::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Jombang Cabang NU Pertama Hasil Eksperimen Mbah Hasyim

Selasa, 03 Juli 2018 11:00 Fragmen

Bagikan

Jombang Cabang NU Pertama Hasil Eksperimen Mbah Hasyim
foto: ilustrasi (sejarahri.com)
Jombang dapat dikatakan sebagai daerah yang menjadi rahim dari lahirnya Nahdlatul Ulama. Meski secara de facto, NU didirikan dalam sebuah pertemuan para kiai di Surabaya, tapi founding fathers-nya berasal dari Jombang. Sebut saja Rais Akbar Hadratus Syekh KH Hasyim Asy'ari. Ia lah aktor utama yang menentukan berdiri tidaknya NU. 

Ada pula Kiai Abdul Wahab Hasbullah. Meski setelah menikah, ia tinggal di Surabaya, sejatinya ia berasal dari Jombang. Dengan kegigihan Kiai Wahab lah, organisasi yang menjadi wadah ulama Ahlussunnah wal Jama'ah itu bisa terwujud. 

Tak ketinggalan juga Kiai Bisri Syansuri dari Denanyar Jombang. Kelak, kontribusinya dalam mengembangkan NU tak bisa dianggap enteng. Ketiganya adalah triumat NU asal Jombang yang secara bergantian menduduki posisi puncak kepemimpinan NU secara bergantian. 

Posisi Jombang yang demikian penting itu, tak ayal jika daerah tersebut dijadikan sebagai cabang NU yang pertama. Klaim pertama ini, tentu bukan tanpa alasan dan bukti. 

Berdasarkan data-data yang ada, NU mulai mendirikan cabang di daerah baru memasuki tahun ketiga. Pada muktamar pertama (1926) sampai muktamar kedua (1927) catatan tamu yang hadir bukanlah utusan cabang sebagaimana yang dikenal saat ini. Tapi, tertulis berdasarkan nama yang hadir. 

Baru pada muktamar ketiga lah, daftar tamu sebagai utusan cabang mulai ditemukan. Dalam muktamar yang dilaksanakan di Surabaya, 23 - 25 Rabiuts Tsani 1347 H/ 28 - 30 September 1928 itu, tercatat ada 35 Cabang NU yang hadir (Choirul Anam: 1984).

Jika demikian, lantas daerah manakah yang pertama kali mendirikan Cabang NU? Jombang jawabannya. Setidaknya hal ini merujuk pada pemberitaan di Swara Nahdlatoel Oelama (SNO) Nomor 9 Tahun I Ramadan 1346 H. Berita di media resmi Hoofd Bestuur NU itu, menuliskan tentang keinginan Mbah Hasyim Asy'ari untuk mendirikan cabang di daerah. 

"Ing sak lebete sasi Dzulqaidah hadihis sanah, panjenenganipun Kiai Hasyim Tebuireng sanget hanggenipun haringka daya kados pundi wagedipun jam'iyah Nahdlatul Ulama hanggadai cabang nang pundi-pundi panggenan," tulis SNO dalam bahasa Jawa dan aksara Pegon. (Di dalam bulan Dzulqaidah tahun ini, Kiai Hasyim Tebuireng mengupayakan segala tenaga agar bagaimana jam'iyah Nahdlatul Ulama memiliki cabang di berbagai tempat)

Keinginan tersebut, tak berhenti hanya pada tataran ide. Kiai Hasyim lantas bereksperimen untuk mewujudkan. Masih dari sumber yang sama, pada Kamis malam, 14 Dzulqaidah 1346 H/ 4 Mei 1928, Kiai Hasyim menggelar open baar (rapat umum) di Masjid Jami' Kauman, Jombang. Ada sekitar 600 hadirin yang datang dari berbagai elemen masyarakat. Tidak hanya kiai Jawa, tapi juga habaib dari seantero Jombang. 

Dalam pertemuan tersebut, Kiai Hasyim memaparkan tentang kondisi terkini. Di mana saat itu, mulai munculnya sekelompok orang yang mengusik keberadaan Islam. Mereka mengaku Islam, akan tetapi membid'ahkan, bahkan mengkafirkan saudaranya sesama muslim. Tak hanya itu, mereka kerap kali menghina kalangan habaib. 

Menurut Kiai Hasyim, kejadian tersebut perlu disikapi dengan menjaga persatuan semua elemen ahlussunnah wal jamaah untuk menghadapinya. Persatuan itu sendiri adalah dengan menggabungkan diri pada organisasi NU. 

Lantas, diuraikanlah apa maksud dan tujuan didirikannya NU oleh Kiai Bisri Syansuri yang menjadi panitia pertemuan tersebut. Dari sanalah, kemudian disepakati untuk mendirikan Cabang NU pertama, yakni Cabang NU Jombang. 

Setelah mendapatkan kemufakatan dari jumhur ulama Jombang, malam itu juga diadakan musyawarah di kediaman Habib Muhsin bin Hasan yang tak jauh dari masjid. Ada 150 tokoh yang hadir pada rapat susulan tersebut. Tujuannya tak lain adalah melanjutkan hasil pertemuan di masjid. Yakni, rapat pemilihan kepengurusan Cabang NU Jombang. 

Dari pertemuan tersebut, lantas terpilihlah susunan kepengurusan sebagai berikut:

Mustasyar: 
KH Hasyim Asy'ari
Habib Muhsin bin Hasan ats-Tsaqaf

Rais               : Kiai Anwar Pacul Gowang
Wakil Rais     : Kiai Abdullah Maksum
Katib              : Kiai Maksum Kuaran
Wakil Katib    : Kiai Bisri Syansuri Denanyar

A'wan: 
Kiai Ya'qub Sambung, Kiai Abu Ahmad Anjalak, Kiai Abdul Rouf Jagalan, Kiai Mah, Kiai Umar Suud, Kiai Shodiq dan Kiai Hasbullah Denanyar. 

Sedangkan di jajaran tanfidziyah sebagai berikut:

Ketua                    : Haji Asy'ari
Wakil Ketua          : Haji Sofwan
Sekretaris             : Mas Surataman Kauman
Wakil Sekretaris    : Mas Mashudi Kauman
Bendahara            : Haji Yusuf Kauman
Wakil Bendahara: Haji Syukron Kauman

Pembantu:
H Abdul Aziz Denanyar, H Nur Ali Denanyar, H Hasyim Kauman, H Maksum Jagalan, H Abdul Latif Kauman, H Bahri Kauman dan Mas Ruh Kauman. 

Semenjak pendirian Cabang Jombang itu, NU ngebut untuk mendirikan cabang di daerah lain. Dalam kurun waktu empat bulan, NU telah mendirikan sedikitnya 35 cabang di Jawa dan Madura. 

Setelah disepakati berdirinya defisi propaganda yang bernama "Lajnatun Nashihin" pada muktamar ketiga, pendirian cabang-cabang pun semakin gencar. Setahun kemudian, tercatat sudah terdapat 63 cabang. Hingga saat ini, Cabang NU telah berdiri di seantero negeri dan puluhan cabang istimewa di luar negeri. Semuanya bermula dari eksperimen Mbah Hasyim.  

Ayung Notonegoro, penggiat sejarah NU dan pesantren. Kini aktif sebagai kerani di Komunitas Pegon