::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Jurjis, Dokter Istana Dinasti Abbasiyah yang Beragama Kristen

Sabtu, 07 Juli 2018 08:00 Hikmah

Bagikan

Jurjis, Dokter Istana Dinasti Abbasiyah yang Beragama Kristen
Ilustrasi. Foto: muslimincalgary
Di dalam sejarahnya, hubungan pengikut Islam dengan pengikut agama lainnya –seperti Yahudi dan Kristen (Nasrani) misalnya- tidak melulu bermusuhan dan berperang. Begitu pun sebaliknya. Tidak jarang mereka hidup bersama dengan damai dan harmonis. Saling menghormati dan membutuhkan antara yang satu dengan yang lainnya. 

Kisah Jurjis bin Bakhtisyu (w. 771 M), seorang dokter yang beragama Kristen Nestor, dengan Abu Ja’far al-Manshur (w. 775 M), khalifah kedua Dinasti Abbasiyah, menjadi saksi sejarah bahwa beda agama tidak menjadi penghalang untuk hidup akur. Bahkan, sebagai seorang minoritas, Jurjis menduduki jabatan yang strategis di pemerintahan Islam; dokter istana. 

Dikisahkan, suatu ketika Khalifah al-Manshur menderita sakit perut. Dokter yang ada di istana diundang untuk mengobati sang khalifah. Tapi tak ada satu pun yang sanggup menyembuhkannya. Lalu dipanggil lah Jurjis bin Bakhtisyu. Ia adalah seorang kepala rumah sakit Jundi-Syapur. Pemanggilan tersebut tidak lah mengherankan mengingat pada saat itu wilayah Jundi-Syapur masyhur dengan akademi kedokterannya.

Berdasarkan buku Islamic Medicine, Jurjis berhasil mengobati penyakit Khalifah al-Manshur. Ia menerima 10 ribu dinar dari sang khalifah sebagai imbalannya. Ditambah, Jurjis juga diminta untuk menjadi dokter istana, di samping menjadi penerjemah yang bertugas menerjemahkan buku-buku berbahasa Yunani ke dalam bahasa Arab. Sejak saat itu Jurjis menjadi ‘orang penting’ di pusat pemerintah dinasti Islam, Baghdad.

Tidak hanya itu, Jurjis juga mampu ‘mewariskan’ keahlian dan ketrampilannya itu kepada anak-anaknya. Sehingga enam atau tujuh generasi (anak cicit) Jurjis juga menduduki posisi penting dan strategis pada Dinasti Abbasiyah. Merujuk Britannica, Jurjis merupakan dokter dan penerjemah pertama yang keturunannya bertahan di dinasti hingga enam generasi.  

Bakkhtisyu, anak Jurjis, merupakan kepala rumah sakit Baghdad pada masa kekhalifahan Harun al-Rasyid. Sementara itu, Jibril, cucu Jurjis, diangkat menjadi dokter pribadi khalifah pada 805 M setelah ia berhasil menyembuhkan budak kesayangan khalifah. 

Saat menjabat sebagai dokter istana, Jurjis tetap memegang teguh agamanya Kristen Nestor. Suatu ketika, Khalifah Manshur mengajak Jurjis untuk masuk Islam. Akan tetapi, Jurjis tetap kekeuh dengan agamanya dan menolak ajakan sang khalifah. Kepada khalifah, sebagaimana keterangan dari buku History of The Arabs, Jurjis mengatakan bahwa ia memilih untuk berkumpul dengan leluhurnya kelak, baik di surga atau neraka. (A Muchlishon Rochmat)