::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Tradisi Ketupat Santan Gantung Satukan Keberagaman Kampung Atkari

Sabtu, 23 Juni 2018 05:00 Daerah

Bagikan

Tradisi Ketupat Santan Gantung Satukan Keberagaman Kampung Atkari
Ketupat santan gantung di Kampung Atkari.
Atkari, sebuah kampung di tanah besar Distrik Misool Utara, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Berpenghuni 400 jiwa terhimpun dalam 100 Kepala Keluarga, terbagi dalam dua Rukun Warga dan empat Rukun Tetangga.

Penduduk asli tanah ini adalah Suku Matbat, suku tuan tanah yang mulanya tinggal di hutan daratan tinggi Atkari, beragama Kristen. Warga pendatang berasal dari beragam suku wilayah Timur Indonesia seperti Buton Sulewesi Utara, Bugis Makasar, Seram, Bacan, Banggai, Ambon,Ternate Maluku. Hanya ada dua orang suku Jawa di tanah ini.

Menurut penuturan salah seorang warga, setelah warga Atkari mengenal agama, terjadi pembagian wilayah yang dibatasi dengan sungai. Bagian selatan adalah permukiman umat Kristiani, dan utara adalah pemukiman umat Islam. Satu Masjid dan satu gereja jemaat terdapat di atas bukit.

Setiap bulan Ramadhan tiba, warga Muslim Kampung Atkari menjalankan tradisi keagamaan seperti Muslim di barat dan tengah wilayah Indonesia. Tentu dengan corak dan pola berbeda.



Menjelang malam 27 Ramadhan, warga kampung akan disibukkan dengan ketupat santan gantung. Ialah tradisi menggantung ketupat santan di pohon depan rumah, diikuti dengan membaca surat Al Isra dan menyalakan pelita. 

Bakda magrib, adalah waktu yang paling ditunggu-tunggu anak-anak. Setelah pelita di samping pohon dihidupkan anak-anak berhamburan menarik ketupat gantung. Uniknya siapa saja boleh mengambil ketupat gantung tanpa membedakan keyakinan agama.

Masih di malam 27 Ramadhan, bakda shalat Tarawih, tidak dilanjutkan tadarus Al-Qur'an sebagaimana biasa. Warga akan pulang ke rumah mengambil nampan berisi ketupat dan ikan masak untuk dikumpulkan di masjid. Para laki-laki akan melingkar dengan seorang imam memimpin doa selamat untuk seluruh warga kampung.



Malam itu disebut juga sebagai malam Lail, penyebutan pendek dari malam Lailatul Qadar oleh warga Kampung Atkari. Dengan tradisi dan doa selamat ini, warga seluruh kampung berharap keselamatan, kebaikan dan keberkahan.

(Siti Nur Samsiyah, peserta Pogram Bina Kawasan, kerja sama Kemenag RI dan Pergunu yang ditugaskan ke Papua).