::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Waskita Santri dalam Sebuah Kitab

Selasa, 10 Juli 2018 15:39 Pustaka

Bagikan

Waskita Santri dalam Sebuah Kitab
Penempaan hidup komprehensif yang dihadapi dan dilakukan oleh santri di pondok pesantren turut membentuk karakter, akhlak, kelimuan, bahkan kebudayaan dan peradaban yang mengakar luas dan menyatu dengan pilar-pilar kehidupan masyarakat. Hal ini tidak terlepas dari peran keagamaan dan peran sosial para kiai, sosok panutan dan samudera ilmu sumber para santri berproses penuh ketekunan di pondok pesantren sehingga berdampak luas dalam diri kehidupan para santri.

Tradisi keilmuan seorang kiai yang diserap oleh santri tidak hanya untuk mengisi aspek eksoteris saja, tetapi aspek esoteris atau batin di mana santri diajarkan untuk peka dan tajam dalam melihat dan memahami realitas kehidupan di tengah masyarakat. Inilah yang disebut kewakitaan. Kewaskitaan nyata terlihat dalam diri seorang santri bernama Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Tidak sedikit orang yang menilai, Gus Dur merupakan sosok yang mampu weruh sadurunge winarah (mengetahui sebelum sesuatu terjadi).

Proses belajar tersebut merupakan tempaan lahir dan batin yang didapat santri dari para guru dan kiainya di pesantren. Bahkan, lewat tempaan yang beradab, santri mampu menciptakan dan mengembangkan peradaban lewat keahlian-keahlian di berbagai bidang. Mindset masyarakat yang menilai santri hanya paham ilmu agama terbantahkan dengan kiprah luas di segala lini kehidupan pada era milenial saat ini.

Kewaskitaan ini perlu diperluas melalui literasi sehingga memunculkan inspirasi bagi generasi masa depan melalui pengalaman dan cerita-cerita berharga saat nyantri dulu. Buku Kitab Santri: Antologi Pengalaman dan Pendidikan Moral di Pesantren yang penyusunannya diinisiasi Pusat Studi Pesantren (PSP) Jawa Timur merupakan salah satu upaya menebar kewaskitaan melalui pojok-pojok kehidupan pesantren. Ada sekitar 57 santri dalam buku ini yang melakukan ‘jihad’ literasi untuk membangun budaya, peradaban, kearifan (wisdom) lewat kisah kehidupan sehari di pesantren.

Buku ini semacam penggalian mutiara-mutiara terpendam di berbagai ruang dan pojok-pojok pesantren, memotret pengalaman pribadi, membaca santri yang telah berkiprah luas di tengah masyarakat, bahkan kontekstualisasi kehidupan santri ketika dihadapkan oleh pesatnya era teknologi digital. Budaya literasi di pesantren menjadi modal dan bekal penting santri menghadapi perkembangan zaman.

Sebab itu, santri tidak pernah gagap ketika ‘tsunami’ informasi memabanjiri jagat dunia maya. Santri tidak mudah termakan hoaks (berita palsu) karena budaya literasi yang kokoh telah terbangun. Benteng santri dalam menghadapi derasnya arus informasi juga terjaga dengan lekatnya budaya tabayun yang didapat di pesantren. Mereka tidak begitu saja terpengaruh polemik, lalu melakukan justifikasi buta terhadap sebuah kontroversi yang muncul.

Ngaji dengan sistem sorogan turut menciptakan budaya tabayun ini. Dalam sistem tersebut, selain mengonfirmasi keterangan-keterangan atau catatan-catatan (ngapsahi) kiainya saat membahas sebuah kitab dengan cara membaca ulang, santri juga mempunyai ruang diskusi dan bertanya kepada kiai soal tema yang dibahas. Bahkan santri melakukan kontekstualisasi mengenai persoalan kehidupan sehari-hari terkait tema yang sedang dibahas.

Pengalaman di Pesantren Sarang

Pemandangan yang sangat arif dan waskita mengenai kehidupan para santri penulis rasakan sendiri ketika sowan ke ndalem sesepuh NU, KH Maimoen Zubair di Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah awal tahun 2017 lalu. Sambil menunggu ulama yang dikenal wara’ ini, penulis mencoba menyusuri beberapa pojok pesantren. Di dalam salah satu pesantren tua di Jawa ini, terlihat santri sedang mengisi waktu dengan berbagai cara.

Pemandangan yang cukup unik dan menggelitik saat itu ketika penulis melihat beberapa santri sedang muthola’ah kitab kuning di depan kamarnya di lantai dua layaknya sebuah balkon rumah. Saking khusyunya, mereka sampai tertidur dengan posisi terduduk, ada juga yang dalam posisi berbaring. Mereka tertidur bukan di lantai, tetapi di sebuah kayu yang menjadi pembatas kamar. Mereka tidak khawatir terjatuh seperti ada kekuatan batin yang mengaitkan mereka untuk tetap pada ‘tempat’ tidurnya itu.

Penulis sebelumnya tetap khidmat menunggu Mbah Maimoen karena terlebih dahulu harus mengimami shalat dzuhur berjamaah bersama santri Sarang. Usia Mbah Maimoen yang telah mencapai 90 tahun itu masih tegar setiap hari memimpin shalat berjamaah di pesantrennya.

