::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Lika-Liku Ansor Puger Sadarkan Mucikari Besini (1)

Shalat di Masjid, Dilempari Telur Busuk

Rabu, 13 Juni 2018 14:00 Daerah

Bagikan

Shalat di Masjid, Dilempari Telur Busuk
Sunaryono. (dok: aryudi)
Jember, NU Online 
Rumah bordil di Dusun Besini, Desa Puger Kulon Kecamatan Puger Kabupaten Jember, Jawa Timur, sebenarnya merupakan relokasi Pekerja Seks Komersial (PSK) di Kaliputi, Kecamatan Rambipuji, Jember pada tahun 1989. Atas desakan para tokoh dan masyarakat, lokalisasi Kaliputi akhirnya dipindah ke Desa Besini, sebuah dearah yang berbatasan dengan samudera Hindia. Alasannya, karena lokalisasi itu terlalu dekat dengan kota, sehingga dikhawatirkan banyak warga yang terpapar pengaruh bisnis esek-esek tersebut.

Namun setelah berjalan sekian tahun di Besini, masyarakat sekitar juga menuntut penutupan rumah penyedia jasa seks itu. Apalagi lokalisasi tersebut hanya berjarak sektiar 200 meter dari perumahan warga,  dipisah dengan jalan yang terhubung ke JLS (Jalan Lintas Selatan). 

Akhirya berdasarkan SK Bupati Nomor 188.45/39/012/2007, Pemerintah  Kabupaten Jember resmi menutup lokalisasi Besini per 1 April 2007. Sebanyak 169 PSK dipulangkan ke daerah asalnya. Sedangkan para mucikari masih bertahan di situ,  menempati rumah yang ada. Dan kegiatan mengumbar hawa nafsu itupun vakum.

Namun kavakuman tersebut tak bertahan lama. Diam-diam PSK datang lagi, dan beroperasi secara sembunyi. Alasannya klise, karena mucikari tak punya pekerjaan lagi. Bahkan saat ini sudah terang-teranngan PSK di situ melayani para hidung belang.

Kenyataan itu membuat sejumlah tokoh masyarakat setempat dan pengurus Ansor  Puger berisiatif untuk membangun masjid di tengah-tengah lokalisasi Besini. Tujuannya, untuk menyadarkan penghuni lokalilasi, baik mucikari maupun PSK agar kembali ke jalan yang benar. 

Maka tahun 2013, dibangunlah Masjid Nurul Hidayah. Meski masih berupa pondasi dengan sekian tiangnya, namun masjid tersebut sudah dipakai untuk shalat Jumat bahkan untuk shalat tarawih.

“Ya kita gelar tikar, dan atapnya langit. Untuk shalat Jumat waktu itu kita bawa jamaah dari luar,” kata Sekretaris Pimpinan Anak Cabang Ansor Puger, Sunaryono kepada NU Online, Selasa (12/6).

Tentu tidak gampang untuk mendirikan masjid di situ. Sebab, secara tidak langsung keberadaan masjid tersebut secara perlahan akan menggerus mata pencaharian para mucikari yang telah puluhan tahun hidup dengan memanfaatkan PSK. Para geng mucikari pun menentang keras pembangunan masjid, bahkan menebar ancaman segala. “Dulu kalau lagi shalat berjamaah, masjid  dilempari telur busuk,” lanjut Pak Yon, sapaan akrabnya.

Namun perlakuan para mucikari demikian itu tak membuat Pak Pak Yon dan kawan-kawan menyerah. Prinsipnya,  biar anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. (Aryudi Abdul Razaq/Ibnu Nawawi