::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Terkait Mamah Dedeh, Katib PCNU Jombang Urai Pernyataan Mbah Hasyim

Senin, 02 Juli 2018 09:00 Daerah

Bagikan

Terkait Mamah Dedeh, Katib PCNU Jombang Urai Pernyataan Mbah Hasyim
foto: illustrasi (tribunnews.com)
Jombang, NU Online
Belakangan media sosial (medsos) sedang ramai dengan potongan video Dedeh Rosidah atau lebih dikenal dengan Mamah Dedeh bicara Islam Nusantara. 

Pada video tersebut ia mengatakan "Dan bahwa saya mengumumkan dari panggung Aksi Indosiar pada malam hari ini, siapapun Anda di negeri tercinta, Allah SWT mengatakan 'wama arsalnaka illa rahmatan lil' alamin', Nabi Muhammad diutus oleh Allah memberikan rahmat bagi segenap alam, bukan Islam Nusantara, bukan, coret".

Video tersebut diketahui sebetulnya sudah cukup lama. Hal ini dapat dilihat di back round bahwa acara Aksi Indosiar itu tertera tahun 2015.

Menanggapi hal ini, Katib Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang, Jawa Timur Ahmad Samsul Rijal mengurai salah satu dawuh Hadratussyeh KH Hasyim Asy'ari (Mbah Hasyim). 

Pendiri NU itu mengatakan, paparnya, bahwa memahami Al-Qur'an dan Al-Hadist tanpa mempelajari pendapat-pendapat ulama madzhab, hanya akan menghasilkan pemutarbalikan pengertian dari ajaran Islam.

Pernyataan tersebut kemudian dikorelasikan dengan perjalanan Islam di Nusantara yang cukup panjang dari Sabang hingga Merauke, dan sudah melewati beragam adat atau budaya juga corak berislam dari lapisan masyarakat. 

Meski demikian, berkat kontribusi sejumlah wali dan ulama kala itu, beragam budaya juga corak mereka dapat menyatu dalam kehidupan berbangsa dan beragama.

"Corak Islam dari Sabang hingga Merauke menyatu dalam karakter hidup masyarakatnya, dari rumpun yang sama, yaitu Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja)," tuturnya, Ahad (1/7).

Tentu proses tersebut tidak dapat dilakukan dengan mudah dan dengan waktu yang sebentar. Bahkan berabad-abad sejumlah wali maupun ulama menyebarkan Islam di tengah kebudayaan yang sudah mengakar pada lapisan masyarakat.

"Berapa abad Islam tertanam di Nusantara? Berapa wali dan ulama yang menyemai dan menumbuhkannya? Bahkan, berapa ulama dari Nusantara yang menjadi rujukan para ulama di dunia? Berapa pesantren Nusantara yang mengajarkan jenis dan pola tanam?" ungkapnya.

Ajaran Islam yang hingga sekarang dianut oleh masyarakat Nusantara tidak lepas dari arahan para ulama kala itu. Dan hal ini tidak dapat dibantah. "Semua itu dalam arahan dan penjagaan dari para ulama," ucapnya.

Dikatakan, beragam corak Islam yang berkembang di wilayah Nusantara dan beragam ekspresi berislam yang menyatu dalam budaya dan tradisi masyarakatnya merupakan corak Islam Nusantara yang sebenarnya. "Nah, itulah Islam Nusantara yang sedang diduplikasi oleh komunitas Islam di penjuru dunia," jelasnya.

"Dan pada saat yang sama sedang dipermasalahkan oleh mereka yang baru bangun dari mimpi," imbuhnya. (Syamsul Arifin/Muiz)