: UNU Jogja adalah perguruan tinggi pertama di Indonesia yang menerapkan sistem blok pada semua program studi daftar sekarang di www.pmb.unu-jogja.ac.id atau 0822 3344 9331 :: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Tarik-menarik Islam di Indonesia

Senin, 09 Juli 2018 16:30 Opini

Bagikan

Tarik-menarik Islam di Indonesia
Oleh Aswab Mahasin

Belum lama ini saya mendapatkan pesan di Whatsapp (WA), isi pesan yang saya terima cukup membuat hati saya miris. Kog bisa ada orang iseng bikin pesan seperti itu, dan saya yakin pesan seperti itu tidak hanya saya yang menerimanya (mungkin banyak juga, termasuk Anda). Pesan di WA itu diawali dengan pemberitahuan bahwa pesan tersebut dicopas (copy-paste) dari WA ulama Nahdlatul Ulama (NU), namanya Prof. Baharun, dan pesan itu ditulis oleh seseorang yang bernama Ferry is Mirza berstatus sebagai wartawan senior NU, tinggal di Sidoarjo, Jawa Timur.

Konten pesan tersebut menjelaskan perihal Islam Nusantara—dengan judul “Akui Islam Nusantara Membatalkan Keislamannya.” Secara tegas dan dicetak tebal, pembukaan isi pesannya adalah “Islam Nusantara belakangan digemakan di mana-mana. Tetapi, berhati-hatilah jika Anda mengakui keberadaan agama Made in Indonesian ini. Karena, bila disertai dengan keyakinan maka bisa membatalkan keislaman kita atau kita keluar dari Islam.”

Tidak hanya itu, tulisan dalam pesan tersebut pun mengandung poin-poin yang dianggap penting bagi si penyebar pesan, dan hal itu membuat saya tersenyum lebar, sungguh lucu. Dalam menguraikan poin-poin tulisannya, si penulis/penyebar pesan bak Bang Napi yang sedang mengingatkan kita, “Waspadalah ini. Jangan dianggap sepele, karena (Islam Nusantaran), (1) Mengandung arti tidak mengakui lagi agama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW di Arab (Mekkah-Madinah), (2) Mendustkan ayat-ayat al-Qur’an bahwa Islam adalah agama sejati, satu-satunya agama yang diridhai Allah dan agama yang sempurna, dan (3) Mengandung kebencian kepada agama yang diturunkan Allah di Arab dan kebencian terhadap ajaran-ajarannya karena dianggap menjajah bangsa kita. 

Dan penulis/penyebar pesan itu dengan sangat enteng menyimpulkan, (1) (yang mengakui Islam Nusantara) tidak mengakui lagi Islam yang diajarkan Nabi Muhammad sebagai agama untuk bangsa ini, (2) (yang mengakui Islam Nusantara) tidak mengakui berarti telah meninggalkan dan menggantinya dengan agama inovasi dan modifikasi sendiri yang disebut Islam Nusantara, dan (3) Bila mengakui Islam Nusantara sebagai agama yang sejati, maka telah rusaklah kalimat sahadat kita. Artinya, telah berada di luar area Islam yang disebarkan Rasulullah Muhammad Saw sebagai satu-satunya agama yang diridhai Allah SWT.

Harus dengan cara apa saya menanggapi rentetan pesan seperti itu, dianggap penting tapi gak penting, dianggap gak penting tapi merisaukan. Saya hanya bisa terbahak-bahak kecil, sembari merenungi, “ternyata saya sudah tidak Islam lagi” (versi mereka).

Saya tidak peduli tulisan pesan itu datang dan ditulis oleh siapa, mau mengaku orang NU, monggo, mau mengaku wartawan dan kiai NU, monggo. Pertimbangannya, pendapat tersebut bijak apa tidak? Bisa jadi menurut si penyebar berita, ‘benar’, namun bagi saya itu tidak pener. Maka gugurlah ‘benar’-nya. Karena tidak disampaikan dengan cara yang baik.

Pertanyaannya, apakah seperti itu akhlak Rasulullah SAW? Anda tahu bukan, kisah tentang Rasulullah SAW dilempari batu, diludahi, difitnah, dihina, dan sebagainya. Balasan seperti apa yang Rasulullah SAW lakukan? Rasulullah SAW meresponnya dengan kemuliaan akhlak yang tinggi. Lha… Anda baru dilempari wacana Islam Nusantara sudah gagah mengatakan, “yang mengakui Islam Nusantara keluar dari Islam.” Saya tidak menyalahkan si penulis atau si penyebar berita, hanya cara menyampaikannya kurang klop.

Terus saya harus bagaimana? Saya pun bingung menyikapinya. Saya mau bilang begini saja, kebanyakan dari kita gegabah menghukumi sesuatu, kita kadang tidak mau mengerti dan memahami lebih dulu apa esensi/inti dari sebuah wacana. Parahnya, pertimbangan pendapat kita (seringkali) hanya “menurut kita” bukan menurut kajiannya, lebih berbahaya lagi ketika pendapat yang kita keluarkan dilandasi atas dasar kebencian. Sehingga membuat kita sampai hati (tega menghukumi sesuatu yang sebenarnya menjadi hak Allah SWT).

