NU: IDUL FITHRI 1439 H MENUNGGU HASIL RUKYAH KAMIS 14 JUNI 2018::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Gus Dur, Razan Al-Najjar dan Masa Depan Palestina

Rabu, 13 Juni 2018 11:45 Opini

Bagikan

Gus Dur, Razan Al-Najjar dan Masa Depan Palestina
Oleh Libasut Taqwa

Mei 1913, pembuat film asal Rusia, Noah Sokolovsky tiba di Palestina untuk pembuatan film tentang pemukiman Yahudi di sana. Selama mengelilingi negara tersebut antara Mei dan Juni, selesailah sebuah film yang diberi judul The Life of The Jews in Palestine. Sebuah film tentang dinamika kehidupan Yahudi di Palestina yang menjadi awal propaganda perang Israel-Palestina.

Menurut beberapa catatan, nyatalah bahwa Sokolovsky punya andil besar atas konflik kemanusiaan paling satir dalam sejarah Palestina modern itu. Film dengan cepat jadi tontonan wajib di setiap pertemuan tahunan Yahudi (baca: Zionisme) di berbagai belahan dunia. Pada awal-awal tahun setelah diproduksi; Vienna, Rusia, Polandia dan beberapa negara lainnya dicekoki hingga menjorok ke alam kebencian atas rakyat Palestina. 

Arthur Ruppin, peserta kongres Zionis di Vienna dengan pidato yang cukup baik, setelah menonton film itu secara langsung berkata: “...Yahudi seharusnya berusaha untuk menjadi mayoritas di Palestina. Jika Orang Yahudi menginginkan kultur mereka, bahasa mereka, sekolah-sekolah mereka, dan akhirnya angkatan bersenjata mereka menjadi dominan, tak ada cara lain, anda harus melihat film Sokolovsky...” Kita sadar, kini harapan itu terwujud.

Singkat kata, Israel berdiri. Propaganda zionisme sejak itu terus meluas hingga kini. Sebagai respons, dimana-mana muslim bergerak. Berkampanye dengan slogan merebut kembali tanah yang ‘hilang’. Namun apa hendak dikata, bahkan setelah perang Arab 1967 yang memalukan itu, tidak sejengkal pun tanah Palestina kembali direbut. Peta terakhir hanya menunjukan semakin meluasnya wilayah Israel. 

Akan tetapi kita harus betul-betul jernih melihat kasus ini. Mencoba untuk tidak mengambil posisi paling aman, namun juga tidak sepenuhnya buta bahwa eskalasi konflik terjadi begitu cepat (secara kasar dapat dikatakan setiap hari sejak perang Arab). Masalahnya, upaya perdamaian selama ini jika tidak menemui jalan buntu, selalu berakhir dengan kerugian di pihak Palestina, baik dari persentase statistik penduduk, maupun dari sisi geografis wilayah.

Kebuntuan negosiasi, baik kultural maupun struktural pada puncaknya hanya memberikan satu pilihan bagi kedua belah pihak; Berperang. Dari sini kemudian muncul akumulasi masalah; bertahun-tahun lamanya perang hanya mengerek perang baru. Setiap lahir satu perang, maka lahir satu dendam baru. Kita tahu, di setiap dendam, lahir satu korban baru.

Tapi benarkah semiris itu? Setidaknya, ada dua arus besar yang memimpin gerbong penyelesaian konflik Palestina. Sayangnya, keduanya memberikan opsi cukup ekstrim. Pertama, pandangan yang meyakini bahwa konflik Palestina tidaklah serumit urusan Suriah atau konflik domino Arab Spring. Pandangan ini berasumsi bahwa satu-satunya cara terbaik untuk mencapai perdamaian adalah mendongkel Israel dari batu pijaknya di Palestina, bagaimana dan apapun caranya hingga mereka lari lintang pukang.

Kini, sebagian besar Muslim (hanya pandangan personal) setidaknya berada di gerbong pertama. Pandangan kedua nampaknya lebih obsesif dan sekarang menguasai sebagian penuh orientasi politik Zionisme Israel. Mafhum diketahui, grand design Israel Raya bukan isapan jempol belaka. Peta ekspansi geopolitik Israel pasca perang Arab 1967 (teraneksasinya Jalur Gaza, Semenanjung Sinai, Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur dan Dataran Tinggi Golan) menambal kesahihan visi ini. Bagi mereka, Palestina, bagaimana pun harus segera angkat kaki dari tanah Aqsa.

Kedua pilihan di atas demikian jauh senantiasa mewarnai perjalanan sejarah kedua Bangsa pasca Perang Arab 1967 dan secara simultan diperparah oleh aksi saling balas serangan. Bahkan, setelah terbentuknya Munazzamat al-Tahrir Filastiniyyah (PLO) tahun 1960-an, dan Harakah al-Muqawwamah al-Islamiyyah (Hamas) 1987, perdamaian seakan-akan ‘mimpi’ buruk yang musti dihindari. Dengan demikian, baik yang disebut pertama atau pun terakhir, saya kira hanya saling memperjelas tempat jatuh.

Pandangan ketiga sebenarnya punya peluang menawarkan alternatif. Inisiasi damai pasca perang Arab yang demikian gencar baik oleh state actor maupun non state actor, sepertinya bakal menemui jalan terang. Akan tetapi, respon internasional atas nama Amerika memberi ruang sempit terwujudnya upaya tersebut. Jadilah ia hanya berbentuk diktat, draft dan kerangka ilmiah yang tidak pernah ada realisasinya.

Selain itu, solusi “dua negara” sebagai upaya diplomatis win win solution - Yerusalem di bawah mandat internasional- sebagaimana inisiasi terbaru Proposal Perancis, justru mendapat respon negatif dari Israel. Belum lagi, pasca berdamainya Hamas-fatah 2014 lalu (Washington Post, 2013), otoritas politik Israel semakin giat menolak kontinuasi negosiasi yang nampaknya disebabkan Hamas turut campur dalam pemerintahan Palestina yang dikuasai Fatah.

Di tengah itu semua, ada satu kecenderungan yang menjangkiti perasaan dan sikap sebagian kalangan. Satu sikap kepasrahan teologis yang meyakini bahwa Aliyah (Eksodus Yahudi ke Maggido [Yerusalem]) sejak pembantaian Nazi Hitler atas Yahudi, merupakan Aliyah terakhir sebelum hari akhir. Artinya, bahwa perang ini (Israel-Palestina) merupakan nubuwat akhir zaman yang hanya boleh diikuti perkembangannya saja atau setidak-tidaknya bersikap pasif atas dampak dan situasi yang semakin parah.

Wajah pesimisme ini dirawat dengan baik oleh kisah-kisah dramatis bantuan ‘ghaib’ atas perang-perang di palagan Palestina. Semoga, pesimisme ini tidak menginjak akal sehat kita untuk memikirkan sesuatu yang lebih baik dari hanya sekadar mengutuk dan berdoa. 

Alternatif Jalan Damai (?)

Abdul Mutaali, Direktur Pusat Kajian Timur Tengah UI, dalam Tulisan yang dimuat harian Media Indonesia 25 Juli 2017 menyuguhkan satu tulisan berjudul “Kapan Konflik Palestina-Israel Berhenti?.” Tulisan itu mengonfirmasi peristiwa di al-Aqsa 14 juli 2017 lalu, sebagaimana juga dicorongkan banyak media (Al Jazeera, the Telegraph, CNN, dan lain sebagainya) yang mengakibatkan pecahnya kekerasan Tentara Israel atas warga Palestina yang hendak beribadah di Masjid Al-Aqsa. Dengan kata lain, Palestina tidak hanya sedang dibantai fisiknya, tapi juga dicoba untuk “dibunuh” Tuhannya.

Kata “Kapan,” dalam pertanyaan retoris Mutaali, menurut saya menunjukan bahwa pesimisme jalan damai memang menghinggapi siapapun yang mendalami isu Palestina. Namun patut disayangkan, tulisan itu tidak secara cermat mengelaborasi peran Indonesia sebab hanya disinggung pada bagian akhir tulisan. Mutaali gagal mengamati potensi lain yang bisa diraih, selain hanya upaya diplomatis unofficial – dan sedikit dengan negara Timur Tengah- yang kita tahu, tidak sepenuhnya benar-benar menjanjikan baik dari sisi politik maupun rekonsiliasi.
 
Oleh sebab itu kita perlu mendorong satu upaya lain sebagai sebuah eksperimentasi gagasan yang barangkali perlu ditinjau dengan kejernihan pikiran. Sebab, kemampuan mengeja setiap pilihan menjadi sangat penting agar tidak terjerumus pada prasangka buruk atas satu produk pemikiran dan eksperimentasi.

Menengok kembali Inisiasi Gus Dur

Terlalu banyak alasan mengapa kita harus melirik kisah miris Palestina. Saat gencarnya pembangunan “mustahil” megapolitan negara Arab, kita masih harus melihat anak-anak dihantam artileri saat usia bermain mereka. Ketika para pangeran Arab dan negeri muslim lainnya menikmati gedung pencakar langit serta hebohnya pembangunan di sekitar Ka’bah, kita dipaksa melongok bocah lusuh yang belum tahu arti perang, melempar Tank Israel dengan kerikil.

Tewasnya Razan Asyraf Al-Najjar, perawat sukarela Palestinian Medical Relief Society (PMRS) di Khuza’a (selatan Gaza) 1 Juni lalu menunjukan isu Israel-Palestina kian bergerak ke arah buritan. Artinya, bagaimanapun beringasnya penindasan di sana, tidak lagi menjadi isu sentral negara-negara di dunia. Selusin upaya menekan Amerika dan sekutunya sebagai negara berpengaruh atas konflik itu, hanya selalu berakhir keputusan njomplang yang merugikan salah satu pihak.

Menurut KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), negara-negara Islam perlu memiliki terobosan yang selama 50 tahun terakhir berkarat dalam dunia diplomasi negara-negara muslim karena posisinya yang sarat kontroversi. Membuka hubungan dengan Israel.

Gus Dur (1940-2009) yang seorang kiai merupakan salah satu intelektual besar Islam yang tak hanya memahami peta politik internasional namun sekaligus mampu berkomunikasi dalam gaya politik ‘tingkat tinggi’. Kehadirannya dalam konferensi bisnis Internasional tiga hari setelah menjabat presiden melandasi keinginan membuka hubungan dagang dengan Israel.

Sontak, kontroversi dan gelombang protes bergulir menolak ide ini. Berbagai protes bahkan dari Amien Rais pada waktu itu terus menghimpit dan mengambil hati sebagian besar kehendak rakyat (Barton, G. J. 2005. Indonesia and Israel: a relationship in waiting. Jewish Political Studies Review, 17 (1), 157-170).

Hingga sekarang, tak ada akses berarti yang dapat dilakukan Indonesia untuk Palestina (Bantuan rakyat Indonesia dalam pembangunan infrastruktur seperti rumah sakit nyatanya tidak mampu membongkar pembicaraan lebih lanjut dalam politik tingkat tinggi negara-negara besar dunia).

Padahal, sebagaimana analisis Budiarto Shambazy, Politik Luar Negeri Gus Dur, 2010 lalu di Harian Kompas, pernyataan politik luar negeri perdana Gus Dur mengumumkan rencana pembukaan hubungan dagang dengan Israel dapat dimaknai dengan dua alasan: Pertama, menggairahkan hubungan dengan lobi Yahudi.

Indonesia paling tidak bisa minta tokoh Yahudi, George Soros, tak mengacaukan pasar uang/modal untuk menghindari krisis moneter. Kedua, meningkatkan posisi tawar Indonesia menghadapi Timur Tengah yang tak pernah membantu Indonesia mengatasi krisis moneter.”

Selain itu Gus Dur mengintrodusir beberapa elemen utama dalam politik luar negeri Indonesia; menjaga jarak sama dengan semua negara, hidup bertetangga baik dan menciptakan ”kebajikan universal” serta memberi syarat agar Indonesia dilibatkan dalam proses perdamaian di Timur Tengah. Dengan demikian, Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia, akan didengar di ranah internasional (Kompas, 26 Oktober 1999).

Upaya Gus Dur membuka hubungan dagang dengan Israel nampaknya membenarkan pepatah lama “kenali musuhmu, maka di seribu pertempuran kau tidak akan kalah.” Dengan berteman dengan ‘lawan’ kita akan tahu dimana posisi yang menguntungkan dan pada momen apa kelemahan-kelemahannya bisa terkuak.

Akan tetapi itu semua tinggal kenangan. Hingga presiden Joko Widodo memimpin indonesia, kita belum juga punya formula revolusioner yang memantik perubahan tata dunia global dalam isu Palestina seperti saat Gus Dur menjabat. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang diharapkan punya gigi, kini hanya agensi yang tak punya fungsi. Kemanusiaan telah lama mati. Pada posisi ini, seringkali orang merasa perlu lepas dari sejarah, telanjang kembali ke pulau imajiner tak bercacat, karena peradaban bisa menakutkan.

Palestina adalah pengalaman pahit, yang terus berharap bayangan aura Tuhan. Ke depan, barangkali kita akan terus mendengar cerita-cerita kemenangan getir Israel dikemudian hari disisipi jiwa kepahlawanan para martir Palestina. Kita memang mengakui, Palestina kini, sebagaimana ungkap Mahmoud Darwish, “bepergian seperti orang lain, tetapi tak tahu kemana harus pulang.”

Penulis adalah Peneliti Wahid Foundation