Kemurnian para santri dalam mengabdi dan menimba ilmu kepada Mbah Maimoen tak pernah surut. Bagi mereka, suatu kebahagiaan dan keberkahan tak ternilai bisa menggandeng kiai sepuh setiap hari menuju masjid tempat shalat.
 
Sementara santri lainnya nampak membetulkan arah sandal Mbah Maimoen agar beliau tidak terlalu sulit memakai sandal ketika keluar masjid. Di sejumlah pesantren, perilaku santri membetulkan sandal agar siap pakai memang bukan hal baru. Bahkan para santri sering melakukan tradisi tersebut ketika kiainya didatangi para tamu. 

Ketika Mbah Maimoen keluar masjid selesai mengimami shalat, salah seorang santri bahkan secepat kilat datang di hadapan Mbah Maimoen untuk memakaikan sandal di kakinya. Dari pemandangan tersebut, nampak jelas pesantren tidak hanya berisi samudera ilmu, tetapi juga penuh dengan gunungan akhlak mulia yang tertanam begitu dalam pada diri para santri.

Tak lama setelah itu, penulis dan rombongan diterima Mbah Maimoen di ruang tamu. Selain rombongan dari Jakarta, ada  juga tamu yang datang dari Tuban. Sebelum Mbah Maimoen berujar, para tamu tidak ada yang berani mendahului untuk membuka dan memulai pembicaraan.

Penulis saat itu memang mempunyai niat menggali khazanah keilmuan Islam Nusantara dan wawasan kebangsaan dari Mbah Maimoen Zubari yang juga salah seorang santri Hadlratussyekh KH Hasyim Asy’ari tersebut. Niat tersebut tidak lain untuk memperkokoh sanad dan geneologi keilmuan langsung dari Mbah Maimoen.

Setelah sekian menit dalam keheningan, Mbah Maimoen masih terang dalam berujar dan penuh dengan humor dalam sejumlah kalimat dan penuturannya. Para tamu yang tadinya agak sedikit kikuk seketika langsung mencair melihat senyum dan tawa Mbah Maimoen yang khas. 

Dalam persoalan menimba ilmu, Mbah Maimoen menyatakan bahwa ilmu itu harus didatangi oleh manusia, karena ia tidak mendatangi. Sebab itu, santri yang belajar di pesantren atau siapa pun yang berniat mencari dan memperdalam ilmu merupakan hal yang mulia. Apalagi sekaligus menelusuri sanadnya sehingga ilmu itu nyambung hingga ke pucuk sumber yang shahih, yaitu Nabi Muhammad.

Al-ilmu yu'ta wa la ya'tii. Ilmu itu didatangi bukan mendatangi dirimu,” tutur Mbah Maimoen Zubair dengan penuh kehikmatan menerangkan kepada para tamu. Kiai kelahiran Rembang, 28 Oktober 1928 silam itu mengumpamakan air di dalam sumur yang harus ditimba. “Sebagaimana kita menginginkan air di dalam sumur, kita harus menimbanya,” ujar Mbah Maimoen.

Tak hanya terkait esensi ilmu yang harus ditimba manusia secara terus menerus, tetapi juga berbagai persoalan bangsa maupun penjelasan sejarah meluncur deras dari mulutnya sehingga para tamu nampak makin khidmat dalam menyimak paparan-paparan Mbah Maimoen.

Terkait dengan persoalan kebangsaan dan politik yang terus mengalami turbulensi, Mbah Maimoen berpesan agar tidak semua orang ikut larut dalam permasalahan sehingga melupakan tugas terdekatnya sebagai manusia. Hal ini akan berdampak pada ketidakseimbangan hidup dan kehidupan itu sendiri. 

Mbah Maimoen juga berpesan kepada santri dan seluruh masyarakat Indonesia pada umumnya untuk menjaga tali silaturahim, utamanya kepada guru-guru dan kiai-kiai sepuh dalam menyikapi setiap persoalan bangsa maupun konflik yang sering terjadi di tubuh organisasi. 

Marwah kiai dan pesantren merupakan ruh di tubuh organisasi seperti NU. Sehingga setiap persoalan yang datang di tubuh NU, hendaknya diselesaikan dengan musyawarah dan disowankan terlebih dahulu kepada para kiai sepuh yang tentu pandangannya lebih luas, arif, waskita.

Alakullihal, pengalaman di Pesantren Sarang tersebut penulis sampaikan untuk melengkapi riwayat-riwayat para santri dalam buku Kitab Santri yang berisi kisah-kisah penuh waskita dan kebijaksanaan. Dari buku ini, santri didorong untuk terus mengembangkan budaya literasi untuk kehidupan yang lebih baik. Karena santri mempunyai pondasi kelimuan kokoh yang harus disebarkan menjadi sebuah inspirasi. Wallahu’alam bisshowab.

Identitas buku:
Judul: Kitab Santri: Antologi Pengalaman dan Pendidikan Moral di Pesantren
Penyunting: Ahmad Tohe
Penerbit: Halaqah Literasi, PSP Jawa Timur
Cetakan: I, Mei 2018 
Tebal: xviii + 327 halaman
Peresensi: Fathoni Ahmad