf pada sepuluh hari dan malam terakhir bulan puasa. Di sanalah beliau bertadarus dan merenung sambil berdoa.

Salah satu doa yang paling sering beliau baca dan hayati maknanya adalah: Rabbana atina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzabannar (Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa api neraka).

Pesan Kemanusiaan

Untuk bertemu dengan malam lailatul qadar, seorang hamba sesungguhnya bisa mempersiapkan diri sedari awal Ramadhan tiba. Ini menunjukkan bahwa kebaikan harus bersifat kontinu dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana kemulian yang ditunjukkan pada malam lailatul qadar dan dampaknya terhadap kehidupan di masa-masa yang akan datang.

Pesan kemanusiaan yang terkandung dalam lailatul qadar bisa dipahami melalui ayat-ayat dalam QS Al-Qadr, yaitu (1) Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan, (2) Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?, (3) Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan, (4) Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan, (5) Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

Penulis Kitab Tafsir Al-Misbah Prof Dr Muhammad Quraish Shihab (1999) menekankan pada dua hal dari ayat-ayat di atas untuk memperoleh pemahaman bahwa momen lailatul qadar tidak hanya terkait keshalehan ritual, tetapi juga mampu mewujudkan keshalehan sosial. Sebagaimana esensi agama, ia hadir untuk mewujudkan kehidupan yang damai di antara sesama makhluk ciptaan Allah SWT.

Dua penekanan terhadap aspek kemanusiaan yang terkandung dalam malam lailatul qadar juga bisa dijadikan amalan-amalan agar seorang hamba bisa bertemu malam lailatul qadar. Namun, yang harus diperhatikan ialah tidak hanya keinginan bertemu malam lailatul qadar, tetapi manusia juga harus berupaya mendapatkannya sehingga amalan-amalan baik harus dilakukan untuk mendapatkan kemuliaan malam tersebut.

Pertama, Al-Qur’an menyatakan, bahwa dalam malam lailatul qadar, Malaikat turun (QS Al-Qadr: 4). Ketika Malaikat turun dan mengunjungi seseorang, Malaikat senang dengan kebaikan, melingkupi kebaikan apa saja. Malaikat mendukung manusia yang berbuat baik. Dengan demikian, melakukan kebaikan secara terus-menerus bisa mengantarkan manusia mendapatkan malam lailatul qadar.

Lalu kebaikan yang seperti apa? Berbuat baik juga terkait dengan kesempatan dan waktu. Artinya, manusia jangan menunda kebaikan, apalagi ketika orang lain sangat membutuhkan bantuan dan kebaikan tersebut saat itu juga. Di situlah malam kemuliaan akan datang kepada manusia yang Malaikat juga turut datang kepadanya.

Kedua, di malam lailatul qadar penuh kesejahteraan hingga fajar (QS Al-Qadr: 5). Quraish Shihab memaknai kesejahteraan dengan kedamaian. Artinya, pada malam kemuliaan tersebut, manusia hendaknya damai dengan diri, juga damai dengan orang lain. Damai itu ada damai aktif dan ada damai pasif. Misal ketika manusia naik bus, banyak orang di bus, lalu hanya duduk diam, tidak menyapa samping kiri dan samping kanannya. Hal itu termasuk damai, tetapi damai pasif.

Lain halnya dengan damai aktif yaitu ketika saling menyapa atau memberi sesuatu kepada orang lain dengan tujuan yang baik. Hal ini juga berlaku bahwa ketika manusia tidak bisa memuji orang lain, tidak perlu memakinya. Kalau tidak bisa memberi sesuatu kepada orang lain, jangan lalu mengambil haknya. Kalau tidak bisa membantunya, jangan menjerumuskannya. Ini prinsip kedamaian yang dapat mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin bagi kehidupan manusia. Di saat itulah manusia mendapat malam kemuliaan, yaitu malam lailatul qadar.

Hakikat malam lailatul qadar ialah mewujudkan kebaikan dan kemuliaannya yang bersifat tanazzalul (berkesinambungan). Inilah nilai keagungan malam lailatul qadar yang nalar manusia tidak akan dapat menjangkaunya. Namun, manusia sangat bisa untuk mendapatkan malam tersebut dengan cara mengisi kebaikan pada sepuluh hari terkahir bulan Ramadhan untuk menciptakan kebaikan bersama dalam kehidupan di hari-hari setelahnya.

Penulis adalah Pengajar di Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta