NU: IDUL FITHRI 1439 H MENUNGGU HASIL RUKYAH KAMIS 14 JUNI 2018::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Memahami Pesan Gus Yahya di Israel

Selasa, 12 Juni 2018 10:15 Opini

Bagikan

Memahami Pesan Gus Yahya di Israel
Gus Yahya (Dok. NU Online)
Oleh Mahmud Syaltout

Di Youtube, kita bisa mendapatkan cuplikan utuh percakapan antara KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dengan dengan Rabi David Rosen (Rabi David) di https://youtu.be/bn0bswYyGZY

Saya mencoba memahami pesan dalam video berdurasi 14:36 tersebut dengan menggunakan Computer Assisted Qualitative Data Analysis (CAQDAS) dengan melakukan coding semua kata-kata kunci (keywords) wawancara tersebut dengan software MAXQDA.

Dari sini, kemudian aku mendapatkan gambaran permukaan - apa yang terdengar/terlihat oleh orang awam, dari persentase kata kunci yang dipakai oleh Gus Yahya sebagaimana gambar 1.



Di sini, tampak secara permukaan bahwa wawancara tersebut lebih banyak membicarakan atau mengenang Gus Dur (16,67 persen), kemudian disusul dengan pembahasan mengenai agama (13,64 persen), rahmah (12,12 persen), hubungan Yahudi-Islam (10,61 persen), konflik (9,09 persen) dan seterusnya hingga perdamaian, Israel dan Nabi Nabi Muhammad masing-masing 1,52 persen.

Namun, apa iya Gus Yahya cuma ingin romantisme dengan Gus Dur sampai jauh-jauh ke Israel, saat hubungan Indonesia-Israel yang lagi hangat-hangatnya pasca kejadian saling larang masuk Warga Negara Israel ke Indonesia dan sebaliknya?

Saya akhirnya mencoba melakukan analisis wacana dengan melihat jejaring antar kata kunci yang muncul selama percakapan antara Gus Yahya dan Rabi David, dengan mengolah matrix code relations browser transkrip percakapan dengan software Gephi.

Dari sini, saya bisa melihat kata kunci apa yang dipakai oleh Gus Yahya untuk menyambungkan pesan beliau dengan audiensnya saat itu, dengan secara khusus menghitung Betwenness Centrality Algorithm dari jejaring kata kunci yang ada, dan tampak sebagaimana gambar 2.



Di sini tampak bahwa dua kata kunci yang jadi sentral dalam percakapan untuk mendekatkan audiens dengan pesan Gus Yahya adalah Hubungan Yahudi-Islam dan Gus Dur. Dan sebenarnya ini bisa sangat dipahami mengingat pihak penyelenggara: American Jewish Committee (AJC) - merupakan komunitas Yahudi Amerika, yang sudah akrab atau familiar dengan bahasan Hubungan Yahudi-Islam dan sosok Presiden sekaligus Guru Bangsa Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur - yang juga pernah hadir dalam acara serupa 16 tahun lalu di Washington DC, Amerika Serikat. Namun, sekali lagi bukan ini inti pesan Gus Yahya. Kedua kata kunci tersebut hanya pengantar, pintu masuk, sapaan.

Lalu apa inti pesan Gus Yahya? Dari jejaring kata kunci selama percakapan tersebut, maka dapat dihitung Closeness Centrality Algorithm - di mana bisa diketahui kata kunci paling dekat dengan pesan sentral atau utama, sebagaimana yang tampak dalam gambar 3.



Di sini, bisa kita ketahui bahwa dua kata kunci paling sentral selama percakapan tersebut adalah Rahmah (kasih sayang) dan rekonsoliasi. Di sini Gus Yahya mengadvokasi pentingnya untuk memilih Rahmah (kasih sayang) - sekaligus lawan kata dari Dzalim (kebengisan/penindasan) dan rekonsoliasi antara dua atau lebih pihak yang bertikai.

Tentu saja, jika kita waras, maka pasti memahami bahwa penindasan atau kebiadaban terjadi saat kita memilih meninggalkan rahmah sebagai visi bersama, bukan hanya penindasan Israel terhadap Palestina, tapi juga penindasan yang terjadi di belahan dunia lainnya.

Dari modularity class algorithm - tampak pula bahwa cluster berwarna merah yang menghubungkan kata-kata kunci: rahmah, rekonsiliasi, perdamaian dan keadilan - merupakan cluster utama dari seluruh pesan yang ada, yang sejatinya sangat dekat dengan cluster orange: hubungan Yahudi-Islam, kontekstualitas, agama, dan konflik.

Di sini pula tampak bahwa beliau hanya menjadikan cluster biru (Gus Dur, manusia, NU dan Israel) dan cluster hijau (Quran, Hadits dan sejarah) sebagai “bumbu-bumbu penyedap” dalam percakapan, alias basa-basi yang tampak seperti ngalor-ngidul alias random, khas Nahdliyin. Artinya, Gus Yahya sudah jauh-jauh sampai Israel masih tetap saja jadi wong NU. Hahahaha.

Sampai di sini, saya harus mengakui dan harus banyak belajar dari keberanian Gus Yahya dan kepiawaian beliau untuk “nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake” - menyerang tanpa pasukan, menang tanpa merendahkan - seperti yang diajarkan para wali saat menyebarkan Islam di Nusantara - langsung di jantung Israel.

Lalu, apakah ikhtiar Gus Yahya betul akan berdampak pada perdamaian Israel-Palestina? Mbuh! Wallahu‘alam bisshowab.

Karena setahu saya dengan cara konfrontatif selama ini, Israel justru semakin tak bergeming, semakin bengis terhadap saudara-saudara kita Warga Palestina, dan siapa pun yang membela mereka. 

Akhirnya, sampai sini, saya hanya bisa sekali lagi yakin bahwa doa adalah senjata ummat Islam dan yakin betul bahwa tiada batas antara mereka yang tertindas dengan Gusti Allah, dengan sekali lagi menyerukan agar kita berdoa semoga Gusti Allah menolong saudara-saudara kita di Palestina, menghadirkan Rahmah di bumi mereka. ‘Alaa kulli niyatin sholihah, Al-Fatihah...

Penulis adalah Wakil Sekjen Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor