::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Dekan Febi IAIN Jember: Perlu Dibudayakan Zakat Produktif

Rabu, 13 Juni 2018 17:30 Daerah

Bagikan

Dekan Febi IAIN Jember: Perlu Dibudayakan Zakat Produktif
Mochammad Chotib. (dok: Aryudi)
Jember, NU Online
Pembagian zakat secara langsung kepada mustahik (penerima zakat) dalam bentuk barang konsumsi perlu dievaluasi. Sebab cara tersebut dinilai kurang efektif untuk mengentas kemiskinan dalam jangka panjang. 

Penilaian tersebut disampaikan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (Febi) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember, Jawa Timur, Mochammad Chotib kepada NU Online di kantornya, Selasa (12/6).

Menurutnya, pembagian zakat semacam itu hanya bisa menghilangkan dahaga sementara walaupun bukan hal buruk.  Sebab barang  konsumsi akan cepat habis seiring dengan kebutuhan hidup manusia. 

"Namun secara ekonomi tentu kurang memiliki efek yang besar dalam jangka panjang untuk mengentas kemiskinan," tuturnya.

Ia menambahkan, sejatinya instrumen zakat dan sedekah memang bertujuan untuk meningkatkan derajat ekonomi umat sehingga kaum kelas sosial terendah seperti fakir miskin dan dhuafa wajib diprioritas dalam penyaluran zakat.

"Untuk sasarannya mungkin sudah betul, tapi orientasi peruntukannya masih perlu diperbaiki," jelasnya.

Dalam pandangan Islam, kata Chotib, zakat yang lebih dianjurkan adalah zakat produktif, yaitu penyaluran zakat dalam bentuk pemberdayaan kemandirian ekonomi melalui modal wirausaha beserta keterampilan dan peralatannya. 

Sehingga kelak status sosialnya berubah dari  penerima zakat ke pemberi zakat atau muzakki. Atau bisa juga zakat diwujudkan beasiswa pendidikan bagi anak warga miskin dan yatim piatu. 

Untuk sistem penyaluran zakat seperti itu memang butuh biaya. Karenanya, lanjut Chotib, lebih baik zakat diberikan kepada lembaga atau badan amil zakat yang kredibel agar dana zakat seluruh warga bisa terkumpul dan disalurkan lebih mengena untuk menanggulangi kemiskinan. 

“Saya kira ke depan, penyaluran  zakat untuk kepentingan produktif perlu dibudayakan,” pungkasnya . (Aryudi Abdul Razaq/Ibnu Nawawi