::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Ketika Tetamu Allah Dijamu Raja

Rabu, 20 Juni 2018 19:00 Fragmen

Bagikan

Ketika Tetamu Allah Dijamu Raja
KH Zainul Arifin dan Menteri Agama KH Masykur melakukan pembicaraan formal kenegaraan dengan Wakil Perdana Menteri Kerajaan Arab Saudi di istana Riyadh 1955
Oleh: Ario Helmy

Wakil Perdana Menteri Kabinet Ali Sastroamijoyo I atau Kabinet Ali-Arifin (1953-1955), KH Zainul Arifin dan Menteri Agama KH Masykur mendampingi Presiden Sukarno melakukan kunjungan kenegaraan sekaligus melaksanakan ibadah haji ke Arab Saudi dilanjutkan kunjungan ke Mesir selama 18 Juli hingga 4 Agustus 1955. Muhibah tersebut merupakan catatan bersejarah tersendiri, bukan saja karena bertepatan dengan haji akbar di mana puncak pelaksanaan ibadah wukuf pada hari Arafah 9 Dzulhijjah jatuh pada hari Jumat, melainkan karena perjalanan dilangsungkan tidak lama setelah berlangsungnya Konferensi Asia Afrika di Bandung yang mencetuskan Dasa Sila Bandung. 

Konferensi negara-negara baru merdeka Asia-Afrika yang dilangsungkan di tengah-tengah berlangsungnya perang dingin antara kubu AS dan kubu Uni Soviet itu memang mendapat perhatian internasional. Apalagi dengan berkembangnya isu untuk mendirikan kubu tengah yang kelak dikenal sebagai Gerakan Non-Blok.

Shalat dalam Kabah
Di Arab Saudi rombongan kenegaraan diterima oleh Raja Saud bin Abdul Aziz, raja kedua Saudi yang merupakan putra pendiri kerajaan Raja Abdul Aziz bin Saud yang wafat dua tahun berselang. Raja Saud menemani sendiri rombongan presiden melaksanakan ibadah haji sesuai dengan tradisi kerajaan. Ketika melaksanakan ibadah Sa'i, lari-lari kecil antara bukit Marwah dan Safa Sukarno sempat memberikan usulan agar kawasan ibadah diperbaiki dan dibersihkan dari para pedagang yang kala itu masih berbaur dengan jamaah yang sedang beribadah. 

Usulan tersebut mendapat perhatian raja yang memang sangat gandrung memperbaiki sarana-sarana ibadah haji. Zainul Arifin juga menceritakan kepada keluarganya pengalaman melakukan upacara pencucian Kabah bersama raja dilanjutkan dengan memasuki bangunan Kabah dan melaksanakan shalat sunah dua rakaat di dalamnya. Jamaah haji biasa melakukannya di Hijir Ismail yang dipandang sebagai bagian dari dalam bangunan Kabah.

Setelah itu, sebagai cindera mata Raja Saudi memotong-motong kiswah atau kain penutup Kabah dibikin dari tenunan kain sutera berhiaskan kaligrafi terbuat dari 120kg kilo emas murni dan  berpuluh-puluh kilogram perak. Potongan-potongan kiswah tersebut kemudian dibagikan kepada tamu-tamu kerajaan. Zainul sendiri kemudian membagi potongan kiswah yang diterimanya dari Raja Saud menjadi empat bagian dan menyerahkan keempat potongan masing-masing kepada ibundanya, Siti Baiyah Nasution, kedua istrinya: Hamdanah dan Quraisin serta menyimpan satu untuk dirinya sendiri.

Hadiah Pedang Emas
Khusus kepada Arifin, Raja Saud juga memberikan sebilah pedang tradisional Arab Saudi berlapis emas, Zambea. Pedang ini pada bendera nasional Arab Saudi digambarkan tepat di bawah kalimat tauhid warna putih berlatar warna hijau polos. Zambea melambangkan keadilan. Konon, di zaman sekarang ini pedang Zambea hanya digunakan untuk pelaksanaan eksekusi pemenggalan kepala pesakitan yang dijatuhi hukuman mati. Zambea yang diterima Zainul hingga kini masih disimpan oleh keluarga salah seorang anaknya, Hj Ratna Qomariah A Sutjipto. 

