: UNU Jogja adalah perguruan tinggi pertama di Indonesia yang menerapkan sistem blok pada semua program studi daftar sekarang di www.pmb.unu-jogja.ac.id atau 0822 3344 9331 :: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Faktor X dan Keberkahan Ilmu

Ahad, 08 Juli 2018 12:00 Opini

Bagikan

Faktor X dan Keberkahan Ilmu
Ilustrasi (ist.)
Oleh A. Jabbar Hubbi

Dalam khazanah pesantren banyak hal yang dipercaya sebagai faktor "X" atau yang sering diasumsikan sebagai hal di luar nalar, yang salah satunya adalah disebut dengan barakah atau berkah. Dalam pengertian umum, barakah bisa diartikan dengan "ziyaadatul khair" (bertambahnya kebaikan). Bertambahnya kebaikan atau keberkahan dalam hidup bisa berupa banyak hal. Namun acap kali makna barakah itu dipersempit hanya sesuai dengan apa yang diinginkan, sehingga parameter yang dipakai dalam mengukur berkah atau tidaknya sesuatu adalah yang bersifat kuantitas.

Ruang lingkup barakah tidaklah sebatas pada soal hal cukup dan mencukupi, banyak tidaknya sesuatu, tapi lebih dari itu barakah adalah meningkatnya ketaatan seseorang kepada Allah pada segala keadaan yang ada, baik di saat berlimpah atau sebaliknya. "Albarakatu tuziidukum fi tha'ah" (barakah ialah yang menambah taatmu kepada Allah).

Barakah bukanlah ketika dagangan yang laku keras dan banyak keuntungan finansial yang didapat. Dagangan yang selalu rugi terkadang bisa menghantarkan seseorang untuk lebih istiqamah dalam menghambakan diri kepada Allah.

Pun ilmu yang barakah bukanlah yang banyak riwayat dan catatan kakinya, bukan yang banyak prestasi akademisnya. Tapi ilmu yang mampu menjadikan seorang meneteskan keringat dan darahnya dalam beramal dan berjuang di jalan Allah, yang mampu menghantarkan seseorang untuk semakin takut kepada Allah dan semakin mendekat diri kepadaNya.

Banyak kisah santri yang di saat masih mondok di pesantren termasuk terbelakang dalam keilmuan, kurang pandai, namun tetap tekun belajar, ber-akhlaqul karimah dan istiqamah mengabdi kepada gurunya. Ketika tiba saatnya santri tersebut pulang dan terjun di tengah masyarakat justru menjadi orang yang berhasil. Ilmu yang saat di pesantren tidak dipahami olehnya, ketika sudah dibutuhkan ternyata mampu ia sampaikan dengan jelas dan lancar. Inilah mungkin yang dalam istilah santri dengan meminjam istilah tasawuf disebut sebagai "Al-futuh" (terbukanya pemahaman melalui hati).

Belajar dengan tekun dan giat saja belumlah cukup. Namun seseorang juga harus menanggung kesusahan yang ditemui saat ia dalam proses belajar. Karena sejatinya belajar bukan hanya lewat buku dan kitab, namun lebih dari itu belajar juga lewat laku, belajar bertindak, merasakan pahit getirnya pengabdian. Karena segala yang dialami dalam pencarian ilmu adalah merupakan bagian dari perjuangan untuk manusia yang lebih manusia.

Mari renungkan syair Imam Syafi'i yang mengatakan: "Siapa tidak mencicipi pahitnya belajar, ia akan menelan hinanya kebodohan selama hidup. Siapa waktu mudanya tidak sempat belajar, bacakan takbir empat kali untuk kematiannya."

Banyak kisah yang pernah saya dengar dan baca berulang-ulang tentang kiai-kiai besar yang menjadi panutan umat. Rata-rata para Kiai adalah para "pejuang tangguh" bukan hanya dalam soal ketekunan belajar, tapi lebih dari itu, totalitas dalam mengabdikan diri kepada guru dan orang-orang yang terkait dengannya.

Kita teringat bagaimana kisah Mbah Hasyim saat diperintah oleh gurunya mencari cincin Ibu Nyai yang (kecemplung) di jumbleng atau septic tank. Tanpa ragu dan berkilah, beliau langsung menceburkan diri dan menyelam ke dalam jumbleng tersebut, sampai akhirnya cincin tersebut ditemukan dan diserahkan kepada gurunya.

Saya juga jadi teringat dengan apa yang pernah diceritakan oleh guru saya, "Kalau santri ingin pintar dan banyak ilmu, tekunlah belajar dan ngaji. Kalau ingin ilmunya manfaat, ya harus dibarengi dengan tirakat dan riyadlah (olah jiwa). Kalau ingin ilmunya manfaat dan barakah, ya harus mencari ridhlanya guru."

Ini berbanding terbalik saat kita lihat fenomena kekinian, di mana banyak bermunculan ahli ilmu, mempelajari ribuan kitab, tapi tak pernah sama sekali mendatangi dan menyelami jiwanya, menyentuh apa yang ada dalam hatinya. Hingga yang terjadi kemudian mudah menyerang orang lain yang tidak sepaham dengannya, mudah menyalahkan dan menghakimi, memaksakan kebenaran dirinya sendiri untuk diterima dan diikuti orang lain. Wallaahu a'lam.

Penulis adalah pengajar di Madrasah Muallimin Muallimat Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang