::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Kiai Makruf Kedunglo Rais Syuriyah Pertama NU Kediri

Senin, 02 Juli 2018 17:00 Fragmen

Bagikan

Kiai Makruf Kedunglo Rais Syuriyah Pertama NU Kediri
foto: illustrasi (emka.web.id)
Selain masayikh Lirboyo dan Ploso, Kediri memiliki banyak kiai besar lain yang legendaris. Salah satunya adalah KH Muhammad Makruf dari Kedunglo. Santri Syaikhona Kholil Bangkalan tersebut dikenal sebagai seorang kiai yang memiliki doa-doa yang dikenal mustajab. 

Kiai Makruf lahir di Dusun Klompak Arum, Desa Badal, Kecamatan Ngadiluwih, Kediri pada 1852. Ayahnya, KH Abdul Majid merupakan pengasuh pesantren di kampungnya yang dikenal ahli tirakat. Salah satu tirakat yang dilakukan adalah berpuasa dan berbuka hanya dengan kunir. Kebiasaan tirakat orangtuanya itu pun diwarisi oleh putra kesembilan dari sepuluh bersaudara itu. 

Semasa nyantri di Bangkalan, Kiai Makruf menjalani puasa sebagai bentuk tirakatnya. Selain itu, juga banyak berziarah di makam-makam waliyullah di Madura. Kebiasaan Kiai Makruf tirakat itu pun diketahui oleh Kiai Kholil. Lantas, gurunya tersebut, memerintahkan Makruf untuk bertirakat di makam Bujuk Abu Syamsudin di Batu Ampar, Pamekasan. Di sana, Makruf diperintahkan untuk menghatamkan Al-Qur'an sekali duduk. 

Atas saran gurunya tersebut, Kiai Makruf pun dengan sepenuh hati menjalankannya. Ia mengkhatamkan Qur'an sedari Shubuh hingga menjelang Ashar. Setelah sukses menjalankan petualang spritualitasnya tersebut, ia dianugerahi ilmu laduni, suatu anugerah yang melengkapi pengembaraan intelektualnya. 

Kiai Makruf sejak kecil telah menunjukkan kecerdasannya. Ketika masih di kampung halamannya, ia telah hafal Al-Qur'an. Kemudian, perjalanan keilmuwannya ia lanjutkan di Pesantren Cepoko, Nganjuk. Di sana ia belajar bersama kakak-kakaknya yang lain.

Setelah merampungkan pendidikannya di Cepoko, Makruf muda belajar lagi kepada Kiai Sholeh di Langitan, Tuban. Tak berhenti di sana, ia pun melanjutkannya ke Semarang. Di sana ia nyantri kepada Kiai Sholeh Darat. 

Petualangan intelektualnya itu, berjeda ketika menginjak usia 30 tahun. Ia pulang ke kampung halamannya. Di sana ia diambil menantu oleh Kiai Sholeh Banjar Mlati. Sekitar dua tahun, Kiai Makruf menemani istrinya tersebut hingga dikaruniai seorang anak. 

Setelah itu, ia kembali menuntut ilmu. Atas izin dan biaya dari mertuanya, Kiai Makruf nyantri lagi ke Bangkalan, Madura. Ia berguru kepada maha gurunya kiai di Nusantara, Syaikh Kholil Bangkalan.

Setelah dirasa cukup, Kiai Makruf kembali pulang. Atas biaya dari mertuanya yang dikenal kaya raya, beliau mulai merintis pesantren di Kedunglo, Kediri. Dari pesantren tersebut, keilmuwan Kiai Makruf terlihat benderang, banyak santri yang datang belajar kepadanya. 

Kiprah keilmuwan dan kewalian Kiai Makruf itu, terpantau oleh sahabat-sahabatnya semasa di pesantren, seperti halnya oleh KH Hasyim Asy'ari. Tatkala Kiai Hasyim mendirikan Nahdlatul Ulama, Kiai Makruf juga ia libatkan. Bahkan, pada struktur Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pertama mencantumkan nama Kiai Makruf sebagai salah seorang mustasyar. 

Keterlibatan Kiai Makruf di Nahdlatul Ulama ternyata tidak hanya di tingkat nasional. Namun, ia juga menjadi punggawa utama NU di tingkat lokal. Ia adalah Rais NU Cabang Kediri untuk pertama kalinya. Sebagaimana dimuat dalam Swara Nahdlatoel Oelama Nomor 2 Tahun II 1347 H, bertempat di halaman gedung Madrasah al-Islamiyah yang terletak di depan alun-alun Kediri diadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. 

