::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Berbagai Cara Muslim Mancanegara Sambut Malam Ke-27 Ramadhan

Senin, 11 Juni 2018 17:30 Internasional

Bagikan

Berbagai Cara Muslim Mancanegara Sambut Malam Ke-27 Ramadhan
Jakarta, NU Online
Tak sedikit ulama yang meyakini bahwa malam ke-27 bulan Ramadhan adalah malam turunnya lailatul qadar. Karena itu, masyarakat Muslim di berbagai negara menyambutnya dengan gegap gempita, memperbanyak amal ibadah.

I'tikaf menjadi ibadah utama pada malam itu. Jutaan Muslim berduyun-duyun ke masjid. Mereka menghabiskan waktunya dengan melakukan berbagai ibadah, seperti shalat, berzikir, dan tadarus Al-Qur'an demi mendapatkan malam yang lebih baik ketimbang seribu bulan tersebut.

Bahkan, imam menghabiskan waktu satu jam hanya untuk membaca qunut pada rakaat terakhir shalat witir di Mesir dan Maroko pada malam itu.

"Dan doanya, setelah qunut lama (baca silabe ma-nya panjang) banget. Bener-bener sejam," kata Salsabila Wilhelmina Arwani, pelajar Muassasah Imam Nafie, Khos li al-Ta'lim 'Atiq, Tangier, Maroko, itu.

Hal lain yang tidak ketinggalan sebagai bagian dari tradisi mereka adalah bersedekah. Bakri Nisshiddiq, salah satu mahasiswa Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, menceritakan bahwa ia pernah mendapat sedekah hingga 300 pound Mesir atau setara 200.000 rupiah pada malam ke-27 Ramadhan.

"Lumayan, paling banyak dapat 200 sampai 300 pound Mesir," katanya.

Alumnus Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MA NU) Putra Buntet Pesantren, Cirebon itu menceritakan bahwa orang dermawan pada malam tersebut biasanya berbagi makanan, sembako, dan uang.

"Di malam-malam tersebut, yang dermawan pada bagi-bagi uang, bagi-bagi sembako, makanan, dan sebagainya," ujarnya.

Lebih dari Bakri, Kamil pernah mendapatkan sedekah fitri, sebutan masyarakat Turki sedekah pada malam ke-27, 200 lira Turki atau setara 600.000 rupiah.

"Biasanya pada ngasih sedekah fitri. (Saya) Pernah dikasih 200 tl," katanya.

Tak jauh berbeda, masyarakat Tunisia selain berbondong-bondong ke masjid, juga menyiapkan sedekah makanan yang biasa disajikan khusus pada hari-hari besar. Pelajar Indonesia biasanya mendapatkan makanan tersebut.

"Dibagikan kepada kami orang Indonesia yang tinggal atau kos di rumah orang Tunis," ujarnya. (Syakir NF/Fathoni)