NU: IDUL FITHRI 1439 H MENUNGGU HASIL RUKYAH KAMIS 14 JUNI 2018::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Tuntul, Simbol Transformasi Pencerahan

Kamis, 14 Juni 2018 18:30 Daerah

Bagikan

Tuntul, Simbol Transformasi Pencerahan
Masyarakat Bolaang Mongondow di Sulawesi Utara memiliki tradisi monuntul atau malam pasang lampu. Monuntul atau tuntul dilakukan pada tiga malam terakhir Ramadhan, atau 29-30 Ramadhan.

Memeriahkan monuntul warga berbondong-bondong membuat lampu botol. Ada yang berbahan bakar minyak tanah, ada pula yang bahan bakarnya minyak kelapa. Mereka meletakkannya di depan rumah masing-masing sesuai dengan jumlah keluarga yg menempati rumah tersebut. 

Sementara di tingkat pemerintah kelurahan/desa, biasanya mereka menghias lapangan tempat pelaksanaan shalat Id dengan lampu botol (tuntul). Seiring berkembangnya zaman mereka mengkolaborasikannya dengan lampu hias listrik sehingga tradisi monuntul ini dari tahun ke tahun kelihatan lebih cantik dan indah.

Pada tradisi monuntul yang melakukan adalah semua elemen masyarakat, dari anak-anak sampai dengan orang tua. Biasanya remaja dan orang tua bertugas menyiapkan tempat pelaksanaan tuntul yang terbuat dari bambu. Ada yang berbentuk lafaz 'Allah', 'Muhammad', ada pula tulisan-tulisan Ramadhan dan "Selamat Idul Fitri' dan sebagainya.
Sementara anak-anak biasanya bertugas menyalakan lampu (tuntul) yang padam.

Puncak pelaksanaan tradisi ini biasanya selepas shalat tarawih, dan semua warga pun sangat antusias. Bahkan mampu menyedot wisatawan lokal maupun mancanegara.

Tuntul secara umum terbuat dari botol minuman air mineral (aqua gelas) maupun botol bekas minuman M150, Kratingdeng, dan botol-botol kecil lainya.

Tuntul yang dari gelas aqua biasanya berbahan bakar minyak kelapa, di mana di bawahnya diisi dengan air yang sudah dicampur dengan berbagai macam aneka warna. Kemudian setengah di atasnya diisi bahan bakar minyak kelapa yang mengapung di atas air bersoda tersebut.

Dengan begitu, tuntul kelihatan lebih indah dengan warna-warna dan ramah lingkungan karena minyak kelapa tidak memproduksi banyak asap. Sementara botol kecil minuman penambah tenaga seperti M150 dsb, itu bahan bakarnya minyak tanah.



Tuntul dalam bahasa daerah Bolaang Mongondow, artinya lampu. Sering disebut tradisi monuntul yang artinya malam pasang lampu. Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun lalu.

Anak-anak kecil terlihat bahagia sekali menyambut ritual ini. Setelah selesai shalat tarawih, mereka biasanya bermain di jalanan atau di lapangan sambil melihat-lihat tuntul yang padam, kemudian mereka menyalakannya lagi.

Saat ini, setiap pemerintah di Kabupaten/Kota di Bolaang Mongondow Raya menjadikan tuntul sebagai lomba untuk menjaga tradisi tersebut agar tetap terawat. Desa pemenang lomba tersebut yakni dengan dekorasi tuntul terbaik akan mendapat hadiah dan uang pembinaan senilai puluhan juta rupiah.

Bahkan di Provinsi Gorontalo setiap tahunnya menyelenggarakan Festival Tumbilotohe dalam bahasa daerah Gorontalo, yang artinya sama dengan monuntul dalam Bahasa Daerah Bolaang Mongondow.

Jika diselami hakikatnya ternyata memiliki makna yang sangat dalam. Monuntul atau di Gorontalo dikenal dengan Tumbilotohe pada zaman dahulu merupakan upaya untuk menerangi jalan yang sering dilalui orang-orang saat pergi beribadah. Dengan suasana terang benderang dipersepsikan orang-orang akan semakin giat dan bersuka cita ke masjid atau berzakat fitrah.

