::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

PMII Bandar Lampung Berbagi Tips Kesehatan Selama Idul Fitri

Senin, 11 Juni 2018 08:30 Daerah

Bagikan

PMII Bandar Lampung Berbagi Tips Kesehatan Selama Idul Fitri
Bandar Lampung, NU Online
Pola makan yang teratur selama bulan Ramadan membuat masyarakat, khususnya umat Muslim lebih sehat dibandingkan bulan lain. Namun, ketika Ramadan telah usai dan tiba hari raya Idul Fitri nyatanya semua berubah. Bahkan, ketika hari raya tersebut banyak makanan yang mengandung lemak dan gula.

Atas dasar tersebut, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Bandar Lampung menggagas seminar tentang kesehatan. "Meski Ramadan usai, kami tetap ingin seluruh anggota PMII tetap sehat," kata Ketua PMII Bandar Lampung, Erzal Syahreza Aswir saat memberi sambutan, Ahad (10/6).

Pada acara yang digelar di gedung 3 Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Lampung ini, PMII Bandar Lampung mengundang pakar gizi dari Politeknik Kesehatan (Poltekes) Bandar Lampung, Endang Sri Wahyuni. 

Dalam paparannya, Endang mengungkapkan ada empat pilar hidup sehat. Pertama adalah makan makanan bergizi, beraham, berimbang, dan halal. Yang kedua adalah rutin olahraga minimal 30 menit setiap hari. 

"Ketiga  menjaga kebersihan, dan terakhir selalu kontrol berat badan," kata Endang pada acara yang bertajuk Tips-tips Menjaga Kesehatan Jelang Idul Fitri.

Selain itu, perempuan ini mengungkapkan saat Idul Fitri akan banyak makanan yang mengandung pemanis dengan kadar tinggi. Nafsu selama Idul Fitri untuk makan makanan harus dikontrol dengan baik. "Gula, garam dan minyak, itu bahan makanan yang harus dibatasi pengkonsumsiannya," kata Endang.

Ia mengungkapkan, banyaknya soft drink selama Idul Fitri harus menjadi perhatian utama. Pasalnya, ia pernah menemukan kasus pada pasien yang kurun waktu tidak sampai satu tahun sudah mengalami kerusakan ginjal.  "Ini karena selama setahun sangat sering minum soft drink," katanya. (Red: Ibnu Nawawi)