NU: IDUL FITHRI 1439 H MENUNGGU HASIL RUKYAH KAMIS 14 JUNI 2018::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Lika-Liku Ansor Puger Sadarkan Mucikari Besini (2)

Dakwah dengan Pendekatan Agama, Bukan Kekerasan

Rabu, 13 Juni 2018 16:00 Daerah

Bagikan

Dakwah dengan Pendekatan Agama, Bukan Kekerasan
Jember, NU Online 
Perlawanan yang dilakukan para geng mucikari terhadap pendirian Masjid Nurul Hidayah di tengah kompleks pelacuran Besini, Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, Jember, Jawa Timur berimbas baik. Yakni semakin memacu pengurus Ansor, tokoh masyarakat dan perangkat desa setempat untuk terus berjuang mensterilkan Puger dari bisnis esek-esek. Tentu dengan pendekatan keagamaan, bukan cara kekerasan. 

Masjid menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan. Sebab masjid merupakan tempat ibadah sekaligus lambang religiusitas masyarakat setempat. Sehingga keberadaannya diharapkan dapat membuka mata hati penghuni lokalisasi agar sadar terhadap dosa dan kesalahan yang dilakukan. 

“Sebab, masjid penuh barakah dan kita berharap agar penghuni (lokalisai) Besini, juga dapat barakahnya masjid hingga sadar,” tutur Sunaryono kepada NU Online di Puger, Selasa (12/6). Sunaryono sendiri ketika itu masih menjadi anggota Ansor Puger.

Pada 2016, Masjid Nurul Hidayah selesai dibangun atas bantuan sebuah organisasi non pemerintah. Dengan begitu, langkah Sunaryono dan segenap pengurus Ansor Puger kian lempang untuk mensyiarkan agama di tengah lokalisasi Besini.

Seiring dengan itu, penolakan dari para mucikari pelan-pelan hilang. Sejumlah mucikari juga mulai ikut melakukan shalat berjamaah di masjid berukuran 10 x 10 meter persegi itu. Bahkan sebagian anak mucikari belajar mengaji yang digelar setiap sore di masjid yang ada. Sedangkan pekerja seks komersial atau PSK-nya masih belum ada yang tertarik mengikuti  kegiatan, mungkin karena sebagian besar mereka berasal dari luar Jember.

“Kalau di bulan puasa, mereka libur, pulang kampung,” tukas Ketua Takmir Masjid Nurul Hidayah, Ahmad Fadlillah.

Menurut Mustakim, tokoh Ansor Gumukmas, sebenarnya bisa saja Ansor menurunkan Banser untuk mengobrak-abrik lokalisasi Besini. Apalagi, lokalisasi itu ilegal karena nyata-nyata sudah ditutup oleh Pemerintah Kabupaten Jember. Tapi Ansor memilih jalan lain, yaitu pendekatan keagaman.

“Kalau berhenti karena paksaan, mereka bisa kambuh lagi. Yang ingin kami bangun adalah kesadaran dari jiwa mereka sendiri, sehingga suatu saat mereka berhenti dengan sendirinya,” ungkapnya. (Aryudi Abdul Razaq/Ibnu Nawawi