::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Guyub Rukun Warga NU Berpilkada

Kamis, 28 Juni 2018 10:07 Opini

Bagikan

Guyub Rukun Warga NU Berpilkada
Oleh M. Rikza Chamami

Pada Rabu, 27 Juni 2018 pagi saya serasa lebih bergairah karena Tim Nasional Argentina secara dramatis lolos ke babak 16 besar Piala Dunia 2018 di Rusia. Bahkan siaran ulang masih saya nikmati kembali gol indah menit 14 oleh Lionel Messi dan Marcos Rojo di penghujung menit 86.

Hati mulai terusik ketika seorang pengangat politik dari UIN Syarif Hidayatullah menyebutkan warga Nahdlatul Ulama (NU) pecah di Pilihan Gubernur. Nampaknya dia belum memahami makna NU dan warga NU.

Saya jadi teringat pesan salah satu guru saya tiga minggu yang lalu. Lewat pesan whatsapp beliau mengingatkan: "Jangan persempit NU hanya dengan partai dan pilkada".

Semula pesan itu saya anggap biasa saja. Tapi menjelang masuk hari tenang, pesan itu menjadi bermakna. Sebab dari group WA yang saya ikuti dan pantauan medsos, rasa-rasanya bersaudaraan puluhan tahun menjadi rusak karena ketidakdewasaan dalam berpilkada. Apakah benar? Ya ada benarnya, tapi juga ada salahnya. 

Saya justru melihat bahwa Pilkada Serentak 2018 ini menjadi momentum penilaian gairah politik warga NU apakah meningkat atau menurun? Sudahkah kader-kader NU yang berjuang di Partai Politik sudah memiliki strategi gol cantik dalam memenangkan jagonya? 

Dan masih ada satu pertanyaan, apakah fungsionaris NU (struktural) bisa menjaga marwah khittah NU? Tiga pertanyaan itu yang menjadi menarik untuk didiskusikan bersama. Dan tentunya NU tetap menjadi NU yang laris manis menjadi organisasi keagamaan yang dipinang siapapun.

Itulah keberhasilan NU dan kader NU yang selama ini menjadi buah hasil perjuangan para pendiri NU. Kita kader zaman now hanya menikmati buah perjuangan para ulama pendahulu kita. Jika semangat berpolitik warga NU nampak gagap gempita seperti ini, artinya gairah politik itu meningkat. Dan tentunya gairah berdemokrasi itu tidak harus seragam. 

Jargon NU tidak kemana-mana tapi ada dimana-mana itu nampaknya kembali laku dijual. Nyatanya Pilkada di Indonesia ini sangat dinamis dalam membentuk koalisi yang tidak seragam dan sama sekali tidak permanen.

Di situlah warga NU berkreasi dan berekspresi. Yang oleh pengamat salah diamati menjadi NU terpecah. Yang terpecah itu bukan NU-nya tapi aspirasi politik warga NU.

Pada titik inilah boleh dikatakan bahwa warga NU yang kerja dan berjuang di lintas partai sudah mulai kreatif berdiskusi kedewasaan politik. Sebab hampir semua partai (kecuali partai tertentu) diisi oleh aktivis muda NU.

Nah problem yang masih berat diperdebatkan adalah soal marwah khittah NU. Maka semua tetap harus dimaknai secara dewasa. Sebab kunci dari khittah adalah menjaga nama besar NU, bukan hanya sekedar hajatan lima tahunan.

Namun tidak ada salahnya jika ada ijma' kesepakatan mayoritas warga NU yang mengusung calonnya menggandeng kekuatan lain--dengan tanpa membawa-bawa bendera organisasi. Dan orang pun akan tahu bahwa gerakan itu adalah gerakan nahdliyyin.

Merujuk pada prinsip nahdlatologi KH A. Muchith Muzadi bahwa: "Bagaimanapun semua lembaga, lajnah dan badan otonom adalah bagian dari NU, alat kegiatan NU yang harus makmum kepada NU dan  menjadikan NU imam".

Ini jangan dibalik-balik karena bisa kualat jika oleh warga NU, justru NU yang diminta jadi makmum. Maka Pilkada Serentak ini menjadi pelajaran berharga bagi warga NU. KH Hasyim Asy'ari sudah memberikan peringatan dalam Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama'ah tentang bahayanya anak muda yang menganggap ulama sepuh itu lemah.

Dikutip dari Kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani menyeburatkan: "Bahwa Allah mewafatkan ulama dan akan mengangkat ilmu dari muka bumi ini berbarengan dengan wafatnya ulama. Maka akan muncul tokoh-tokoh muda yang satu dengan lainnya saling tumpang tindih. Dan dimana pada hari itu, tokoh tua dianggap tokoh yang lemah".

Dalam koteks membangun gairah politik, semua ulama sepuh NU dari lintas partai perlu sekali duduk bersama mementori generasi muda agar semakin cerdas dan dewasa. Jika ini dapat berjalan dengan baik, maka mimpi besar menjadikan Pilkada sebagai tempat mulia guyub rukunnya warga NU.

Guyub rukun dengan memahami perbedaan dalam memilih calon masing-masing. Dan tentunya perjuangannya dengan semangat menancapkan akidah ahlussunnah wal jama'ah dan NKRI harga mati.

Kalau sudah matang berahlussunnah wal jama'ah tentu sadar betul akan perbedaan. Berikut pula kalau sudah matang berNU, tidak akan kaget dengan perbedaan. Pada titik inilah perjuangan politik kebangsaan NU akan terwujud dengan baik. Selamat berpilkada dan semoga barokah.

Penulis adalah Wakil Sekretaris PW GP Ansor Jawa Tengah dan Dosen UIN Walisongo Semarang