::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Menjauhi Orang Miskin Sama dengan Menjauh dari Rasulullah

Ahad, 08 Juli 2018 17:30 Ubudiyah

Bagikan

Menjauhi Orang Miskin Sama dengan Menjauh dari Rasulullah
Banyak orang mengaku cinta Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Berbagai kegiatan mereka lakukan untuk menunjukkan cintanya kepada beliau. Dalam setiap doanya, mereka memohon kepada Allah subhanahu wata’ala agar kelak di akhirat dikumpulkan bersama beliau di surga-Nya. Sayangnya masih banyak dari mereka tidak mengikuti jejak beliau dalam mencintai  orang-orang miskin. Mereka malah menjauh dari orang-orang lemah itu karena menganggap tidak selevel.

Sikap mereka yang seperti itu tidak sejalan dengan apa yang dicontohkan Rasulullah baik dalam bentuk ucapan maupun tindakan. Dalam salah satu doanya, beliau memohon kepada Allah agar dikumpulkan bersama orang-orang miskin. Doa itu adalalah sebagai berikut:

اللهم أحيني مسكينا وأمتني مسكينا واحشرني في زمرة المساكين يوم القيامة

Artinya: “Ya Allah, hidupkanlah dan matikanlah aku sebagai orang miskin dan kumpulkanlah aku bersama orang-orang miskin.” (HR: At-Tirmidzi).

Dari doa tersebut dapat diketahui secara jelas bahwa Rasulullah menaruh perhatian besar terhadap orang-orang miskin. Beliau tidak pernah menjauhi mereka dengan alasan apa pun. Beliau justru suka mendekat karena mencintai mereka dengan setulus hati. Hal ini sebagaimana dikisahkan dalam kitab Al-Barzanji, karya Syaikh Ja’far bin Husin bin Abdul Karim bin Muhammad Al-Barzanji, halaman 123, sebagai berikut:

ويحب الفقراء والمساكين ويجلس معهم ويعود مرضاهم ويشيع جنائزهم ولا يحقر فقيرا 

Artinya: “Beliau mencintai fakir miskin, duduk bersama mereka, membesuk mereka yang sedang sakit, mengiring jenazah mereka, dan tidak pernah menghina orang fakir.”

Akhlak Rasulullah terhadap orang-orang miskin tersebut hendaknya membuka kesadaran kita bahwa tidak selayaknya kita mengaku cinta Rasulullah tetapi pada saat yang sama kita menjauhi orang-orang yang beliau cintai. Bagaimana bisa kita akan dikumpulkan bersama Rasulullah sementara kita menjauhi orang-orang yang beliau sendiri memohon kepada Allah untuk dikumpulkan bersama mereka. 

Baca juga: Manakah Lebih Utama, Menjadi Orang Kaya atau Orang Miskin?
Oleh karena itu, barangsiapa  berharap dikumpulkan bersama Rasulullah kelak di akhirat, hendaklah mencintai orang-orang miskin dan mau berinteraksi dengan mereka. Untuk maksud ini memang diperlukan sikap rendah hati atau tawadhu’ sebagaimana dicontohkan beliau. Anggapan tidak selevel dengan mereka harus dibuang jauh-jauh sebab hal ini merupakan kesombongan dan sudah pasti menjadi hambatan untuk berinteraksi dengan mereka. 

Orang-orang miskin memang harus kita dekati dan cintai karena ini adalah sunnah beliau. Barangsiapa menjauhi sunnah beliau sesungguhnya ia bukan umatnya. Ungkapan ini sejalan dengan hadits beliau yang diriwayatkan dari Anas radliallahu anhu

فمن رغب عن سنتي فليس مني

Artinya: “Maka barang siapa tidak suka dengan sunnahku sungguh ia bukan umatku.”


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.