::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Kita Berpuasa Ulat atau Ular?

Ahad, 17 Juni 2018 05:00 Esai

Bagikan

Kita Berpuasa Ulat atau Ular?
Oleh Disisi Saidi Fatah

Tak terasa sebulan penuh sudah kita lalui, bulan Ramadhan pun telah usai. Kini syawal menyambut kita dengan hari penuh kemenangan. Di hari kemenangan yang fitri ini marilah kita bersama-sama saling memaafkan dan saling membersihkan hati serta menyucikan diri, dari berbagai kesalahan baik dari tutur kata, ucapan, pandangan mata, serta prilaku kita baik yang disengaja ataupun tidak.

Sahabat semua, sebelum kita melangkahkan kaki terlalu jauh. Dan sebelum Ramadhan beserta keluarga besar jauh meninggalkan kita semua, mari kita bersama-sama untuk trowback, melihat kembali seberapa besar perbuatan yang telah kita perbuat dalam kehidupan di bulan yang suci ini. 

Bagaimanakah sikap serta prilaku kita. Apakah puasa kita menjadi puasa sebagaimana yang dilakukan seekor ulat ataukah seperti yang dilakukan seekor ular? Hal ini perlu kita benahi dan perlu kita intropeksi kembali.

Sahabat, ketahuilah, sebagaimana seekor ular dan ulat pun ikut berpuasa. Dalam hal ini mereka berpuasa untuk tujuan masing-masing. Sebagaimana kita ketahui, seekor ular ia akan berpuasa untuk menahan makan dan haus, dalam beberapa waktu untuk mengganti kulitnya. Setelah ia melalui proses tersebut, maka ia akan mengubah penampilannya, yakni; mengubah kulitnya dari yang lama menjadi yang baru. 

Ketika ulat berpuasa ia akan masuk kedalam kepompong untuk beberapa waktu, melalui proses sampai tiba saatnya ia berubah menjadi seekor kupu-kupu yang cantik jelita. 

Berbeda dengan ular, seekor ulat yang berpuasa dan berproses ia bisa berubah menjadi seekor kupu-kupu, bahkan bukan hanya namanya saja yang berubah, penampilan dan prilakunya pun ikut berubah. 

Seperti yang kita ketahui, ulat sebelum ia menjadi kupu-kupu ia memakan tanaman, merusak tanaman, dengan tampilan yang bahkan terkadang kita jijik untuk menyentuhnya, apalagi jika sampai ia menimbulkan rasa gatal pada tubuh kita. Namun setelah ia melalui proses yang panjang, mengasingkan diri dan menyepi, sampai tiba akhirnya ia kembali keluar dengan tampilan yang berbeda, bukan hanya tampilannya saja yang begitu cantik jelita yang membuat jatuh cinta setiap insan yang melihatnya, nama, sampai makanannya pun ikut berubah, dari memakan daun-daunan sampai makan madu yang begitu manis, dari yang tadinya merusak tanaman ia berubah ikut membantu penyerbukan bunga. 

Subhanallah, begitu indahnya proses itu. Namun tidak untuk seekor ular. Ular yang berpuasa, melalui proses panjang, namun ala yang ia dapatkan? Tetap saja ia tak berubah, hanya saja kulitnya yang baru. Ia masih saja ditakuti, makanannya pun masih sama. 

Nah, sahabat semua, bagaimanakah puasa kita? Apakah kita mengikuti puasanya ulat atau malah justru mengikuti puasanya seekor ular? Jangan sampai apa yang telah kita lakukan di bulan yang Ramadhan kemarin hanya sia-sia belaka, tak ada manfaat dan perubahan pada diri kita. 

Semoga segala amal ibadah kita menjadi amal ibadah yang lillahi ta'ala, yang Allah ridhoi dan membawa keberkahan.

Khoirunnas anfa'uhum linnas, sebaik-baiknya manusia ialah yang bermanfaat bagi manusia yang lain. 

Taqabalallahu minna wa minkum shiyamana wa siyamakum, kullu 'aamin wa antum bil khair.