Acara tersebut, dihadiri lebih dari seribu jamaah. Juga para kiai di seantero Kediri. Saat itu, hadir pula KH Hasyim Asy'ari sebagai pembicara utama. Daya tarik punjer tanah Jawa itu, menarik animo ulama Kediri untuk datang. Acara itu sendiri berlangsung pada Rabu malam, 28 Rabiul Awal 1347 H/ 13 September 1928.

Saat itu, Rais Akbar tersebut didampingi oleh pengurus teras Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama yang berpusat di Surabaya. Sebut saja KH Abdul Wahab Hasbullah dan KH Abdullah Ubaid. Selain itu, pengurus NU Cabang Jombang juga turut hadir. Pengurus dari Pesantren Tebuireng sebagian ada yang mengikuti pengasuhnya tersebut. 

Sebagaimana biasa, penjelasan tentang hikmah maulid menjadi materi pertama yang disampaikan oleh Kiai Hasyim Asy'ari. Setelah itu, beliau mengupas perihal tujuan dari berdirinya Nahdlatul Ulama. Hal tersebut merupakan bagian dari upaya memperkenalkan NU kepada masyarakat luas. 

Setelah NU cukup mapan dan mendapat dukungan dari banyak kiai, akhirnya di Muktamar ketiga diputuskan melebarkan sayap. Yakni, dengan memperbanyak kepengurusan cabang. Salah satu upayanya adalah membentuk komisi propaganda yang disebut Lajnatun Nasihin. Kiai Hasyim merupakan satu dari sembilan anggota komisi tersebut. 

Ternyata, misi untuk memperkenalkan NU kepada ulama Kediri itu, disambut positif. Tak perlu menunggu waktu lama, usai peringatan maulid, pada malam itu juga diadakan musyawarah pembentukan NU Cabang Kediri. Sekaligus menyusun kelengkapan pengurusnya. 

Saat itulah, Kiai Makruf Kedunglo dipercaya menjadi rais syuriyahnya. Dengan demikian, ia pun ditasbihkan sebagai rais pertama NU Kediri. 

Menariknya, dalam komposisi kepengurusan pertama tersebut, tidak hanya diikuti oleh ulama Kediri saja. Tapi, ada juga kiai yang berasal dari luar Keresidenan Kediri. Ia adalah Kiai Muharam dari Karangkates, Blitar. Secara administratif memang berbeda daerah, namun jika ditinjau secara geografis, letak Karangkates tak terlampau jauh dari Kediri. Sehingga perjumpaan tersebut tidaklah mengherankan. 

Sedangkan posisi katib ditempati oleh Kiai Yunus dari Kampung Wringinanom. Sedangkan Naib Katib dijabat oleh Kiai Raden Abdul Hadi dari Kampung Astana Kedung. Selain itu juga dibantu oleh A'wan yang terdiri para kiai. Antara lain: Kiai Nahrawi dari Kauman, Kiai Imam Zarkasi dari Kampung Semenanjung Biru, dan Kiai Muhammad Syarif dari Kampung Ngawitan. 

Kinerja Kiai Makruf juga dibantu oleh pengurus dari jajaran tanfidziyah. Ketuanya adalah Haji Dahlan dari Brangkalan. Bersama wakilnya Haji Hasan dari Banjaran. Juga dibantu sekretaris dan wakilnya, yakni Haji Mahfudz dari Jetis dan Haji Ridwan dari Pucanan. 

Adapun yang menempati posisi bendahara adalah Haji Nur Said dari Sintong Kidung serta wakilnya, Haji Ustman dari Kolak. Haji Thoyyib dari Pekilen dan Haji Abdul Aziz dari Jamsaren, keduanya membantu sebagai komisaris. 

Atas peranan Kiai Makruf itulah, NU di Kediri tumbuh dinamis. Berkembang pesat dan menarik minat para kiai lain untuk bergabung. Mengembangkan pendidikan, Islam ahlussunnah wal jamaah, melawan kolonialisme dan mengupayakan kesejahteraan umat.

Ayung Notonegoro, Pegiat sejarah pesantren dan NU. Saat ini menjadi kerani di Komunitas Pegon Banyuwangi