Di Madinah, rombongan Presiden Sukarno diberi kehormatan untuk melakukan upacara inagurasi menandai selesainya pemugaran Masjid Nabawi yang telah dimulai sejak Raja Saud bertahta pada 1953. Menurut sejarahnya masjid terpenting kedua di Arab Saudi setelah Masjidil Haram di Mekkah ini dibangun sendiri setelah Muhammad SAW hijrah ke Madinah. Selama tujuh bulan rasullah menyelesaikan masjid seluas 1.050 m2 tersebut. Sejalan dengan berkembangnya agama Islam, Muhammad SAW memperluas Masjid Nabawi menjadi 2.475 m2 pada tahun 629 Masehi. Inilah pemugaran pertama mesjid. Selanjutnya, di era sahabat perluasan masjid dilakukan oleh masing-masing Umar bin Khatab pada 638 dan Usman bin Affan yang melakukannya pada 650. Pemugaran-pemugaran sesudahnya dilakukan oleh para penguasa Madinah masing-masing Walid bin Abdul Malik, Muhammad Al-Mahdi, Sultan Ashraf Qaytaby dan Sultan Ottoman Abdul Majid. Peresmian yang dilakukan Raja Saud beserta tamu-tamunya dari Indonesia pada 1955 merupakan perluasan masjid yang kedelapan dengan luas keseluruhan menjadi 163.260 m2.

KH Masykur menceritakan pengalaman ini dipenuhi rasa haru dalam buku biografinya, KH Masykur: Sebuah Biografi yang ditulis oleh Subagyo IN.

Zainul Arifin dalam kapasitasnya sebagai wakil perdana menteri juga melakukan kunjungan kenegeraan kepada putra mahkota kerajaan yang memang memangku jabatan Wakil Perdana Menteri Saudi, Pangeran Faisal. Zainul didampingi Masykur beraudiensi dengan wakil perdana menteri di istananya di Riyadh. Pangeran Faisal adalah adik berlainan ibu dari Raja Saud. Ketika kunjungan kenegeraan berlangsung, hubungan antara Saud dan Faisal masih baik. Namun sejarah kemudian mencatat, hubungan keduanya bakal memburuk hingga akhirnya Raja Saud digulingkan oleh Pangeran Faisal pada 28 Maret 1964. 

Sejak itu Saud hidup terasing di Eropa hingga mangkatnya pada 23 Februari 1969 di Athena, Yunani. Faisal sendiri, kemudian menjadi raja Arab Saudi hingga akhirnya dia pun tewas ditembak oleh keponakannya sendiri yang juga bernama Faisal (bin Musaid) pada 25 Maret 1975.

Di Negeri Firaun
Dari Arab Saudi kunjungan dilanjutkan ke Mesir, di mana rombongan diterima oleh Presiden Gamal Abdel Nasser. Nasser merupakan presiden kedua Mesir yang oleh sejarah dicatat sebagai politikus terpenting dunia Arab dan dunia berkembang. Ketika menghadiri Konferensi Asia Afrika di Bandung, dia sempat bersama dengan Sukarno, PM India Nehru dan Presiden Yugoslavia Tito membahas pembentukan Gerakan Non-Blok. Gerakan tersebut akhrinya resmi berdiri pada 1961 di Belgrade, Yugoslavia.

Nasser menyambut rombongan Presiden Sukarno dengan hangat dan sangat antusias. Selain melakukan kunjungan ke Piramid, rombongan juga disuguhi acara-acara kesenian tradisional khas Mesir. Kunjungan Sukarno beserta rombongan berakhir pada 4 Agustus 1955. 

Begitu tiba kembali di tanah air, Wapres Hatta sedang sibuk menyiapkan pembentukan Kabinet Burhanuddin Harahap sebagai pengganti Kabinet Ali-Arifin yang bubar dua hari setelah rombongan presiden berangkat ke Tanah Suci. 

Penulis buku: KH Zainul Arifin Pohan Panglima Santri Ikhlas Membangun Negeri” (2015).