::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kiai Durakhman Telepon Kiai Dulah Buntet

Ahad, 17 Juni 2018 15:13 Fragmen

Bagikan

Kiai Durakhman Telepon Kiai Dulah Buntet
Malam telah melewati tengahnya. Tentu pukul 12 lebih. Tetapi, telepon berdering begitu saja. Seolah tak peduli pemiliknya tengah bersiap menuju istirahat atau bahkan sedang istirahat.

Karena sedang terjaga, telepon itu akhirnya diangkat juga.

"Halo, maaf dengan siapa?" ucap penerima pertama kali sekaligus menanyakan identitas penelepon malam-malam itu.

"Ini dari Durakhman," jawab penelepon itu, "Kiainya ada?" lanjutnya bertanya.

"Ada. Durakhman siapa?" penerima itu kembali bertanya.

"Temannya Pak Kiai dari Jakarta," jawabnya.

Penerima pun berpikir sendiri. Dalam benaknya, ayahnya tak punya rekan bernama Durakhman.

"Siapa sih teh?" tanya kiai.

"Durakhman jeh, Pak. Katanya teman Bapak dari Jakarta," jawab penerima yang putrinya itu.

Penerima itu langsung ditegur oleh sang kiai. "Teteh (sapaan ke putrinya) ngomong apa aja?"

"mBoten, baru nanya aja."

"Itu tuh Gus Dur," kata kiai yang sesepuh Buntet Pesantren Cirebon itu, KH Abdullah Abbas.

Begitulah Nyai Hj Ismatul Maula, putrinya, bercerita kepada penulis saat sowan Idul Fitri 1439 H. Menurutnya, Kiai Dulah, sapaan akrab masyarakat kepada KH Abdullah Abbas, sering mengobrol dengan Gus Dur lewat tengah malam dan cukup lama.

Teh Isma tidak menyadari jika Durakhman itu Gus Dur. "Kenapa tuh enggak bilang saya Gus Dur saja," sesalnya.

KH Abdullah Abbas adalah salah satu tokoh kunci saat pengajuan Gus Dur sebagai calon presiden pada tahun 1999 lalu. Kiai Dulah seakan tak rela rekan perjuangannya itu menjadi tumbal reformasi. Sampai-sampai, kata putranya, H Mohamad Mustahdi Abdullah Abbas, ia menangis saat pemilihan Gus Dur sebagai presiden itu berlangsung.

Kedekatan dua tokoh besar itu bukan tiba-tiba. Kakek Gus Dur, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari, dan ayah Kiai Dulah, KH Abbas Abdul Jamil, sangat akrab. Keduanya berjuang membela dan mempertahankan tanah air Indonesia. Sampai-sampai Hadratussyaikh meminta perang di Surabaya itu menanti kehadiran Singa dari Jawa Barat yang tak lain adalah Kiai Abbas. (Syakir NF)