NU: IDUL FITHRI 1439 H MENUNGGU HASIL RUKYAH KAMIS 14 JUNI 2018::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Menggapai Cahaya di Pertengahan Malam

Sabtu, 09 Juni 2018 20:00 Opini

Bagikan

Menggapai Cahaya di Pertengahan Malam
Oleh: H Khumaini Rosadi

Bermimpilah selagi kamu masih punya cita-cita. Berharaplah selagi kamu punya asa. Mungkin quotes seperti ini bisa juga dijadikan sebagai motto atau kata mutiara dalam hidup agar lebih optimis dan ceria. Buat apa hidup dibikin susah? Lebih baik berusaha dan berdoa. Apalagi berdoa pada saat Nishful Lail atau pertengahan malam. Itulah Nur. Cahaya–saat yang tepat untuk berdoa. 

Nur Lailatun Nishfah adalah cahaya di pertengahan malam. Harapan terkabulkannya doa-doa. Sebagaimana cahaya yang menerangi dari kegelapan, mengantarkan manusia kepada kebahagiaan. Karena pada pertengahan malam inilah waktu yang golden time (saat emas), waktu yang sangat berharga untuk berdoa.

Sebagaimana dalam ayat-Nya, surat al-Muzzammil ayat 1-4 disebutkan, "Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk salat) di malam hari, kecuali sedikit (darinya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan."

Golden time dalam Islam bukan seperti di sinetron yang mengajarkan berdoa saat ada bintang jatuh. Waktu yang mustajabah dalam Islam tidak seperti orang ulang tahun lalu sebelum tiup lilin make a wish dulu. Itu bukan ajaran Islam. Islam mengajarkan waktu yang efektif dan efisien untuk kita berdoa adalah pada pertengahan malam. Ketika orang-orang terlelap tidur dengan mimpinya, sementara kita bangun berdoa menghadapkan diri kepada Allah SWT.
 
Lalu di manakah sebaiknya kita berdoa? Di mana saja doa bisa dilakukan. Di dalam masjid sambil beritikaf pada sepuluh malam terakhir, bisa. Inilah  waktu yang mustajabah. Tidak dalam masjid, bisa juga di rumah, di kantor, di sekolah, di pos sambil jaga malam juga bisa.

Boleh berdoa sendiri-sendiri. Boleh dilakukan secara berjamaah. Caranya pun bermacam-macam. Bisa dengan memperbanyak sholat Sunnah tarawehnya. Bisa dengan memperbanyak baca alquran dan shalawat nabi. Bisa dengan berdiskusi masalah keagamaan. Bisa dengan bersedekah makanan atau uang. Bisa juga dengan memperbanyak dzikir dan doa khas bulan Ramadhan seperti yang diajarkan Rasulullah SAW. 

Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’. Artinya "Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku." (H.R. Tirmidzi)

Sayang, jika sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan disia-siakan. Sebisa mungkin kita manfaatkan Nishful Lail. Semoga pada pertengahan malam kita bisa qiyamullail–menghidupkan malam Ramadhan–baik di awal malam, di pertengahan malam, atau di akhir malam menjelang subuh menjadi waktu yang mustajabah. Segala masalah terselesaikan dengan baik. Segala penyakit tersembuhkan dengan lekas. Segala susah segera berganti mudah. Segala benci berubah menjadi cinta. Segala hutang terlunaskan segera.

Begitulah kekuatan doa. Doa adalah senjatanya orang yang beriman. Dengan doa dapat mengubah takdir. Doa menjadikan segala yang mustahil menjadi pasti. Sesombong-sombongnya manusia adalah manusia yang tidak pernah berdoa. Allah berjanji, "Berdoalah kepada-ku, Aku akan kabulkan permintaanmu." (Q.S. al-Mukmin: 60).

Penulis adalah Corps Dai Ambassador Dompet Dhuafa (Cordofa), Tim Inti Dai Internasional dan Multimedia Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (Tidim Jatman).