NU: IDUL FITHRI 1439 H MENUNGGU HASIL RUKYAH KAMIS 14 JUNI 2018::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Waliyullah Dicintai Penghuni Langit dan Bumi, Kecuali Bagi Kelompok Ini

Selasa, 12 Juni 2018 15:00 Nasional

Bagikan

Waliyullah Dicintai Penghuni Langit dan Bumi, Kecuali Bagi Kelompok Ini
Ilustrasi (betterphotography.in)
Jakarta, NU Online
Allah SWT menganugerahkan kepada hamba-hamba tertentu mempunyai keistimewaan, yaitu karomah dan ma’unah. Hal ini seperti yang Allah anugerahkan kepada Nabi-nabi tertentu berupa mu’jizat.

Manusia-manusia tertentu yang diberi keistimewaan itu kerap disebut sebagai Waliyullah atau Wali Allah, ialah orang-orang yang dicintai penghuni langit dan bumi.

Hal itu ditegaskan Pakar Tasawuf KH M. Luqman Hakim bahwa seluruh penghuni langit dan bumi mencintai hamba-hamba istimewa tersebut, kecuali orang-orang munafik dan musyrik yang tidak mencintai mereka.

“Para Waliyullah dicintai penghuni langit dan bumi. Kecuali orang-orang munafik dan musyrik saja yang tidak mencintainya,” tegas Kiai Luqman dikutip NU Online, Selasa (12/6) melalui akun twitter pribadinya @KHMLuqman.

Direktur Sufi Center Jakarta ini mengungkapkan, para wali sudah dimakamkan tapi masih bisa menyatukan berbagai golongan. Itu pertanda bahwa beliau-beliau hidup (bal ahyaaun 'inda Robbihim yurzaquun).

“Bagi mereka yang tidak mau berziarah ke makam para wali biasanya punya watak keras kepala, egois, menikmati alam khayal, dan imajinasinya, nafsu,” tutur penulis buku Psikologi Sufi ini.

Kiai Luqman mengisahkan, suatu hari dirinya pernah berpolemik soal wahdatul wujud dan mukasyafah dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Harian Kompas.

“Saat itu beliau menjabat Presiden. Tetapi berakhir dengan saling membenarkan. Ternyata saya sedang membubung ke langit, Gus Dur sudah membumi. Saya malu tapi Gus Dur gembira,” ungkapnya. (Fathoni)