::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Pembenci Islam Nusantara Copy Paste Masa Lalu

Rabu, 11 Juli 2018 07:00 Esai

Bagikan

Pembenci Islam Nusantara Copy Paste Masa Lalu
Oleh Abdullah Alawi

Beberapa bulan sebelum puasa tahun ini, saya menyaksikan sendiri peneliti Jepang mewawancarai Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin di Pojok Gus Dur, lantai dasar PBNU, Jakarta. Dia bertanya tentang tawasul sebagai salah satu praktik warga NU atau Islam Nusantara. 

Masya Allah, peneliti yang profesor itu kebingungan bukan main memahaminya. Kalau tidak banyak orang di situ, mungkin membentur-benturkan kepalanya ke tembok. Namun, karena sikap semacam itu tak elok dilakukan seorang profesor jenis apa pun, apalagi dari negara maju, dia hanya meringis dan mengerenyitkan kening seperti orang menahan buang hajat berbulan-bulan. 

Berkali-kali dia bertanya sambil mencatat. Bertanya, mencatat. Bekali-kali pula Kiai Ishom menjelaskan dengan berbagai tamsil dan dalil. 

Entahlah waktu itu dia pada akhirnya memahami atau tidak. Saya tidak bertanya, dia tidak memberitahukan pemahaman yang diserapnya. Mudah-mudahan saja ia paham. Kalupun tidak, mudah-mudahan tidak seperti orang Indonesia yang menafsirkan sendiri, menyimpulkan sendiri, lalu menyalahkannya.

Wajar mungkin sang profesor sempoyongan memahami tawasul karena terbentur cara berpikir berlainan. Butuh beberapa waktu untuk memahaminya seperti yang dimaksud dalam pemahaman orang NU sendiri. 

Itu Islam Nusantara dalam salah satu praktiknya. Lalu bagaimana dengan organisasinya, Nahdlatul Ulama?  

Sekitar tahun 1971, KH Saifuddin Zuhri menceritakan dalam satu tulisannya tentang KH Wahab Hasbullah, ada peneliti Amerika Serikat bernama Allan Samson yang meneliti NU selama 6 bulan. Ia mengeluh, ternyata kesimpulannya salah. Ia juga mengeluh ternyata banyak peneliti lain yang salah baca. Namanya salah baca, tentu saja salah juga dalam mengambil kesimpulan, bukan?    

Menurut Kiai Saifuddin, 6 bulan itu tak seberapa. Ada pempimpin-pemimpin besar orang Indonesia sendiri selama 40 tahun bergaul dengan NU, tapi tetap saja mengambil kesimpulan salah. Mereka sukar memahaminya atau memang tak mau paham.

Jadi, biasa saja orang mengambil kesimpulan salah terhadap NU. Karena memang dari sananya sudah begitu jejaknya. Jika hari ini banyak orang yang mempertanyakan tentang Islam Nusantara dengan cibiran dan menyalahkan, gen mereka sudah ada sejak masa lalu. Bibitnya selalu diternak. 

Tariklah ke masa yang lebih jauh, pada masa awal NU berdiri, 1926. Sekelompok kiai pesantren dari desa tiba-tiba membikin organisasi. Tidak bergemuruh. Lalu, dalam statutennya (AD/ART), mereka mencantumkan sebagai kelompok bermazhab kepada salah satu imam mazhab empat. 

Waktu itu, statuten demikian lain dari yang lain tentunya lantaran sedang bergemuruh semangatnya Islam pembaruan, kembali kepada Al-Qur’an dan hadits. Buat apa mazhab-mazhaban. Umat Islam harusnya mengambil hukum dari sumbernya langsung. Sikap bermazhab (mereka menyebutnya taqlid buta, padahal istilah itu tidak ada di NU) adalah lambang kejumudan yang mengakibatkan berlangsungnya penjajahan. 

Mereka mungkin lupa Pangeran Diponegoro yang berusaha mengusir penjajah pada 1825-1830, pemberontakan rakyat Banten dan lain-lain, dilakukan kelompok bermazhab.  Atau mungkin pura-pura lupa dan tak membaca sejarah. 

Menurut Kiai Saifuddin pada Secercah Dakwah (1984), kelompok yang demikian tidak kritis terhadap Muhammad Abduh yang membelokkan pisau analisisnya terhadap kesewenang-wenangan kolonialisme Barat, lalu berbalik menggunakan pisaunya menguliti dunia Islam sendiri, terutama terhadap para ulama. 

Pada saat yang sama, mereka lupa ada yang lebih penting dari itu, menggalang persatuan umat Islam. Menyalahkan umat Islam sendiri dalam hal furu’iyah, justru akan melanggengkan penjajahan. 

Kelompok tersebut, di Indonesia (dulu Hindia Belanda) mengarahkan pisaunya ke kiai-kiai pesantren yang kemudian mendirikan NU. Sebagai kiai pesantren, Kiai Wahab tampil membela sembari “merayu” Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari untuk mendirikan sebuah organisasi kelompok bermazhab. Namun tak direstui hingga 10 tahun. Menurut Kiai Wahab, seandainya Hadratussyekh tidak merestui, ada dua pilihan baginya. Pertama, masuk menjadi anggota organisasi mereka dan bertempur tiap hari dengan mereka untuk membela kalangan pesantren. Kedua, kembali ke pesantren, menutup rapat-rapat dengan informasi dunia luar. Ia hanya mengajar santri. Beruntunglah Hadaratussyekh kemudian merestui. 

Sekali lagi, jika hari ini ada kelompok yang menyalahkan NU yang tidak bersifat prinsipil, mereka adalah copy paste dari kelompok masa lalu yang salah baca. Namanya salah baca, sekali lagi, akan salah mengambil kesimpulan. 

Dalam Secercah Dakwah, Kiai Saifuddin mengutip pendapat Dr. Alfian dari Universitas Indonesia. Kesalahan baca tersebut bersumber dari sikap arogansi, angkuh, karena tidak puas dengan kesangsian menghadapi kebenaran. 

Namun, NU membuktikan dari waktu ke waktu tetap berjalan, lolos melewati berbagai tantangan situasi. Yakinlah, copy paste masa lalu itu akan bisa dihadapi pula oleh NU hari ini.