::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

RAMADHAN DI LUAR NEGERI

Nyarkub di Negeri Octopus-Hong Kong

Kamis, 14 Juni 2018 17:00 Internasional

Bagikan

Nyarkub di Negeri Octopus-Hong Kong
Oleh H Khumaini Rosadi

Jalan-jalan yang tidak hanya sekedar senang-senang menghabiskan uang caranya adalah nyarkub (nyarjana kuburan). Dengan nyarkub, jalan-jalan lebih bermakna, bisa mengingatkan kematian, mampu menghindarkan pelakunya dari kesombongan, dan dapat meningkatkan iman dan takwa. Nyarkub adalah sebutan bagi orang yang melakukan sarkub. Sarkub adalah kependekan dari sarjana kuburan–istilah kekinian bagi peziarah kubur yang datang untuk mendoakan penghuni kubur dan mengambil pelajaran bahwa suatu saat cepat atau lambat pasti akan menjadi penghuni kubur.

Hari Selasa (29/5) lalu, saya dan teman-teman Dai Ambassador HK (Zulfirman dan Eva Muzlipah) melakukan ziarah dari masjid ke masjid di Hong Kong. Dipimpin oleh General Manager DDHK Mohammad Ilham, kami memulainya dari Masjid Chai Wan yang bersebelahan dengan kuburan Muslimin. Kami melanjutkan ke masjid tertua di Hongkong–Jami’a dan berakhir di Masjid Ibrahim yang terletak di Hoi Wang Road, Yau Ma Tei.

Kabarnya, setelah Idul Fitri nanti, masjid Jami'a ini akan dipindahkan ke daerah Mong Kok. Masjid ini akan segera dibongkar karena di sekitarnya akan dibangun terminal bus dan MRT (Mass Transit Railways) Yau Ma Tei.

Berhubung cuaca sangat panas sekali sampai 37 derajat celcius, timbul rasa dahaga yang begitu mengeringkan tenggorokan. Hari itu kami hanya sanggup mengunjungi tiga buah masjid bersejarah tersebut di Hong Kong.

Masih banyak lagi masjid yang belum kami kunjungi seperti Masjid Ammar di daerah Wan Chai, Masjid Stanley di Kawasan Lapas Nara Pidana kasus berat Hong Kong, dan masjid Kowloon yang terletak di Tsim Shai Tsui (TST) Kowloon. Saya dengar akan segera dibangun juga masjid Indonesia oleh orang-orang Indonesia yang ada di Hong Kong. Semoga cepat terwujud.

Untuk ziarah masjid ini, kami menggunakan jasa transportasi umum, yaitu bus dan MRT. Harus disiapkan saldo yang cukup pada kartu Octopus. Bagi yang aktif sekali kegiatannya, dalam satu bulan minimal bisa menghabiskan $5000 DHK. Setara dengan 8,890,787.45 IDR sesuai kurs hari ini $1 DHK = Rp.1,778.2 , seperti yang dialami oleh Mohammad Ilham.

Kalau ingin berkunjung ke Hong Kong maka harus memiliki kartu Octopus ini. Lupa tidak membawa kartu ini, siap-siap saja repot dengan uang kontannya. Cukup dengan satu kartu Octopus ini, kita bisa naik bus, ferry dan trem. Kartu ini juga bisa digunakan untuk pembelian di toko, restoran, supermarket, bakery, mesin penjual, dan masih banyak lagi- tanpa repot membawa uang receh. Inilah kartu multifungsi. Bisa digunakan untuk berbagai keperluan di Hongkong. 

Setiap berziarah di masjid-masjid yang kami kunjungi, selalu kami sempatkan berfoto-foto sebagai bukti fisik bahwa kami pernah berkunjung di sini dan langsung di-posting di media sosial. Setiap  postingan pasti akan ada komentar dari jamaah. Salah satunya adalah Ibu Wati–Pendiri Majelis Taklim Nurul Hidayah di Yuen Long yang jamaahnya berjumlah kurang lebih tiga puluh orang.

Ternyata majelis taklim ini juga punya program Sarkub setiap tahunnya. Dimulai dengan mengunjungi masjid-masjid se -Hong Kong, dilanjutkan berziarah ke Guangzhou. Di sana terdapat makam sahabat Nabi yang pernah bertugas dakwah di China, Sa’ad bin Abi Waqas.

Melihat postingan kami berkeliling ziarah masjid, akhirnya kami direncanakan oleh Ibu Wati akan diundang ke Hong Kong kembali saat Milad Nurul Hidayah nanti, untuk memandu sarkub ke makam sahabat Nabi tersebut. Amin. Insyaallah.

Saya menganjurkan marilah berziarah ke makam-makam orang-orang shaleh. Mendoakannya dan mengambil pelajaran hikmah tentang kematian. Bahwa tidak selamanya manusia hidup di dunia. Cepat atau lambat akan menyusul mereka. Manusia pasti akan berpindah dari alam dunia ke alam berikutnya, yaitu alam barzakh atau alam kubur. Semoga kita selalu istiqomah beramal sholeh sebagai bekal untuk menghadapi alam kubur.

Penulis adala Corps Dai Ambassador Dompet Dhuafa, Tim Inti Dai Internasional dan Multimedia (TIDIM) LDNU yang ditugaskan ke Hong Kong dan Macau.