Lagi-lagi saya bingung, sebenarnya apa yang terjadi pada umat Islam di Indonesia? Penganut agama Islam di Indonesia itu mayoritas, bahkan Indonesia itu sebagai nomor 1 dengan pemeluk agama Islam terbanyak di dunia. Berdasarkan data proyeksi penduduk dari Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk Muslim tahun 2017 berjumlah 228.608.665 orang. 

Dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas panjang lebar tentang Islam Nusantara, saya hanya akan mengutip pendapat dari Ngatawi Al-Zastrouw yang dilansir NU Online, kutipan ini menurut saya sudah cukup mewakili, “Rata-rata pengkritik Islam Nusantara adalah tidak paham. Dia bikin definisi sendiri (tentang Islam Nusantara), merekonstruksi sendiri, lalu dia kritik sendiri. Dia (pengkritik Islam Nusantara) tidak bisa membedakan Arab dan Arabisme, Islam dan Islamisme.” Artinya, kita maafkan saja orang-orang yang mengkritik Islam Nusantara karena mereka tidak paham sebetulnya.

Islam masuk ke Indonesia dengan ramah dan menentramkan. Tidak butuh waktu lama para wali mengislamkan Indonesia, walaupun Islam masuk ke Indonesia sudah lebih dulu sekitar abad ke-7. Namun saat itu belum terjadi perpindahan besar-besaran. Strategi dakwah kultural yang dilakukan para wali—dengan kelembutan, ngayomi, berbaur bersama masyarakat (secara sosial ataupun budaya) membuat masyarakat Indonesia merasa dididik dan dilindungi, sehingga mereka memilih Islam sebagai agamanya. Itu awal mula faktor yang menyebabkan Indonesia mayoritas berpenduduk Muslim.

Melihat sejarahnya, tarik-menarik antara ulama dalam mengajak dan membina umat sudah sejak dulu terjadi, para guru sufi mempunyai kecenderungan akomodatif dan inklusif terhadap tradisi dan praktik keagamaan lokal. Bagi guru sufi yang paling penting dalam proses konversi keagamaan itu adalah pengucapan dua kalimat syadahat, kemudian baru dilanjutkan pada pengenalan hukum Islam. Namun, berbeda dengan ulama-ulama yang menitikberatkan pada pemahaman hukum Islam (fiqih), proses yang dilakukan oleh para guru sufi dianggap keliru, karena dianggap mencampuradukkan ajaran Islam dengan ajaran lokal. Tetapi, tarik-menarik ini pada abad ke-17 sudah mulai mereda, rekonsiliasi di antara keduanya terus digalangkan dengan cara-cara yang baik dan bijaksana. 

Kemudian, tarik-menarik pun terjadi di antara pengikut Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, khususnya pada masa-masa dahulu kala. Cukup sengit dan alot, sampai-sampai di beberapa buku yang saya baca, ada kisah “batal nikah” gara-gara punya haluan organisasi keagamaan yang berbeda (tapi itu dulu). 

Sekarang permasalahan kita lebih kompleks, setiap hari kita tidak kehabisan isu terhangat. Isu satu surut, isu lain muncul, begitu seterusnya. Isu-isu yang sifatnya variatif itu, pun menyeret agama sebagai dagangannya. Sehingga kita menjadi rabun tentang definisi/makna Islam, ulama, dan umat.

Kelompok yang menamakan diri sebagai Islam muncul dengan ideologi dan pemikirannya. Mereka saling menuding Islamku yang benar, Islam Anda yang salah. Pertanyaannya, siapa yang Islam di antara Islam? Perlu kita ketahui, Iman dan Islam itu bukan seperti ayam jago aduan, yang bisa seenaknya kita adu. Lantas kita sekonyong-konyong menuding “aku Islam sejati” dan “dia keluar dari Islam”. Pernyataan-pernyataan seperti itu akan menambah masalah. 

Islam seharusnya jangan hanya dipahami sebagai sekumpulan hukum, peraturan dan tatanan. Islam juga harus dipahami sebagai pengenalan akal terhadap hakikat alam semesta, manusia, kehidupan, dan jati diri manusia sebagai hamba dan milik Allah semata. Artinya, Islam yang terbebas dari belenggu kebodohan dan kuasa hawa nafsu. 

