NU: IDUL FITHRI 1439 H MENUNGGU HASIL RUKYAH KAMIS 14 JUNI 2018::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Haji Ali, Donatur Pembangunan Masjid Empat Pesantren

Kamis, 14 Juni 2018 23:30 Daerah

Bagikan

Haji Ali, Donatur Pembangunan Masjid Empat Pesantren
Cirebon, NU Online
Sekitar dua dasawarsa pertama di abad 20, seorang donatur dari Kanggraksan, Kota Cirebon mendermakan hartanya untuk membangun masjid tiga pesantren Cirebon, yakni Pondok Buntet Pesantren, Pondok Pesantren Benda, dan Pondok Pesantren Gedongan.

Kemudian, atas permintaan KH Said, pimpinan Pesantren Gedongan, donatur itu juga membangun masjid di Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta.

"Ada seorang donatur yang mendermakan hartanya untuk membangun beberapa masjid," cerita KH Ade Nasihul Umam, ketua Dewan Khidmat Masjid (DKM) Masjid Agung Buntet Pesantren, beberapa waktu berselang.
 
Karena donatur yang sama, arsiteknya pun sama. Maka, arsitektur empat masjid tersebut tidak jauh berbeda, terutama pada mihrab dan gentingnya.
 
Bagian atas mihrab berbentuk setengah lingkaran. Sementara samping kanan dan kirinya terdapat lis seperti tiang yang tampak lengkungan setengah lingkaran dan beberapa garis.
 
Sementara itu, gentingnya berbentuk segitiga dengan tiga tingkatan. Hal ini, kata Kiai Ade, sebagai simbol iman, Islam, dan ihsan.
 
"Bagian genting ada tiga susun, iman Islam, ihsan," katanya.
 
Dilansir dari Almunawwir.com, situs resmi Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, seorang dermawan bernama Haji Ali membeli tanah milik Jopanggung untuk dijadikan masjid. Haji Ali ini juga yang membangun keempat masjid pesantren tersebut.
 
Namun demikian, Masjid Agung Pondok Pesantren Gedongan dan Masjid Agung Pondok Pesantren Krapyak telah mengalami renovasi total. Sementara itu, Masjid Agung Pondok Pesantren Benda dan Masjid Agung Buntet Pesantren masih mempertahankan arsitektur lamanya sampai saat ini.
 
Pondok Buntet Pesantren, Pondok Pesantren Benda, dan Pondok Pesantren Gedongan memang memiliki hubungan darah. Kiai Abdul Jamil Buntet, Kiai Soleh Benda, dan istri dari Kiai Said Gedongan, Nyai Maemunah, merupakan kakak adik, putra dari KH Mutaad.
 
Sementara itu, Kiai Munawwir, pendiri Pondok Pesantren Krapyak, memiliki hubungan erat dengan Kiai Said dan KH Abdul Jamil. Putra Kiai Said, yakni KH Murtadlo yang kelak menjadi menantu KH Abdul Jamil merupakan santri pertama Kiai Munawwir. (Syakir NF/Ibnu Nawawi