: UNU Jogja adalah perguruan tinggi pertama di Indonesia yang menerapkan sistem blok pada semua program studi daftar sekarang di www.pmb.unu-jogja.ac.id atau 0822 3344 9331 :: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Pentingnya Sportivitas; Catatan Piala Dunia

Jumat, 29 Juni 2018 18:00 Esai

Bagikan

Pentingnya Sportivitas; Catatan Piala Dunia
Jepang melawan Senegal
Oleh  Muhammad Syakir Niamillah Fiza

Senegal terpaksa harus angkat koper dari Rusia meskipun perolehan poinnya sama dengan Jepang. Pasalnya, negara dari benua Afrika itu lebih banyak mengoleksi kartu kuning dan pelanggaran. Dalam situs Fifa.com, lima pemain Senegal mendapat ganjaran kartu tersebut, yakni Cheikh Ndoye, Idrissa Gana Gueye, Salif Sane, Youssouf Sabaly, dan Mbaye Niang. Pemain terakhir mendapatkan dua kartu dalam pertandingan yang berbeda.

Adapun total pelanggaran yang dilakukan Senegal berjumlah 44 kali. Sementara Jepang hanya melakukannya 28 kali. Empat di antaranya diganjar kartu kuning. Eiji Kawashima, Makoto Hasebe, Takashi Inui, dan Tomoaki Makino adalah pemain yang menerima hadiah dari wasit.
 
Jepang dan Senegal sama-sama mengoleksi empat poin dari total tiga kali bermainnya. Keduanya juga mengoleksi empat gol dan empat kali juga sang kiper harus memungut bola dari gawangnya. Mereka pun harus berbagi poin saat bertemu.
 
Keduanya gagal di pertandingan terakhir. Senegal kalah 0-1 dari Kolombia, sementara Jepang juga senasib dengan skor 0-1 dari Polandia. Jika saja Senegal dapat bermain imbang pada laga terakhirnya, tentu ia bisa memperoleh tiket ke 16 besar.
 
Namun data statistik lainnya seperti yang tertuang di atas menaikkan posisi Jepang ke posisi kedua klasemen grup H. Sementara itu, Senegal harus puas berada di posisi ketiga.
 
Di sinilah nilai sportivitas menjadi kunci. Allah sudah menegaskan dalam Surat Al-Baqarah ayat 148 untuk saling berlomba-lomba dalam kebaikan. Bukan dalam keburukan, seperti halnya melanggar. Pemain Senegal mungkin bermaksud baik, yakni agar gawang yang dijaga oleh Khadim N'Diaye tidak kebobolan. Atau setidaknya, bola dapat tertahan untuk sampai mengarah ke gawang. Tetapi tujuan itu ternodai dengan pelanggaran sehingga memberikan citra negatif.
 
Pada ayat itu juga, Allah mengingatkan bahwa di manapun kita berada, Allah selalu menyertai kita, ayna ma takunu ya'ti bikumu llahu jami'a. Mungkin jika para pemain Senegal ingat dengan ayat ini, mereka tentu akan menghindari laku yang tidak perlu sehingga berakibat pada kerugian diri sendiri pada akhirnya.
 
Dalam berkehidupan, kita juga harus menjunjung tinggi sportivitas. Artinya, kita harus patuh terhadap aturan-aturan yang berlaku, baik secara agama maupun negara. Sebab hal tersebut dapat memberikan kerugian tersendiri kepada kita. Jika pun saat melakukan mungkin serasa mendapat untung, tetapi pada akhirnya nanti akan terasa, sebagaimana yang diterima oleh Senegal. Ia mesti pulang lebih cepat dari Rusia. Padahal mungkin sebelumnya merasa diuntungkan dengan laku pelanggaran itu karena bola yang tertahan untuk tidak mengarah ke gawangnya.
 
Selamat buat Jepang sebagai satu-satunya wakil Asia yang lolos ke babak 16 besar. Namun, Afrika harus berlatih lebih giat lagi agar dapat mengantarkan wakilnya masuk pada fase berikutnya.
 
Akankah Jepang menjadi juara piala dunia pertama dari Asia? Atau masih milik Eropa dan Amerika?
 
Salam sportivitas!
 
Penikmat piala dunia dan penggemar sepak bola.