::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

KH Asep Saifuddin Chalim dan Gagasan Menciptakan Generasi Unggul

Jumat, 06 Juli 2018 13:30 Halaqoh

Bagikan

KH Asep Saifuddin Chalim dan Gagasan Menciptakan Generasi Unggul
Ketum Pergunu KH Asep Saifuddin Chalim
Tanggung jawab pendidikan sesungguhnya ending-nya ialah mencetak individu-individu yang berkarakter yang mampu mewujudkan dirinya sejahtera dan berpihak pada keadilan.

Perkara mendidik tidak cukup sebatas memberikan materi normatif setiap hari demi memenuhi beban mengajar. Tetapi perlu adanya tanggung jawab besar dari guru dan stakeholders pendidikan agar tujuan pendidikan nasional bisa tercapai demi menciptakan generasi unggul.

Terkait hal itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) KH Asep Saifuddin Chalim menjelaskan beberapa poin penting yang menjadi tanggung jawab guru untuk mempersiapkan generasi unggul, utuh, dan berkualitas.

Berikut petikan wawancara Jurnalis NU Online, Fathoni Ahmad bersama Kiai Asep Saifuddin Chalim di sela-sela kegiatan Rapat Kerja Nasional Pergunu 2018 beberapa waktu lalu.

Apa yang harus dilakukan oleh para guru NU untuk memajukan pendidikan dan mencetak generasi unggul?

Perlu adanya tanggung jawab besar untuk memenuhi tujuan pendidikan nasional. Tanggung jawab ini harus dilakukan bersama-sama, terutama oleh para guru NU dan guru-guru di seluruh Indonesia, para pengelola, dan pengambil kebijakan pendidikan.

Seperti apa tanggung jawab yang dimaksud?

Pertama tanggung jawab dalam upaya penguatan keimanan kepada anak didik. Tangung jawab keimanan ini yang akan mewujudkan generasi berkarakter.

Keimanan akan menumbuhkan ketakwaan sehingga akan mewujudkan tujuan pendidikan nasional dalam mencetak generasi-generasi berkarakter.

Bagaimana korelasi keimanan dan ketakwaan sebagai salah satu tanggung jawab yang harus diemban guru?

Aplikasi keimanan itu adalah ketakwaan. Ketakwaan itu sendiri merupakan realisasi dari keimanan. Dengan keimanan dan ketakwaan, seseorang bisa mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraan.

Waman yataqillaha yaj’alahu makhraja, wa yarzuqhu min haitsu layahtasib. Barangsiapa yang bertakawa kepada Allah, maka ia akan memperoleh jalan keluar terbaik dan akan diberi rezeki dari jalan yang tidak terduga-duga.

Selain tanggung jawab membentuk keimanan dan ketakwaan?

Tanggung jawab akhlakul karimah. Upaya pembentukan akhlakul karimah ini akan mewujudkan anak-anak dengan disiplin tinggi dan bertanggung jawab. Tanggung jawab akhlakul karimah ini juga akan menjaga perkataan dan perbuatan anak didik agar menjadi lebih baik.

Dengan kata lain?

Akhlakul karimah itu ialah piawai dalam bergaul. Memuliakan yang lebih sepuh, menghormati yang sebaya, dan mengasihani yang lebih muda. Tapi tidak cuma itu saja, termasuk dalam akhlakul karimah ialah tidak boleh malas, tidak boleh tidak bertanggung jawab, tidak boleh berkata tidak bisa, tidak boleh putus asa.

Itu namanya akhlakul karimah. Yang begini ini harus ditanamkan kepada murid dengan berbagai motivasi-motivasi, dengan pencontohan dirinya yang disiplin.

Lalu, tanggung jawab seperti apa lagi yang harus dimiliki guru?

Tanggung akademis. Tanggung jawab akademis guru terkait dengan profesionalisme dan kompetensinya. Guru wajib menyampaikan materi agar anak didik mampu memahaminya. Artinya, materi pelajaran dikemas sedemikian rupa agar siswa mampu menerimanya dengan baik.

Akademis juga bisa dikatakan tuntas jangkauan, tuntas muatan. Tuntas jangkauan itu ya kalau misal 40, seluruhnya itu harus dipahami. Tnutas muatan bahwa kurikulum yang disampaikan harus tuntas semuanya jangan mencari-cari mana yang lebih mudah. Baik yang mudah maupun yang sulit harus tersampaikan dan menjangkau seluruh peserta didik.

Setelah tanggung jawab akademis?

Tanggung jawab kecerdasan. Tanggung jawab ini akan terwujud bila seorang guru tak sekali memberikan pemahaman kepada siswa. Di sini faktor pengayaan berperan penting. Siswa diarahkan untuk memperkaya materi agar memahami berkali-kali.

Ketika seorang guru itu telah mampu mewujudkan tanggung jawab akademis, membuat muridnya paham dan mengerti, maka hal ini akan membuat seseorang menjadi cerdas. Jadi kaitannya erat sekali antara tanggung jawab akademis dan tanggung jawab pembentukan kecerdasan.

Kemudian, yang terkait dengan fisik siswa sebagai bagian dari motorik. Seperti apa tanggung jawab guru?

Tanggung jawab kesehatan. Dalam dunia pendidikan, sekolah wajib memberikan menyehatkan jasmani dan rohani anak didik. Tanggung jawab ini menurut Kiai Asep bisa melalui olahraga yang tiap minggu dilakukan. Juga bisa memperdalam pencak silat, misalnya.

Tangung jawab ini di-handle oleh guru olahraga. Di samping memberikan teori, guru olahraga juga harus memberikan latihan-latihan fisik untuk melatih motorik siswa agar lebih terampil.

Kecerdasan dalam bidang seni juga penting bagi siswa?

Ya, tanggung jawab seni. Seni menurut juga bagian dari upaya membentuk generasi-generasi agar mempunyai perangai yang halus. Ini sangat terkait dengan agama juga karena agama berupaya membentuk anak agar memiliki perilaku lemah lembut.

Kesenian ini mewujud ke dalam berbagai macam bentuk, baik itu tari, musik, rupa, kaligrafi, pertunjukan. Intinya ialah terletak pada keindahan dan kehalusan nilai-nilai seni. Bukan semata-mata pada bentuknya saja yang harus dipahami. 

Dunia modern menuntut skill, inovasi, dan kreativitas. Bagaiman hal ini bisa diwujudkan terhadap murid?

Itu ada dalam tanggung jawab kreativitas. Kreativitas lahir dari pikiran yang selalu berusaha kritis. Kreativitas tidak perlu diajarkan tetapi dipahamkan kepada anak didik. Kreativitas ini bisa diolah dari tanggung jawab akademik dengan tanggung kecerdasan. Lalu kedua tanggung jawab tersebut digerakkan dengan mesin kecerdasan, maka akan mewujudkan generasi berkualitas.

Kemudian, ketika kreativitas ini dioperasionalkan dengan akhlakul karimah, maka seseorang akan mampu mewujudkan kesejahteraan bagi dirinya. Setelah untuk dirinya tentu akan berkembang untuk orang lain. Lalu jika kreativitas ini dikemas dalam ketakwaan, maka hal ini akan menciptakan keadilan dalam kehidupan. (*)