Dalam tataran filosofis, monuntul hadir untuk menyingkap jalan kegelapan menjadi terang benderang. Konsep ini sepadan dengan bahasa Al-Quran yakni min al-dhulumat ila al-nur (dari kegelapn menuju cahaya). Kata al-dhulumat oleh para mufassir seringkali dimaknai kekafiran, kedurhakaan atau kesesatan. Sedangkan kata al-nur biasanya dimaknai iman, tauhid, petunjuk, jalan lurus atau ketaatan.

Namun, di dalam kitab Shafwat al-Tafasir ditafsirkan konsep min al-dhulumat ila al-nur yang terdapat pada surat Ibrahim ayat 1, adalah untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan, kebodohan, dan kesesatan menuju cahaya ilmu dan iman. Di sini kata al-dhulumat mencakup makna kebodohan sedang kata al-nur juga mencakup makna cahaya ilmu. Sehingga, konsep tersebut bukan hanya berdimensi dan berorientasi dakwah tetapi juga berdimesi dan berorientasi konstruksi intelektual.

Monuntul sejatinya ditradisikan oleh para pendahulu sebagai kearifan lokal untuk mencerahkan. Tradisi tuntul diciptakan justeru sebagai dasar mentransformasikan kegelapan dosa dan kebodohan menuju cahaya ketakwaan dan pencerahan ilmu pengetahuan setelah Ramadhan.

Proses transformasi inilah yang seharusnya menjadi pusat perhatian kita. Bagaimana mengubah tindakan negatif menjadi positif, destruktif menjadi konstruktif, mengubah kondisi negatif-destruktif menjadi positif-konstruktif.

Pengasuh Pondok Pesantren Al Lutfi, Bolaang Mongondow, Ustadz Irawan Paputungan mengatakan tuntul atau monuntul sebagai tradisi simbolisasi makna yang sarat hikmah dan  sejarah Islam khususnya di wilayah Sulawesi Utara dan Gorontalo. 

Ia pun menyambut baik karena ritual ini masih dipertahankan dan dijaga sampai sekarang. "Monuntul merupakan pengejawantahan hikmah dari kata tuntul, monoga sinba moyodungkul; diterangi agar bertemu," ujarnya Kamis (14/6).

Dalam keyakinan dan ruang batin mayarakat adat Mongondow yang diterangi adalah jalan para leluhur dan keluarga yang telah lama meninggal datang mengunjungi masing-masing keluarganya di setiap rumah.
 
Ketika Islam masuk keyakinan itu tidak ditentang apalagi dihilangkan. Justeru dijaga dan diluruskan pemaknaannya. "Keyakinan dasar bahwa hubungan antara yang hidup dengan yang telah meninggal dijadikan dasar landasan tentang ajaran kehidupan sesudah mati," tambahnya.
 
Selain itu tuntul juga dijadikan media dakwah. Ketika Ramadhan yang identik dengan 'Malam Seribu Cahaya' diselipkanlah seruan untuk banyak beribadah agar cahaya Ketuhanan masuk dalam setiap rumah dan penghuninya. Maka jumlah tuntul disesuaikan dengan jumlah penghuni rumah.

"Selanjutnya sembari menyalakan tuntul penghuni rumah membaca Surat al-Qadr seraya mengharap mendapatkan berkah Malam Lailatul Qadar. Dengan demikian maka para ulama pun dapat dengan mudah mengenal dan mengetahui mana rumah yang dinyalakan tuntul berarti sudah memeluk Islam dan mengetahui jumlah keluarga yang wajib menunaikan fitrah dalam setiap rumah penduduk," papar Ustadz Irawan.

Menurutnya tradisi dan ritual tuntul adalah satu cara yang sungguh santun dan bijaksana dari para ulama dalam mengajak umat kepada Jalan Tuhan (sabili rabb) tanpa mempermasalahkan kebiasaan-kebiasan umat yang lebih mengutamakan maksud, isi dan tujuan. Hal ini sejalan pula dengan konsep Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Semoga tradisi “tuntul” dapat terus dilestarikan tidak hanya dalam tataran perayaan semata melainkan ikut merubah sikap manusia Bolaang Mongondow menjadi manusia-manusia tercerahkan baik dalam iman, ilmu dan ketakwaan. (Murdani Mokodongan/Donal Qomadiansyah/Kendi Setiawan)