NU: IDUL FITHRI 1439 H MENUNGGU HASIL RUKYAH KAMIS 14 JUNI 2018::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

KIRAB KOIN NU

Kirab Koin NU, Ikhtiar Menuju Kebangkitan NU

Ahad, 10 Juni 2018 22:15 Opini

Bagikan

Kirab Koin NU, Ikhtiar Menuju Kebangkitan NU
Kirab Koin NU disambut di Jember, Jawa Timur.
Oleh: Didin A Sholahudin 

NU itu ibarat kereta api. Bukan taksi yang bisa dikendarai sopirnya kemana ia suka. Rel NU sudah jelas. Demikian perumpamaan KH Ahmad Sidiq melabeli ormas Islam terbesar di Indonesia ini.

Itulah mengapa, Kirab Koin NU yang mengambil titik start dari Banten, (10/3) dan berakhir di Banyuwangi, (10/5) harus dimaknai secara positif sebagai bentuk takzim atas arahan mantan Rais Aam PBNU KH Achmad Sidiq dan upaya mensilaturrahimkan sanad perjuangan NU se-Nusantara; khususnya di bidang filantropi.

Kirab Koin NU ini sendiri bermula dari semangat berinfak yang ditularkan PCNU Kabupaten Sragen. Melalui LAZISNU, Sragen memberi contoh bahwa infak uang receh/koin jamaah NU mampu memberi kemashlatan bagi jamaah dan jamiyah NU secara luas. Dalam satu tahun LAZISNU Sragen mampu mengumpulkan infak uang receh/koin sebesar 5,8 milyar. Sungguh angka yang fantastis. Apalagi semua dalam bentuk uang receh/koin.

Dana tersebut sendiri dimanfaatkan untuk membantu yatim dan dhuafa dalam bidang sosial, kesehatan, pendidikan dan penguatan ekonomi; serta membangun kemandirian finansial jamiyah melalui pembangunan kantor PCNU/MWC, rumah sakit, pendirian usaha, dan lainnya.

Dan tak dapat ditolak lagi; bahwa Rakornas NU Care-LAZISNU di Pesantren Walisongo Sragen (29/1); merupakan titik bangkit bagi LAZISNU se-Nusantara, menjadikan Sragen sebagai tempat untuk menisbatkan momentum kebangkitan kesadaran berinfak warga NU. Juga mempertegas simbol, bahwa brand infak receh/koin adalah milik jamiyah dan jamaah NU.

Ada empat pelajaran penting yang dapat diambil dari Kirab Koin NU tersebut. Pertama, Kirab Koin NU adalah bentuk sosialisasi sekaligus kampanye kesadaran berinfak jamaah NU. Dan ini menunjukkan hasilnya. Beberapa daerah yang disinggahi menunjukkan angka perolehan infak yang tinggi. Jombang, Bojonegoro, Gresik, Malang, Tuban memperoleh angka di atas 100 juta. Tuban memegang rekor tertinggi sebesar 352 juta.

Fakta ini menunjukkan, bahwa ikhtiar kita bersambut. Berbondong-bondong warga NU yang turut serta hadir dalam setiap road show Kirab Koin NU merupakan bukti tak terbantahkan bahwa mereka percaya kepada LAZISNU dan ingin turut serta dalam catatan sejarah kebangkitan NU.

Kedua, tingginya perolehan hasil Kirab Koin NU menunjukkan soliditas dan sinergitas sempurna dari jaringan NU, dari tingkat PCNU, MWCNU, PRNU, Lembaga dan Banom NU. Tentu hal ini dapat dijadikan uswah khasanah bagi kabupaten/kota lain, bagaimana membangun kepercayaan jamaah, khususnya kesediaan mereka untuk berinfak. Beberapa kabupaten/kota yang perolehan Kirab Koin NU-nya tinggi adalah mereka yang mampu menyinergikan gerakan ke semua lini massa NU.

Kekuatan NU adalah di 'akar rumput', di tingkat desa/PRNU dan lembaga-lembaga pendidikan Ma'arif dan pesantren. Tentu saja, siapa yang mampu mengkonsolidasikan kekuatan ini akan menuai hasil yang maksimal.

Ketiga, Kirab Koin NU menumbuhkan semangat konsolidasi seluruh LAZISNU se-Nusantara (khususnya Jawa). Champaign Kirab Koin NU yang massif di media daring dan medsos menumbuhkan respect effect dari mujahid LAZISNU. Yang pada gilirannya ada motivasi untuk bahu membahu bergerak bersama mencapai hasil yang maksimal.

Sinergi antar-LAZISNU kota/kebupaten yang terlihat nyata dalam serah terima mobil Kirab Koin NU, dan saling berbagi trik/strategi fundraising, makin menumbuhkan ukhuwah dan kesadaran bersama; bahwa memperjuangkan dan menggerakkan NU tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Dan kekuatan konsolidasi ini adalah harga mati yang tak bisa ditawar dalam menghadapi problem kekinian yang semakin kompleks.

Keempat, Kirab Koin NU mampu mengukuhkan dan menguatkan nilai-nilai Ahlussunah waljamaah Annahdliyah. Di tengah penetrasi Islam transnasional dan Islam intoleran, Kirab Koin NU memberi semangat baru untuk ber-Aswaja. Mengembalikan Islam kepada kearifan lokal, membahasakan Islam secara sederhana dengan cara cara berinfak, dan menegaskan diri bahwa NU adalah pilihan tepat untuk bermukim dan benteng dari ajakan makar, intoleran, dan radikalisme agama.

Kirab Koin NU semakin menegaskan bahwa LAZISNU adalah satu satunya Lembaga Amil Zakat (LAZS) paling sahih dan wajib dipilih oleh warga NU; di tengah LAZ lainnya yang banyak dihinggapi kabar miring terkait pentasharufan hasil donasinya yang tak tepat sasaran.

Sungguh, kita boleh ungkapkan syukur atas suksesnya penyelenggaraan Kirab Koin NU, baik secara hasil infak yang kita raih, maupun tuntasnya acara tanpa kendala berarti. Tapi, tetaplah rendah hati. Kita pun boleh 'menangis' tatkala di beberapa kabupaten/kota hasilnya tak sesuai ekspektasi. Yakinlah, Allah senantiasa bersama kita dalam menuntun menapaki tangga kesuksesan, menjemput mimpi indah yang tertunda, dan merajut berkah bersama.

Langkah kita lewat Kirab Koin NU ini diyakini belum menunjukkan potensi maksimal gerakan LAZISNU. Tetapi setidaknya ini adalah modal awal bagi kita untuk menapak gagah, berani, dan yakin  menyongsong kebangkitan NU, di Harlahya yang ke-100, pada 2026. 

Kirab Koin NU menampakkan bukti, militansi jamiyah dan jamaah NU telah menemukan momentumnya. Kebangkitan NU tinggal menunggu waktu. Ketika mujahid ZIS/LAZISNU bergerak dengan jujur dan amanah, insyaallah jamaah NU akan menyambut dengan kepercayaan dan support tanpa batas. Dan yakinlah kebangkitan NU akan berawal dari LAZISNU.

Semoga kita kembali bertemu dengan parade Kirab Koin NU 2019; dengan persiapan lebih matang, terencana dan sinergitas lebih maksimal.

Semoga ikhtiar kita bersama dalam menggerakkan LAZISNU senantiasa dikuatkan, dibimbing, dan diridhai oleh Allah SWT.

Penulis adalah Direktur Executive NU Care-LAZISNU Jawa Timur.