::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ini Penyebab Potensi Zakat Tidak Sesuai Harapan

Senin, 11 Juni 2018 20:30 Daerah

Bagikan

Ini Penyebab Potensi Zakat Tidak Sesuai Harapan
Jember, NU Online
Potensi zakat di Indonesia sungguh dahsyat. Jika dikelola dengan baik, tidak hanya dapat membantu mengentas keterbelakangan dan kemiskinan yang diderita oleh sebagian banyak umat Islam, tapi juga bisa mengangkat derajat ekonomi masyarakat.

Demikian diungkapkan Direktur Aswaja NU Center Jember, Jawa Timur, KH Abdul Haris saat menjadi narasumber pada acara Diagra (Dialog Agama Via Udara) di Masjid Besar Al Baitul Amin, Senin (11/6).

Menurutnya, dari berbagai pemikiran yang mengemuka,  besarnya potensi dan manfaat  zakat di Indonesia, tak diragukan lagi. "Namun sayang, hal tersebut masih belum bisa direalisasikan secara optimal," katanya.

Dalam pandangan Kiai Abdul Haris, belum maksimalnya pemanfaatan zakat setidaknya  disebabkan oleh dua hal.

Pertama, terkait konsep amil atau panitia zakat yang muncul secara sporadis. “Masing-masing amil tidak ada koordinasi sama sekali, dan bekerja sendiri-sendiri,” ungkapnya. Selain itu, amil tidak punya data base tentang siapa yang wajib mengeluarkan zakat dan yang berhak menerima, lanjutnya.

"Kendala yang lain, amil tidak pro aktif, hanya menunggu muzakki atau orang yang wajib zakat,"  jelasnya.

Kedua, terkait dengan orientasi pembagian zakat. Dikatakan Kiai Abdul Haris, pembagian zakat seharusnya bukan untuk kepentingan konsumtif tapi produktif. Misalnya, untuk keperluan pengembangan usaha. Sehingga dana zakat dapat menciptakan lapangan kerja atau setidaknya memberdayakan penerima zakat.

"Harapannya kelak, mustahik yakni penerima zakat dapat berubah menjadi muzakki," jelasnya.

Koordinator Komisi Fatwa MUI Jember itu lalu mengutip sebuah penelitian bahwa potensi zakat di Indonesia mencapai Rp. 300 triliun per tahun. Sebuah angka yang sungguh luar biasa besar. Namun potensi tersebut belum bisa diarasakan manfaatnya oleh masyarakat karena dua kendala di atas.

Katanya, yang menetapkan kewajiban zakat bukan manusia tapi Allah. Sehingga dalam catatan sejarah, siapapun yang tidak membayar zakat, maka diperangi.

"Amil kalau mempunyai legalitas hukum, boleh memaksa muzakki untuk menarik zakat. Dengan demikian potensi zakat bisa digali lebih dalam," tandasnya. (Aryudi Abdul Razaq/Ibnu Nawawi)