::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Setelah Maaf-Memaafkan, Lalu Apa?

Sabtu, 16 Juni 2018 12:50 Ramadhan

Bagikan

Setelah Maaf-Memaafkan, Lalu Apa?
Ilustrasi (ist)
Maaf-memaafkan tidak terlepas dari dampaknya terhadap kehidupan yang luas di tengah masyarakat. Maaf-memaafkan bukan hanya menjadi tradisi umat Islam di Indonesia tiap Idul Fitri atau Lebaran tiba, tetapi juga dianjurkan dalam syariat Islam dalam memanifestasikan makna Idul Fitri itu sendiri, yakni kembali kepada kesucian seperti seorang bayi yang baru terlahir ke alam dunia.

Perihal meminta maaf, seseorang membutuhkan sikap ksatria untuk mengakui segala kesalahannya kepada orang lain. Hal ini berangkat dari diktum bahwa meminta maaf tak semudah memberi maaf. Namun tidak lantas bahwa memberi maaf juga persoalan mudah, karena ia menuntut kelapangan dada untuk menerima maaf orang yang pernah menyakiti hatinya.

Mengingat dalamnya arti meminta dan memberi maaf, sebuah pertanyaan terlontar, adakah yang lebih tinggi tingkatannya daripada maaf (al-afwu)? Mengingat sikap saling memaafkan merupakan ajaran Nabi Muhammad SAW dan salah satu sifat yang dimiliki Allah SWT, yaitu Maha Pengampun dan Maha Pemberi Maaf.

Al-Qur’an mengajarkan bahwa dalam maaf-memaafkan butuh sikap ksatria dan kelapangan dada, ini benang merah yang dapat ditarik. Pakar Tafsir Al-Qur’an Prof Dr Muhammad Quraish Shihab dalam karyanya Membumikan Al-Qur’an (1999) menerangkan, tingkatan yang lebih tinggi dari al-afwu adalah al-shafhu. Kata ini pada mulanya berarti kelapangan

Dari al-shafhu dibentuk kata shafhat yang berarti lembaran atau halaman, serta mushafahat yang berarti berjabat tangan. Seseorang melakukan al-shafhu seperti anjuran ayat yang dipaparkan di awal, dituntut untuk melapangkan dadanya sehingga mampu menampung segala ketersinggungan serta dapat pula menutup lembaran lama dan membuka lembaran baru. Inilah esensi dari Hari Raya Lebaran atau Idul Fitri.

Mengutip Al-Raghib Al-Asfahaniy dalam bukunya itu, Quraish Shihab mengemukakan bahwa al-shafhu yang digambarkan dalam bentuk berjabat tangan itu memiliki makna yang lebih tinggi dari memaafkan.

Bukankah masih ada satu-dua titik yang sulit bersih dalam lembaran yang salah walaupun kesalahannya telah dihapus? Atau bukankah lembaran yang telah ternoda walaupun telah bersih kembali tidak sama dengan lembaran yang baru? 

Dari renungan-renungan tersebut, dapat ditarik esensi bahwa membuka lembaran baru merupakan langkah yang sangat penting. Sama signifikannya ketika masing-masing orang yang terlibat dalam sebuah kesalahan untuk menutup lembaran lama.

Dengan demikian, hakikat Idul Fitri (kembali kepada kesucian) dapat diraih seseorang sebagai wujud peneguhan sikap ihsan setelah penguatan iman dan Islam, karena itulah yang paling disukai Allah. Wallahu ‘alam bisshawab(Fathoni)