::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Doa Melintasi Bukit dan Lembah saat Mudik

Rabu, 13 Juni 2018 10:00 Doa

Bagikan

Doa Melintasi Bukit dan Lembah saat Mudik
(Foto: tempo.co)
Rasulullah SAW dan para sahabatnya memiliki bacaan khusus ketika mendaki sebuah bukit dalam sebuah perjalanan. Tetapi mereka juga membaca lafal berbeda ketika melewati sebuah jalan menurun. Bacaan ini bisa diamalkan oleh mereka yang sedang mudik.

Hal ini diceritakan oleh sahabat Jabir RA dalam Shahih Bukhari berikut ini:

روينا في "صحيح البخاري" عن جابر رضي الله عنه قال: كنا إذا صعدنا كبرنا، وإذا نزلنا سبحنا

Artinya, “Diriwayatkan kepada kami dalam Shahih Bukhari dari Jabir RA, ia berkata, ‘Bila melintasi jalan menanjak, kami bertakbir. Ketika melewati jalan menurun, kami bertasbih,’” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 190).

Sementara dalam riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW dan para sahabatnya membaca takbir tiga kali saat menempuh jalan mendaki. Setelah itu mereka membaca doa sebagai berikut ini seperti riwayat Sahabat Ibnu Umar RA:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ، وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، آيِبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُوْنَ، سَاجِدُوْنَ لِرَبِّنَا حَامِدُوْنَ، صَدَقَ اللهُ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحَدَهُ

Lâ ilâha illallâhu wahdahû lâ syarîka lahû, lahul mulku, wa lahul hamdu, wa huwa ‘alâ kulli syai’in qadîr, âyibûna, tâ’ibûn, ‘âbidûn, sâjidûn li rabbinâ hâmidûn, shadaqallâhu wa‘dahû, wa nashara ‘abdahû, wa hazamal ahzâba wahdahû.

Artinya, “Tiada tuhan selain Allah yang esa, tiada sekutu bagi-Nya. Hanya miliknya keuasaan dan pujian. Dia maha kuasa atas segala sesuatu. (Kami) kembali, bertobat, menyembah, bersujud, dan memuji Tuhan kami. Allah menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan menghancurkan pasukan musuh sendiri.”

Imam An-Nawawi mengutip riwayat Ibnu Umar RA selengkapnya dari Bukhari dan Muslim sebagai berikut:

وروينا في "صحيحي البخاري ومسلم" عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: "كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا قفل من الحج أو العمرة، قال الراوي: ولا أعلمه إلا قال: الغزو، كلما أوفى على ثنية أو فدفد كبر ثلاثا ثم قال: لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك، وله الحمد وهو على كل شئ قدير، آيبون تائبون عابدون، ساجدون لربنا حامدون، صدق الله وعده، ونصر عبده، وهزم الأحزاب وحده" هذا لفظ رواية البخاري ورواية مسلم مثله ، إلا أنه ليس فيها "ولا أعلمه إلا قال الغزو" وفيها "إذا قفل من الجيوش أو السرايا أو الحج أو العمرة"

Artinya, “Diriwayatkan kepada kami dalam Shahih Bukari dan Muslim dari Ibnu Umar RA, ia berkata bahwa ketika berjalan mendaki pada perjalanan haji atau umrah–perawi berkata, ‘Aku tak tahu kecuali ia berkata perjalanan perang’–mendaki bukit atau sebuah tanjakan tajam/padang tandus, Rasulullah SAW bertakbir tiga kali, lalu membaca ‘Lâ ilâha illallâhu wahdahû lâ syarîka lahû, lahul mulku, wa lahul hamdu, wa huwa ‘alâ kulli syai’in qadîr, âyibûna, tâ’ibûn, ‘âbidûn, sâjidûn li rabbinâ hâmidûn, shadaqallâhu wa‘dahû, wa nashara ‘abdahû, wa hazamal ahzâba wahdahû.’ Demikian redaksi Bukhari. Riwayat Muslim juga serupa dengan itu kecuali tidak terdapat ‘Aku tak tahu kecuali ia berkata perjalanan perang,’ dan di dalamnya terdapat ‘Bila ia berjalan mendaki bersama pasukan atau tawanan, atau perjalanan haji atau umrah,’” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 190).

Lafal zikir ini dapat menjadi alternatif bagi para pemudik atau mereka yang beraktivitas di jalanan seperti sopir. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)