Seperti yang pernah dikatakan Dr. Muhammad Sa’id Ramadan Al-Buti dalam dialognya bersama Dr. Tayyib Tizini, “Coba kita berkaca pada kandungan surat-surat Makkiyah yang diturunkan kepada Rasulullah sebelum beliau Hijrah. Surat-surat Makkiyah tidak lebih daripada menggugah akal dan mengarahkannya pada kebenaran ilmu pengetahuan, mendidik jiwa dengan membangkitkan rasa takut melakukan keburukan, mengaitkan nikmat dengan Sang Pemberi Nikmat, menghubungkan fenomena-fenomena alam semesta dengan Sang Pencipta Alam, dan menyalakan rasa cinta pada diri manusia terhadap Dzat yang Paling Patut untuk Dicinta—untuk mendorong perilaku-perilaku baik, kemuliaan, dan keluhuran.”

Beranjak dari itu, rentetan fenomena yang terjadi membuat kabur pula makna ulama secara sosial, siapa yang ulama di antara ulama? Peristiwa ini seperti judul sinetron, “Ulamaku bukan Ulamamu, Ulamamu bukan Ulamaku.” Saya teringat masa-masa Muslim Cyber Army (MCA) tertangkap, di situ banyak menyatakan, dibentuknya MCA untuk membentengi ulama/melindungi ulama. Tapi anehnya, ketika menyebarkan berita, unggahan gambar (meme), dan sebagainya, dengan memunculkan ulama tertentu (dari kelompok tertentu) hal tersebut dianggap biasa-biasa saja, dan dianggap tidak melecehkan ulama. Kenapa harus tebang pilih, padahal semua ulama adalah ahli waris Nabi (waratsatul anbiya’). Banyak hikmah yang bisa kita ambil dari mereka dan banyak ilmu yang bisa kita dapatkan. 

Dari semua wacana di atas—yang terkena imbas akibat situasi ini adalah umat, umat terombang-ambing, harus menjadi apa dan harus seperti apakah mereka? Tetapi banyak juga umat yang terjebak kegelapan dan kekalapan pikiran. Kita bisa tengok bagaimana pertarungan dan perdebatan bodoh di Medsos. Sebenarnya apa yang melatarbelakangi ini terjadi? Apakah menjamurnya gerakan fundamentalisme agama belakang ini yang membuat sikap-sikap agama kebanyakan orang menjadi berubah?

Kalau berkaca pada apa yang pernah dikatakan Samuel P. Huntington dalam kajian benturan peradabannya, menyatakan, “tatanan dunia mendatang (sekarang) akan melahirkan peradaban yang lahir dari ekspresi nilai-nilai tertinggi tradisi agama. Retorika fundamentalisme, bagi Huntington, merupakan kemunculan yang susah dihindari dari peradaban berbasis agama.”

Retorika fundamentalisme/retorika islamisme merupakan tantangan terbesar bagi perkembangan kedewasaan umat Islam di Indonesia. Menyitir Woodward, “Islam politik di Indonesia memiliki pandangan konspirasional mengenai politik global. Wacana menuding barat, Yahudi, Kristen, liberal, dan sebagainya.” Menjadi pemandangan lumrah dalam acara-acara keagamaan—didukung dengan menguatnya politik identitas akhir-akhir ini. 

Karena itu, cita-cita seperti khilafah, Indonesia bersyariah, dan pemurnian Islam diyakini sebagai solusi jitu menyelamatkan bangsa ini dari seluruh gemuruh masalah, hukum, ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Dari dinamika tersebut, terjadi tarik-menarik kepentingan terhadap agama, ulama, dan umat—Islam seakan-akan terpojokkan oleh situasi cengkraman dunia yang ingin membrangusnya. Dr. Muhammad Sa’id Ramadan al-Buti bertanya, apakah berbagai tantang sebagaimana dikeluhkan oleh beberapa kalangan kaum muslimin ini sudah mencapai sepersepuluh dari tantangan yang dialami oleh kaum muslimin pada periode awal? Coba Anda renungkan.

Yang pasti, sekarang ini—jarak sosial, pergaulan, dan pemikiran di antara umat Islam di Indonesia semakin melebar. Setiap golongan mengerutkan dahi terhadap golongan lainnya, dan retorika fundamentalisme selalu mengajak kita untuk mengikuti arus pencerahan yang mereka sebarkan (menurut kriteria mereka sendiri yang lebih menyerupai kapak jagal). 

Saya tutup tulisan ini dengan kutipan dari Mun’in Sirry dalam bukunya Membendung Militansi Agama, ia mengajak kita melakukan refleksi, kenapa ketika agama terbuka untuk dijadikan kendaraan politik justru banyak menimbulkan konflik, kekerasan, dan keributan? Mun’in Sirry melanjutkan dengan mengutip buku Al-Islam Al-Siyasi (Islam Politik) ditulis oleh Asymawi, seorang intelektual Mesir, “Islam sesungguhnya diturunkan sebagai agama, namun sebagian umat Muslim menyeretnya sebagai politik. Sebagai agama, Islam tampil dalam wajahnya yang humanis, menjungjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan menjadi perekat perpecahan primordial. Namun, sebagai politik Islam justru menjadi variabel pembeda dan tak jarang mendorong konflik.”


Penulis adalah Pengelola Website www.tangga.id