::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Wali Songo dan Spirit Dakwah Generasi Milenial

Rabu, 11 Juli 2018 04:00 Opini

Bagikan

Wali Songo dan Spirit Dakwah Generasi Milenial
Oleh : Ahmad Yahya

Di era modern ini, banyak orang terpengaruh dengan ideologi kapitalisme, hedonisme, dan radikal. Jarang sekali orang yang datang ke majelis ilmu untuk belajar dan menimba ilmu agama melalui seorang guru maupun ulama. Semua ilmu dan informasi didapatkan secara instan dan cepat, sehingga banyak sekali orang menggunakan ilmu tanpa dasar agama yang kuat. Akibatnya paham-paham kapitalis, hedonis dan radikalisme semakin menguat dan menyentuh sampai akar hati manusia. 

Generasi milenial saat ini menyita perhatian semua kalangan. Mereka sering menjadi perbincangan dalam segala aspek, baik dari segi pendidikan, norma-norma, kesadaran sosial, kondisi mental, termasuk ketergantungan terhadap penggunaan tekhnologi. Hal ini dikarenakan perubahan cara hidup yang mencolok dengan generasi sebelumnya. Perubahan yang sangat dominan ini menyebabkan lahirnya sikap, ideologi, dan paham yang sangat berbeda dengan generasi-generasi terdahulu. Generasi milenial dianggap sebagai pembawa nilai-nilai negatif karena pengaruh yang dikonsumsi dari luar.

Wali Songo bisa menjadi spirit dan ruh dakwah kepada generasi milenial untuk senantiasa diteladani dan digunakan pada era dakwah kekinian. Sepanjang sejarah, salah satu dakwah yang dianggap paling sukses adalah dakwah yang dilakukan oleh Wali Songo. Para wali tersebut mampu mengislamkan sepanjang pesisir utara pantai jawa dalam kurun waktu yang kurang dari lima puluh tahun. Bagaimana itu bisa? Metode dakwah yang dipakai Wali Songo dalam mengajak masyarakat untuk menyembah Allah bukanlah menjadi suatu rahasia. Mereka berdakwah tanpa merombak total tradisi yang sudah mengakar di masyarakat. 

Tentunya apa yang dilakukan Wali Songo itu merupakan sebuah pencapaian yang sangat luar biasa mengingatkan waktu itu sarana dan prasarana untuk dakwah sangat terbatas. Wali Songo berdakwah dengan cara-cara yang kreatif, inovatif, dan responsif terhadap permasalahan yang ada di tengah-tengah ummat. Itulah esensi yang perlu ditiru dan terus dikembangkan untuk kemajuan dakwah. Menurut KH A Mustafa Bisri, "Dalam mengajak kebaikan, bersikap keraslah kepada diri sendiri dan lemah lembutlah kepada orang lain. Jangan sebaliknya."
 
Tidak dapat dipungkiri, teknologi informasi bisa dimanfaatkan sebagai ajang dakwah secara nyata dan memberikan penyejuk manakala isi dakwah yang disampaikan ke publik dapat dipertanggungjawabkan, dikelola secara efektif dan maksimal. Informasi lagi bukan lagi soal. Sekarang, orang dengan mudahnya bisa menyampaikan dan menerima informasi dari tempat yang paling jauh sekalipun. Bisa dikata, era revolusi informasi bisa melipat jarak dan waktu.

Seiring dengan kecenderungan masyarakat tersebut, maka pemuka agama, ulama, akademisi serta elemen pendukung lainnya dalam berdakwah juga harus terus berbenah diri agar apa yang disampaikan bisa tepat sasaran dan memiliki jangkauan yang luas. Dakwah tidak cukup hanya dilaksanakan di dalam pertemuan-pertemuan secara langsung saja seperti pengajian, majelis taklim, dan lain sebagainya. Akan tetapi, dakwah juga harus masuk ke dalam dunia maya, utamanya media sosial, tempat dimana masyarakat mencari dan membagi informasi kepada siapapun.  

Setidaknya ada tiga hal yang perlu diperhatikan saat berdakwah di media sosial. Pertama, konten harus bermanfaat dan menunjukkan Islam yang damai. Kedua, mengemas dengan menarik. Ketiga, responsif atau menyesuaikan dengan tren. Beberapa tahun terakhir ini, kelompok Islam radikal-ekstremis, dan kelompok tekstualis memanfaatkan betul dakwah dengan media sosial ini. Mereka menyerbu dan memenuhi wacana dan konten keislaman di dunia maya. Ini yang menjadi salah satu penyebab keberislaman masyarakat kita menjadi kaku, hitam-putih, dan halal haram. 

Esensi dakwah sebagaimana firman Allah SWT QS Al Anfal ayat 24, "Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasulnya menyeru kamu pada suatu yang menghidupkan kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan." Ayat ini menggambarkan dakwah sebagai sesuatu yang menghidupkan, atau membuat hidup jadi bermakna. Esensi dakwah adalah bagaimana mengantarkan manusia menemui kebahagiaan hidup dunia dan akhirat. 

Islam sebagai agama rahmatallil ‘alamin tidak pernah membelenggu umat Islam untuk maju. Islam datang seperti cahaya disaat kegelapan meliputi semesta. Islam tidak pernah membelenggu kreativitas manusia saat ini. Islam hanya memberikan rambu-rambu yang jelas tentang sebuah perkara supaya tidak salah dalam menyikapinya. Islam memandang semua manusia memiliki posisi yang sama, hanya ketaqwaa yang menjadi pembedanya. Wallahu A’lam.

Penulis adalah Aktivis IMAN Institute, Alumni Sekolah Jurnalistik PWI Jateng. Tinggal di Kota Semarang.