::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Lika-Liku Ansor Puger Sadarkan Mucikari Besini (3-Habis)

Di Ujung Lorong yang Gelap Pasti Ada Cahaya

Kamis, 14 Juni 2018 06:00 Daerah

Bagikan

Di Ujung Lorong yang Gelap Pasti Ada Cahaya
Jember, NU Online 
Para tokoh Ansor Puger dan Gumukmas tiada henti-hentinya berupaya untuk menghidupkan masjid  Nurul Hidayah yang terletak di tengah kompleks lokalisasi Besini, Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, Jember, Jawa Timur. Sebab semakin  masjid tampak hidup, syiarnya semakin menjulang. Dari situ penghuni lokalisasi Besini diharapkan terenyuh jiwanya untuk kemudian kembali ke jalan yang diridlai Allah.

Tidak hanya hari besar keagamaan yang digelar di masjid tersebut, aktifitas Ansor seperti Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) penutupannya hampir selalu ditempatkan di halaman masjid, yang kebetulan cukup  luas. Selain itu, setiap Senin, digelar Yasinan untuk Muslimat. Dan setiap Jumat, Yasinan untuk Muslimin. Pesertanya sebagian juga dari lokalisasi. 

Memang untuk menyadarkan mereka agar kembali ke jalan yang benar mungkin masih jauh. Tapi setidaknya tekad telah dipancangkan oleh para pengurus Ansor, dan itu tidak akan sia-sia. Sebab, di ujung lorong yang gelap pasti ada seberkas cahaya.

“Kami tak pernah memaksa karena itu soal hidayah, dan itu Allah yang beri,” jelas Ketua Takmir Masjid Nurul Hidayah, Ahmad Fadlillah, yang juga anggota Ansor Puger.

Ibadah kepada Allah dan perbuatan mungkar adalah dua hal yang bertentangan. Tapi inilah yang terjadi di lokalisasi Besini. Yang pasti, seburuk apapun perilaku manusia, keinginan untuk kembali ke jalan yang diridlai Allah pasti ada. Hati kecil manusia tidak bisa mengingkari kebenaran. Namun desakan ekonomi, terkadang membuat menghalalkan segala cara demi kesinambungan hidup.

“Mereka (mucikari dan PSK) tetap rindu kebenaran, rindu Allah, tapi tak kuasa,” kata Wakil Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Jember, Moch Eksan saat buka bersama di Masjid Nurul Hidayah belum lama ini.

Menjadi  PSK, tentu bukan pilihan ideal. Hati kecilnya pasti memberontak terhadap apa yang mereka perbuat. Namun keadaanlah yang memaksa mereka untuk  melacurkan diri. Keadaan tersebut bisa berupa krisis ekonomi, keputus-asaan dan sebagainya yang bersumber dari kegalauan jiwa.

“Dalam posisi kesulitan ekonomi, bisa jadi mereka tidak punya pilihan lain kecuali menceburkan diri dalam dunia remang-remang,” lanjut wakil rakyat provinsi Jawa Timur tersebut.

Eksan yakin tidak ada manusia  yang ingin menjadi kupu-kupu malam. Namun pilihan  pahit itu harus diambil ketika alam dan lingkungan dirasa tidak bersahabat. Sebuah lorong gelap telah dijalani. Namun tidak jarang mereka meneteskan air mata menyesali pekerjaannya. Tapi tentu tangisan itu tidak punya arti apa-apa karena tuntutan ekonomi tidak bisa dibayar hanya dengan air mata. (Aryudi Abdul Razaq/Ibnu Nawawi).