: UNU Jogja adalah perguruan tinggi pertama di Indonesia yang menerapkan sistem blok pada semua program studi daftar sekarang di www.pmb.unu-jogja.ac.id atau 0822 3344 9331 :: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Cerita Mahasiswa Indonesia Persunting Gadis Palestina di Lebanon

Sabtu, 07 Juli 2018 17:00 Internasional

Bagikan

Cerita Mahasiswa Indonesia Persunting Gadis Palestina di Lebanon
Lebanon, NU Online
Lebanon telah menampung pengungsi Suriah dan Palestina lebih dari 1 juta orang. Sebuah kondisi yang berdampak pada perekonomian, keamanan dan pembangunan infrastruktur dalam negeri.

Hasil Penelitian Lembaga InfoPro menyebutkan dampak krisis Suriah terhadap Perekonomian Lebanon, telah mengalami kerugian sebesar USD 9,8 Miliar, baik yang diakibatkan oleh kondisi keamanan Suriah maupun keberadaan pengungsi di Lebanon. Namun, krisis itu tak menghalangi dua insan yang memadu kasih untuk melangsungkan pernikahan di Negeri Penyair Kahlil Gibran.

Acara Pernikahan antara Mahasiswa Indonesia di Lebanon, Muhammad Nur Syahru Tohari dan gadis asal Palestina, Manar Al-Huda Kassem. Keduanya telah resmi menjadi pasangan suami-istri yang sah. Resepsi digelar di Aula Hizbul Walaa, dekat dengan Mesjid Abu Haiydar, Beirut.

Momen bahagia itu berlangsung pada Sabtu (30/6) lalu, dan dihadiri oleh Duta Besar RI untuk Lebanon HA Chozin Chumaidy, staf KBRI, para mahasiswa, keluarga dari masing-masing kedua mempelai, masyarakat Indonesia, sejumlah warga Lebanon, dan sejumlah warga asing non-Lebanon.

Ketika ditanya bagaimana bisa bertemu dengan gadis berdarah Palestina itu, Syahru menjawab dengan sederhana, “Tidak sengaja ketemu di FB dan disambungkan dengan adik ipar yang kebetulan dulunya tinggal bersama di asrama kampus waktu itu.”

Syahru menambahkan, komunikasinya dengan calon istrinya berjalan lancar tanpa kendala.

“Tapi biasa sewaktu masih di asrama dulu hanya seminggu sekali bisa dihubungi,” kata putra asli Mojokerto tersebut.
Sementara, kata Syahru, keluarga di Indonesia menyambut ceria dan sangat bahagia dengan hubungan kami.”

Syahru yang telah menyelesaikan pendidikan s1-nya di Lebanon ini mengatakan rencana ke depan bahwa ia dan istrinya akan menetap di Indonesia. Hari Kamis (5/7) beserta istri, Syahru berangkat ke kampung halaman, yaitu Mojokerto.

Acara resepsi ditutup dengan pemberian selamat dari seluruh hadirin, hiburan, dan foto bersama kedua mempelai, keluarga, undangan, lalu ramah tamah di aula tersebut. Dalam pernikahan itu, Syahru memberikan mahar berupa emas satu Liraa dan uang sebesar 10 ribu dolar Amerika. (Red; Alhafiz K)