NU: IDUL FITHRI 1439 H MENUNGGU HASIL RUKYAH KAMIS 14 JUNI 2018::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Tradisi Menyambut Ramadhan dan Lailatul Qadar di Turki

Selasa, 12 Juni 2018 14:11 Internasional

Bagikan

Tradisi Menyambut Ramadhan dan Lailatul Qadar di Turki
Blue Mosque di Turki (ist)
Istanbul, NU Online
Tak berbeda dengan masyarakat Indonesia, Turki juga punya tradisi menyambut kehadiran Ramadhan. Namun, tentu saja cara penyambutannya berbeda.Lampu pada setiap menara masjid dinyalakan sebagai tanda masuknya bulan Ramadhan. Lampu akan menyala sampai akhir bulan Ramadhan.

Masjid pun dihias dengan tulisan "Hoş Geldiniz Ramazan" atau "Oruç Tut Beni" yang membentang di antara menara, sebagaimana masjid Aya Sofya dan Sultan Ahmet (Blue Mosque) melakukannya.

Begitulah Mohammad Kamil, pelajar Sulaimaniyah, Istanbul Eropa, menceritakannya kepada NU Online pada Sabtu (9/6). Kamil mesti menunggu 18 jam untuk sampai waktu Maghrib dari imsaknya. Pasalnya, Ramadhan tahun ini bertepatan dengan musim panas sehingga waktu siang lebih panjang ketimbang malamnya.

Menjelang berbuka, kata Kamil, suasana Turki tak seramai di Indonesia. Sebab, Turki tidak memiliki tradisi ngabuburit. Hanya saja, menurutnya, rumah-rumah di sana umumnya terbuka bagi siapapun yang belum menyempatkan diri berbuka. Pemilik rumah mempersilakan orang lewat untuk iftar di rumahnya. Meskipun hal itu saat ini, katanya, sudah agak jarang mengingat pengaruh budaya Eropa yang sudah kental.

Perihal berbuka, Alumnus Pondok Pesantren As-Shighor, Gedongan, Cirebon itu menjelaskan bahwa masyarakat Turki memiliki tiga tahapan. Pertama, makan sup çorba dan ekmek. Kedua, makan besar, seperti köfte, pide, kebap, dan tavuk iskender. Iftar ditutup dengan manisnya baklava, pasta, atau kemal paşa.

Mereka terbiasa sarapan atau sahur menggunakan roti. Nasi dianggapnya terlalu berat bagi perut mereka. Maka, bagi mereka aneh jika sahur atau sarapan sudah menggunakan nasi.

Kamil bertarawih sebanyak 20 rakaat setiap malamnya di Turki. Tidak seperti di Indonesia yang dua rakaat sekali salam, di Turki, katanya, sekali salam empat rakaat. Sebab, masyarakat di sana menganut mazhab Hanafi.

Lailatul Qadar

Kadir Gecesi, istilah orang Turki untuk menyebut lailatul qadar. Meskipun itu suatu kerahasiaan, tetapi malam 27 Ramadhan diyakini sebagai malam yang lebih mulia ketimbang seribu bulan itu. Sebab, tak sedikit ulama yang berpendapat demikian.

Masyarakat Turki pada malam ke-27 Ramadhan tentu memperbanyak ibadahnya. Mereka shalat tasbih, bertadarus, dan diteruskan dengan saling bersalama dan berpelukan sebagai tanda saling memaafkan.

"Setelah selesai shalat tasbih diteruskan saling bersalaman dan berpelukan, saling memaafkan," kata alumnus Pondok Pesantren Tahfiz Baitul Abidin Darussalam, Wonosobo, Jawa Tengah itu.

Selain shalat dan tadarus , mereka juga bersedekah pada malam tersebut. Kamil pernah mendapat 200 lira Turki atau setara dengan 600 ribu rupiah lebih. "Biasanya pada ngasih sedekah fitri berupa uang. Saya pernah dikasih 200tl," katanya.

Meskipun tak seperti di Indonesia, kesan lain membuat Ramadhan di Turki begitu berharga bagi pria yang pernah tinggal di Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang itu. Ziarah ke makam para sahabat Nabi cukup memberikan kesan manis beramadhan di luar. Ramadhan kali ini, ia telah berziarah ke Abu Ayüb al-Ansori, Abu Darda, Abu Dzar al-Ghiffari, Ka'b bin Malik, Abu Syaibat al-Hudri, Hazreti Jabir bin Muhammed al-Ansori, dan 'Amr bin 'Aas.

"Ya walaupun tak seberkesan puasa di Indonesia, sangat berkesan wisata rohani pada makam para sahabat pada bulan ini," pungkas warga Pondok Buntet Pesantren Cirebon, Jawa Barat, tersebut. (Syakir NF/Fathoni)