::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Nafisah binti Munyah, ‘Mak Comblang’ Khadijah-Muhammad

Rabu, 04 Juli 2018 22:00 Hikmah

Bagikan

Nafisah binti Munyah, ‘Mak Comblang’ Khadijah-Muhammad
Ilustrasi sebuah pernikahan.
“Tidak ada yang bisa menggantikan Khadijah bagiku (Muhammad saw). Dia percaya kepadaku ketika orang-orang yang lain ingkar. Dia yang mendukungku ketika yang lain memusuhiku...,” kata Muhammad saw. menilai sosok Khadijah.

Adalah Maisarah –pembantu Khadijah yang ditugaskan untuk menemani Muhammad saw. selama di Syam- yang menceritakan secara detil kepada Khadijah semua hal tentang Muhammad saw. Mulai dari cara Muhammad berdagang yang jujur, tidak menipu, dan tidak pernah bertengkar hingga akhirnya Muhammad saw. berhasil menjajakan barang dagangannya dengan mendapatkan keuntungan yang melimpah.

Maisarah juga bercerita kepada Khadijah tentang kegiatan sehari-hari Muhammad saw. seperti makan, minum, dan istirahat. Di samping itu, hal-hal menarik dan aneh selama perjalanan –seperti pendeta yang menyebut Muhammad saw. sebagai seorang nabi utusan dan awan yang menaungi Muhammad saw.- juga dilaporkan Maisarah kepada Khadijah. Semenjak itu, benih-benih cinta Khadijah binti Khuwailid kepada Muhammad saw. mulai bersemi.

Hari berganti hari, perasaan cinta Khadijah kepada Muhammad saw. semakin kuat. Hingga tiba pada suatu hari dimana Khadijah tidak mampu lagi menahan derasnya rasa itu. Lalu ia memutuskan untuk curhat dengan salah satu sahabatnya, Nafisah binti Munyah, perihal perasaannya kepada Muhammad.

Mulanya Khadijah minder dan ragu apakah Muhammad saw. mau menerimanya, mengingat perbedaan umurnya yang sangat mencolok; Khadijah berumur 40 tahun dan pernah menikah dua kali, sementara Muhammad saw. 25 tahun dan masih perjaka. Tapi, Nafisah berhasil meyakinkan Khadijah bahwa dia adalah orang yang pantas bagi Muhammad saw. Secara usia, Khadijah memang 40 tahun akan tetapi ia masih terlihat muda dan kuat. Selain itu, Khadijah memiliki nasab yang agung dan juga seorang pedagang yang kaya.

Singkat cerita, Nafisah binti Munyah menyusun sebuah rencana. Ia menemui Muhammad saw. dan menceritakan semuanya tentang perasaan Khadijah.

“Muhammad, aku Nafisah binti Munyah. Aku datang membawa berita tentang seorang perempuan agung, suci, dan mulia. Pokoknya ia sempurna, sangat cocok denganmu. Kalau kau mau, aku bisa menyebut namamu di sisinya,” kata Nafisah kepada Muhammad, dikutip dari buku Bilik-bilik Cinta Muhammad.

Rupanya Nafisah adalah orang yang cerdik. Setelah menyampaikan ‘lamaran’ Khadijah tersebut, ia tidak meminta Muhammad saw. untuk menjawab secara langsung pada saat itu juga. Ia memberikan Muhammad saw. waktu untuk memikirkan dan merenungkannya. Apa yang dilakukan Nafisah binti Munyah ini menjadi pintu dari perjalanan cinta Muhammad saw. dan Khadijah. Ia memberanikan diri ‘menabrak’ adat dan tradisi Arab pada saat itu. Dimana seorang perempuan meminang laki-laki adalah hal yang tabu. 

“Tak usah kau jawab sekarang. Pikirkan dulu matang-matang. Besok atau lusa aku akan menemui mu lagi,” sambung Nafisah. 

Menindak lanjuti apa yang disampaikan Nafisah tersebut, Muhammad saw. dan Khadijah sama-sama berkonsultasi dengan keluarga besar masing-masing. Setelah melalui pertimbangan yang matang, akhirnya kedua keluarga besar sepakat untuk menikahkan anak-anaknya.

Dengan demikian, Khadijah adalah istri pertama yang dinikahi Muhammad saw. Mereka berdua mengarungi biduk rumah tangga sekitar 25 tahun hingga akhirnya Khadijah meninggal dunia. Selama itu pula, Muhammad saw. tidak pernah menikah dengan wanita lainnya. 

Keduanya hidup dengan cinta yang terus membara. Bahkan setelah Khadijah wafat, cinta Rasulullah kepadanya tidak pernah padam. Maka tidak heran jika Quraih Shihab, seorang intelektual Indonesia, dalam bukunya Pengantin Al-Qur'an menyebut bahwa cinta Muhammad saw. kepada Khadijah adalah puncak cinta yang diperagakan oleh seorang laki-laki kepada perempuan dan juga sebaliknya. Indikatornya, cinta keduanya telah teruji dalam kehidupan nyata sebagai sepasang suami istri –tidak seperti Romeo-Juliet dan Laila-Majnun misalnya. Cinta Muhammad saw. terus menggelora meski yang dicintainya sudah pergi. (A Muchlishon Rochmat)